Tasikmalaya, Gentra.id — Perayaan seratus tahun Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Tasikmalaya bukan hanya momentum pengukuhan sejarah, tetapi juga menjadi ajang evaluasi tantangan ideologis kontemporer, khususnya radikalisme yang merambah ruang digital.
Dalam momen Harlah NU ke-100, para tokoh menegaskan bahwa medan perjuangan organisasi Islam terbesar di Indonesia kini semakin kompleks.
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tasikmalaya, KH Dudu Rohman S.Ag., M.Si., menyampaikan bahwa sejak berdirinya pada tahun 1926, NU tumbuh bukan sebagai alat politik, melainkan sebagai penjaga agama dan bangsa. Dalam pidatonya ia menegaskan: “Sejak awal NU bukan untuk merebut kekuasaan, tapi menjaga agama dan membela bangsa. Itu khitah yang tidak boleh tergeser.” Ujar KH. Dudu saat malam puncak Harlah NU ke- 100 di Tasikmalaya Sabtu, 7/2/2026. Pernyataan ini menjadi landasan untuk menilai bagaimana organisasi harus berevolusi tanpa kehilangan jati diri saat menghadapi tantangan masa kini.
Menurut KH Dudu, radikalisme tetap menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai oleh komunitas keagamaan seperti NU, terutama karena bentuknya kini tidak lagi tradisional tetapi tersebar lewat platform digital yang cepat dan tanpa kontrol yang jelas. Ia menyoroti bahwa tantangan baru ini muncul bersamaan dengan arus digitalisasi: “Tantangan NU hari ini tidak ringan. Radikalisme masih nyata. Di sisi lain, digitalisasi dan budaya global berpotensi menggerus nilai din, akhlak, dan tradisi keilmuan.”jelasnya
Fenomena tersebut selaras dengan pemahaman bahwa algoritma dan konten viral bisa lebih berbahaya daripada senjata fisik jika tidak disikapi dengan literasi digital yang matang; hoaks, fatwa tanpa sanad, dan informasi simpang siur berpeluang menyebar lebih cepat daripada pengetahuan keagamaan yang sahih. Ini memperlihatkan betapa kontestasi ideologi saat ini tidak hanya terjadi di ruang fisik, tetapi juga di ruang maya, dan membutuhkan respons berbeda dari masa lalu.
Sejumlah kajian menunjukkan bahwa organisasi keagamaan di Indonesia perlu memperkuat literasi digital dan demokrasi untuk menangkal polarisasi dan ekstremisme di media sosial, karena kurangnya etika bermedia dapat memperburuk fragmentasi sosial dan membuka ruang bagi penyebaran ideologi radikal yang berpotensi memecah belah.
Selain isu radikalisme digital, KH Dudu menekankan bahwa arus globalisasi dan budaya digital memiliki potensi untuk menggerus nilai tradisional, akhlak, dan metode pendidikan keagamaan yang selama ini dijaga oleh NU. Ia menekankan bahwa NU harus memadukan hikmah tradisi dengan tuntutan zaman tanpa kehilangan substansi ajaran: “NU harus relevan. Tidak cukup menjaga tradisi, tapi juga memberi solusi nyata bagi umat.” ungkap KH Dudu
Permasalahan klasik seperti ketimpangan sosial, kemiskinan, dan kualitas sumber daya manusia (SDM) di masyarakat juga masih menjadi perhatian NU dalam menghadirkan kontribusi nyata. Hal ini menjadi pengingat bahwa perjuangan organisasi tidak hanya berkutat pada preservasi nilai, tetapi juga pada pemberdayaan sosial yang solutif.
Sebagai bagian dari respons terhadap tantangan era digital, NU di berbagai daerah termasuk Tasikmalaya terus mendorong kegiatan literasi digital secara intensif. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman generasi muda terhadap etika bermedia dan penggunaan teknologi secara bijak, sehingga risiko terpapar narasi radikal di internet dapat diminimalkan melalui kemampuan berpikir kritis yang lebih kuat.
Memasuki abad kedua, NU di Kota Tasikmalaya dipandang oleh kadernya sebagai titik awal perjuangan baru, bukan sekadar perayaan ulang tahun. Dengan fokus pada penguatan kader, peningkatan literasi keagamaan dan digital, serta pengembangan strategi respons terhadap tantangan ideologis kontemporer, NU berupaya memastikan perannya tetap relevan dalam menghadapi dinamika sosial masa kini dan masa depan.






