POV Gen Z Tingkat Akhir Tentang Arti Someone to Talk

Jumat, 31 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

i

Ilustrasi

Gentra.id – Di balik layar laptop yang terus menyala hingga larut malam, ada banyak mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang dalam sunyi. Mereka menatap lembar skripsi yang belum selesai, menjawab pesan keluarga tentang “kapan wisuda?”.

Di fase ini, banyak hal terasa menumpuk. Tekanan akademik, kecemasan akan masa depan, beban ekspektasi, hingga perasaan tertinggal dari teman sebaya. Di tengah semua itu, mereka sering kali mencari seseorang yang mau mendengarkan “someone to talk” untuk menenangkan diri dan meyakinkan bahwa rasa ditemani serta dihargai masih ada, bukan sekadar mengharapkan solusi instan.

Bagi generasi Z, “someone to talk” bukan hanya teman untuk mengeluh. Ini tentang kebutuhan dasar akan koneksi manusia yang hangat dan jujur. Dalam budaya digital yang serba cepat, di mana setiap pencapaian terpampang di media sosial, banyak mahasiswa merasa tertekan untuk terlihat baik-baik saja.

Menurut psikolog klinis, kebiasaan menyimpan masalah tanpa tempat berbagi dapat memicu stres kronis, kelelahan mental, bahkan depresi. Mahasiswa tingkat akhir sering kali menjalani masa paling sunyi dalam perjalanan akademiknya. Tidak ada lagi orientasi, tidak banyak kegiatan kampus, dan lingkar pertemanan mulai tercerai karena kesibukan masing-masing.

Perspektif Mahasiswa Tingkat Akhir

Elsa,seorang mahasiswa tingkat akhir mengakui bahwa punya “someone to talk” itu bukan cuma penting, tapi vital.

“Menurut akuu, ini tuh penting banget. Dan someone-nya nggak harus pacar, ya. Kadang ngobrol sama sahabat atau orang tua aja udah bikin plong. Bisa cerita hal-hal kecil, ngeluh, atau sekadar nyampah isi kepala. Jadi, buat aku yang cukup ekspresif, ini semacam kebutuhan hidup” ujarnya.

Bagi Elsa, punya tempat aman untuk bercerita itu semacam charging station, tempat mengisi ulang energi setelah hari-hari yang berat.

“Rasanya kayak, ‘oh ternyata aku nggak sendiri.’ Dan itu priceless banget,” tambahnya.

Berbeda dengan Elsa, Nita punya pandangan yang lebih rasional soal “someone to talk”. Ia menegaskan bahwa seseorang tidak perlu mengungkapkan semua hal dalam bentuk curhat panjang.

“Kalau aku sih, lebih butuh seseorang buat ngasih saran yang logis. Aku nggak suka terlalu drama, lebih ke ‘aku harus gimana?’ daripada ‘kenapa aku kayak gini?’. Kadang satu kalimat nasihat aja bisa lebih menenangkan daripada cerita panjang yang nggak kelar-kelar,” ucapnya.

Sementara itu, Tiara Najem justru mengatakan bahwa ia terbiasa mengandalkan dirinya sendiri.

“Aku tuh tipe yang lebih sering nyelesain semuanya sendiri. Kalau ada masalah, ya aku pikirin dan atasi sendiri dulu. Jadi kadang nggak terlalu merasa butuh someone to talk, karena aku terbiasa jadi sandaran buat diri sendiri,” ujarnya.

Di sisi lain, Tiara juga mengakui bahwa sebagai manusia, ia terkadang membutuhkan seseorang sebagai tempat bercerita.

“Ada waktu di mana aku pengen juga cerita, cuma ya nggak semua orang bisa ngerti tanpa nge-judge. Jadi akhirnya balik lagi ke diri sendiri,” tambahnya.

Di sisi lain, Silvia memandang “someone to talk” sebagai hal yang sangat esensial dalam hidup, apapun bentuk hubungannya.

“Menurutku, setiap orang perlu punya seseorang yang bisa diajak bercerita entah itu pacar, sahabat, atau siapa pun yang bisa dipercaya. Kadang, cuma dengan ngomong aja, beban di kepala tuh bisa turun setengahnya. Dunia rasanya nggak seberat tadi,” ujarnya.

Bukan Sekadar Curhat, Tapi Tempat Menyandarkan Diri

Keempat pandangan itu menunjukkan bahwa kebutuhan akan “someone to talk” bersifat personal. Ada yang butuh ruang untuk meluapkan isi hati, ada yang mencari arah dan nasihat, dan ada pula yang memilih menyimpan segalanya dalam diri.

Pada akhirnya, “someone to talk” bukan hanya kebutuhan mahasiswa tingkat akhir. Di balik ambisi dan cita-citanya, setiap orang ingin orang lain mengerti dirinya. Dan untuk mahasiswa yang tengah berjuang menulis skripsi atau menata arah hidup, percayalah: tidak apa-apa untuk lelah, tidak apa-apa untuk bercerita.

Karena seseorang tidak harus melalui semua perjuangan sendirian; terkadang, mereka memulai langkah kecil menuju pemulihan dengan berani berkata, “boleh aku cerita?”

 

 

 

Follow WhatsApp Channel gentra.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswa Kesmas Unsil Luncurkan Program SIMAK TEPAT untuk Tekan Hipertensi di Sambongpari
Mahasiswa Universitas Siliwangi Gelar Aksi Pro-Sehat di Desa Cijulang, Dorong Masyarakat Terapkan Hidup Sehat dan Kendalikan  Hipertensi 
Tips Mengatasi Post Holiday Blues: Strategi Efektif Kembali Produktif Setelah Liburan
AI sebagai Alat Pelecehan: Maraknya Deepfake Pornografi di Media Sosial
“Segede Gaban” Itu Segede Apa sih?
Nyambi Jadi Ojol Cerita Mahasiswa yang Berkuliah Sambil Mengejar Nafas di Antara UKT Mahal
APM Perkuat Peran Siar Lewat Etika dan Literasi Media Bersama KPID Jabar
Inovasi Manajemen Mutu Halal Unsil Raih Prestasi Nasional

Berita Terkait

Selasa, 28 April 2026 - 12:15 WIB

Mahasiswa Kesmas Unsil Luncurkan Program SIMAK TEPAT untuk Tekan Hipertensi di Sambongpari

Sabtu, 18 April 2026 - 20:40 WIB

Mahasiswa Universitas Siliwangi Gelar Aksi Pro-Sehat di Desa Cijulang, Dorong Masyarakat Terapkan Hidup Sehat dan Kendalikan  Hipertensi 

Jumat, 27 Maret 2026 - 09:55 WIB

Tips Mengatasi Post Holiday Blues: Strategi Efektif Kembali Produktif Setelah Liburan

Senin, 19 Januari 2026 - 22:25 WIB

AI sebagai Alat Pelecehan: Maraknya Deepfake Pornografi di Media Sosial

Kamis, 15 Januari 2026 - 22:49 WIB

“Segede Gaban” Itu Segede Apa sih?

Berita Terbaru