Gentra.id– Publik mengenal Hindia karena gaya bermusiknya yang eksperimental. Serta mereka sering menyoroti keberaniannya dalam mengangkat isu-isu sosial melalui lirik-lirik tajam. Salah satu karyanya yang kini menjadi perbincangan publik adalah lagu “Matahari Tenggelam” — terutama menjelang konsernya di Tasikmalaya yang menuai kontroversi.
Siapa Hindia dan Apa yang Terjadi di Tasikmalaya?
Hindia adalah nama panggung dari Baskara Putra. Hindia lahir pada 22 Februari 1994 dan mulai dikenal sebagai vokalis band Feast sejak 2012. Sejak 2019, ia memulai perjalanan solonya dengan merilis karya-karya yang kerap menyentuh tema sosial, keresahan, dan kejujuran personal.
Kini, Hindia tengah menjadi sorotan di Kota Tasikmalaya. Penyelenggara menjadwalkan konser tersebut di Lapangan Lanud Wiradinata pada Sabtu–Minggu, 19–20 Juli 2025. Mereka mengumumkan bahwa tiket konser telah terjual sebanyak 6.600 lembar. Namun, kehadiran konser ini memicu protes dari beberapa ormas Islam. Sejumlah pihak menuduh Hindia menggunakan simbol-simbol kontroversial seperti ajaran satanik dan illuminati, serta menulis lirik lagu yang mereka anggap meresahkan.
Apa Makna Lagu “Matahari Tenggelam”?
Lagu “Matahari Tenggelam” menyampaikan keluhan dari pihak yang tertindas kepada mereka yang berkuasa. Beberapa penggalan lirik yang memperlihatkan pesan ini antara lain:
- “Hak Suaraku ‘kan Kau Anggap Responsif / Menahan Diri Dianggap Lemah”
Seseorang merasa frustrasi karena orang lain mengabaikan suaranya. Bahkan saat ia mencoba menahan diri, mereka justru menganggapnya lemah. - “Karena Kau Tak Pernah Merasakannya / Aman, Duduk Manis, Hanya Tertawa”
Sebuah kritik terhadap ketimpangan sosial. Mereka yang hidup dalam kenyamanan sering kali tak memahami atau peduli terhadap penderitaan orang lain.
Hindia menyampaikannya dengan bahasa yang emosional dan puitis — ciri khas dalam banyak karyanya.
Momen Awal Kontroversi Konser Hindia
Kontroversi bermula dari konser Tour Lagi Pula Hidup Akan Berakhir (LHAB) di Jakarta pada 30 September 2023. Saat membawakan lagu “Matahari Tenggelam”, Hindia meminta penonton menutup mata menggunakan kain. Ketika penonton membuka kain penutup mata, panitia konser menayangkan visual berupa patung bersayap dan simbol “mata satu” di layar. Sebagian orang kemudian mengaitkan simbol itu dengan lambang Baphomet atau illuminati yang mereka hubungkan dengan satanisme.
Interpretasi ini menyebar ke berbagai daerah, termasuk Tasikmalaya. Masyarakat mulai mengkhawatirkan kemungkinan adanya unsur yang mereka anggap sesat atau menyimpang dalam konser tersebut. Seniman kerap menggunakan simbol dan visual dengan berbagai makna, tanpa selalu bermaksud menyampaikannya sebagai seruan ideologis.
Menelaah Frasa Kontroversial: “Ku Doakan Semuanya Masuk Neraka”
Salah satu lirik yang paling memicu perdebatan adalah baris: “Ku doakan semuanya masuk neraka.” Kalimat tersebut lahir dari emosi yang sangat intens — bukan sekadar kemarahan biasa. Seseorang meluapkan emosinya karena merasa putus asa, dikhianati, ditinggalkan, atau dikecewakan secara mendalam. Dalam konteks lagu, narator tampaknya sedang mengungkapkan luka dan kecewa terhadap lingkungan atau orang-orang yang seharusnya peduli, namun justru menyakitinya.
Penggunaan kata “doa” dalam frasa itu merupakan bentuk ironi. Ini bukan ajakan literal, melainkan sindiran terhadap budaya yang sering berpura-pura baik, namun menyimpan niat menyakitkan. Maka, narator “mendoakan” mereka secara sinis — seolah berkata: Jika kalian merasa begitu suci, semoga neraka justru jadi tempatmu.
Ungkapan tersebut lebih merupakan bentuk protes batin yang tajam daripada ajakan ideologis. Hindia tidak sedang menyebarkan kebencian. Melainkan menampilkan betapa dalam luka batin bisa mengubah bahkan sesuatu yang sakral — seperti doa — menjadi saluran kemarahan.
Apakah Ini Bentuk Ekspresi Seni atau Ajakan Sesat?
Polemik lirik ini membelah opini publik. Sebagian pihak menganggapnya sebagai bentuk seni yang jujur dan emosional. Sementara yang lain melihatnya sebagai ancaman terhadap nilai-nilai moral dan agama.
Dalam dunia seni, ekspresi emosi yang mentah bukanlah seruan ideologis, melainkan cermin dari realitas batin manusia. Dalam kasus Hindia, polemik justru mengajak kita untuk bertanya lebih dalam. Apakah kita masih bisa membedakan antara kritik sosial dan ajakan sesat? Atau, barangkali, kita terlalu takut melihat cermin yang memperlihatkan sisi gelap masyarakat yang selama ini kita tutupi?






