Gentra.id – Hujan baru saja reda ketika Akmal menepikan motornya di bawah lampu jalan yang berpendar kuning pucat. Jam menunjukkan pukul 21.00, dan jalanan di sekitar kawasan HZ Tasikmalaya masih menyisakan genangan dangkal yang memantulkan bayangan neon warung-warung kecil. Jaket ojol di punggungnya masih basah, menempel seperti beban yang tak hanya berasal dari air, tetapi juga dari hari-hari yang kian berat.
“Saya baru selesai narik dua orderan,” ujarnya sambil mengusap helm yang basah. “Malam masih panjang.”
Akmal, mahasiswa semester lima di Universitas Perjuangan, sudah dua semester terakhir menjadi pengemudi ojek online. Awalnya hanya untuk membantu uang makan. Belakangan, pekerjaan itu berubah jadi kebutuhan pokok sebab UKT yang mahal membuat beban hidupnya tak lagi bisa ditutup oleh kiriman orang tua.
Malam sebagai Ruang Nafas, Bukan Istirahat
Bagi banyak mahasiswa, malam adalah waktu beristirahat, membaca, atau sekadar menjernihkan pikiran. Namun bagi Akmal, malam justru adalah “ruang nafas” yang harus ia kejar sebelum terputus oleh kenyataan.
“Kalau narik siang, bentrok sama kuliah. Malam yang paling mungkin,” katanya. Mata Akmal tampak merah, mungkin akibat udara dingin atau kantuk yang ia paksa hilang. Di layar ponselnya, notifikasi order masih muncul sesekali dia mengabaikannya sebentar demi menghabiskan seteguk kopi sachet dari warung pinggir jalan.
Di sekitar kampus, mahasiswa lain pulang membawa buku atau sebungkus makanan. Akmal pulang dengan sisa-sisa tenaga.
UKT Mahal dan Tekanan yang Tak Terlihat
Akmal bercerita bahwa ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan, ibunya membuka warung kecil di rumah. Pendapatan keluarga mereka tak menentu. biaya UKT yg mahal dan beberapa beberapa biaya semester terakhir membuat mereka hampir memutuskan Akmal cuti, tapi Akmal menolak.
“Kalau saya berhenti, saya nggak tau kapan bisa mulai lagi,” katanya lirih.
UKT yang baginya “sepertinya kecil bagi orang lain” adalah angka yang bisa memutus masa depan sebuah keluarga. Setiap kali melihat tagihan semesteran, Akmal merasakan seolah ada yang menekan dadanya.
“Nyari uang malam hari itu bukan pilihan keren. Itu pilihan yang nggak ada pilihan lain.”
Kejar Order, Kejar Mimpi
Malam itu, setelah hujan reda, jalanan tampak lebih lengang. Dari jauh terlihat sepeda motor lain melaju cepat, lampunya memantul di aspal basah. Akmal menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil.
“Kalau lagi capek, saya suka ngebayangin nanti kerja di tempat bagus. Bukan narik hujan-hujanan gini,” ujarnya.
Namun ia paham mimpi tidak datang cuma dengan angan. Ia harus menjemput mimpi itu di antara riuh hujan, dinginnya angin malam, dan notifikasi yang terus muncul.
“Kuliah tetap kuliah. Narik tetap narik. Kalau ada waktu tidur, ya syukur.”
Ketika jarum jam mendekati pukul 22.00, Akmal memasang helm lagi. Hujan benar-benar berhenti. Genangan masih terhampar di pinggir jalan, tapi udara sudah lebih bersih.
Di bawah lampu jalan yang redup itu, Akmal kembali menyalakan aplikasinya. Orderan masuk.
“Ini satu lagi sebelum pulang,” katanya.
Ia menyalakan mesin motornya. Suaranya menggema di udara malam Tasikmalaya yang dingin. Dalam gelap yang samar, siluetnya perlahan menghilang di tikungan, seolah menyatu dengan cerita banyak mahasiswa lain yang diam-diam bekerja, diam-diam berjuang, dan diam-diam menanggung tekanan hidup yang terlalu besar untuk usia mereka.
Di kampus, angka UKT hanya terlihat sebagai nominal.
Di jalanan malam setelah hujan, angka itu berubah menjadi perjalanan panjang yang harus ditempuh Akmal. Satu order, satu kilometer, satu nafas, satu semester dalam satu waktu.






