Gentra.id– Euforia konser hari ini begitu digandrungi oleh kalangan milenial dan Gen-Z. Namun, fenomena menarik muncul: sebagian generasi yang lebih tua, terutama baby boomers, menolak, bersikap skeptis, bahkan mengecam acara konser. Mereka kerap mempertanyakan esensi dan manfaat dari konser. Inilah yang memunculkan istilah Gap Generation, yaitu ketimpangan cara pandang antargenerasi terhadap hiburan dan ekspresi publik.
Boomers mengenal musik lewat radio, kaset, dan album fisik. Banyak dari mereka menganggap konser sebagai bentuk hedonisme dan kemerosotan moral. Mereka juga merasa cemas terhadap kebebasan berekspresi generasi muda. Ketika boomers mengejar stabilitas, milenial dan Gen-Z justru menginginkan fleksibilitas. Boomers menghargai kedudukan, sementara milenial dan Gen-Z menilai karya lebih penting.
Siapa Itu Gen-Boomers?
Generasi baby boomers lahir antara tahun 1946 hingga 1964, setelah Perang Dunia II ketika terjadi lonjakan angka kelahiran secara global. Di Indonesia, mereka tumbuh di era Orde Lama hingga Orde Baru. Mereka menyaksikan langsung pembangunan nasional, revolusi industri, serta kebangkitan ekonomi dan stabilitas politik.
Apa Itu Gap Generation?
Istilah ini menggambarkan kesenjangan nilai, pola pikir, dan gaya hidup antargenerasi. Terutama antara baby boomers dan generasi setelahnya: milenial dan Gen-Z. Ini bukan generasi baru, melainkan istilah untuk jurang kultural. Anatara mereka yang lahir di abad ke-20 dan yang tumbuh di era digital.
Masalahnya Bukan di Konser, Tapi di Kurangnya Dialog
Isu konser membuka jendela yang lebih besar. Antara masa lalu yang stabil dan masa kini yang cepat berubah. Antara nilai hemat dan pengalaman, serta antara ketakutan dan ekspresi. Boomers membentuk cara pandang yang terstruktur dan cenderung konservatif karena mereka hidup di masa pascaperang dan masa transisi pembangunan. Sementara itu, generasi sekarang tumbuh dalam dunia digital yang serba cepat. Mereka memiliki prioritas berbeda: ekspresi diri, fleksibilitas, dan keberagaman menjadi nilai utama.
Konflik dalam peristiwa konser sebenarnya hanya menjadi simbol dari persoalan yang lebih besar. Ketika satu pihak mengeluhkan norma dan syariat, pihak lain merasa dihakimi dan tidak diberi ruang untuk berekspresi. Situasi ini menunjukkan adanya benturan nilai yang belum pernah dibicarakan secara tuntas. Masalah utamanya bukan terletak pada musik atau lagu, tetapi pada ketimpangan pemahaman dan ketiadaan ruang dialog. Akibatnya, yang tumbuh bukan pengertian, melainkan prasangka.
Kita tidak bisa menyelesaikan masalah Gap Generation dengan menuntut pengertian secara sepihak. Hari ini, kita tidak butuh generasi yang paling keras bersuara, melainkan generasi yang bersedia membuka telinga. Gap antargenerasi seharusnya tidak menjadi penyebab perpecahan, melainkan peluang untuk membuka ruang percakapan. Yang kita perlukan adalah kesediaan untuk tidak merasa paling benar. Karena yang sering terjadi justru saling menghakimi, bukan berusaha saling memahami.
Jika kita ingin mengurangi ketegangan ini, maka pendekatannya bukan dengan melabeli atau saling menyalahkan. Daripada saling menyalahkan, lebih baik kita menjadikan konser sebagai titik temu baru. Tempat boomers bisa mendengar tanpa prasangka, dan tempat generasi muda bisa menyampaikan gagasannya dengan empati. Kita tidak membutuhkan debat keras, tetapi ruang dialog yang hangat dan saling menguatkan.






