Gentra.id– Di era digital, banyak masyarakat terutama gen z semakin membiasakan diri makan sambil menonton tayangan favorit melalui ponsel, mulai dari YouTube, film, hingga serial. Banyak orang memadukan dua aktivitas ini demi kenyamanan dan hiburan. Namun, kebiasaan tersebut memunculkan perdebatan di kalangan medis dan psikolog karena berpotensi memengaruhi kesehatan fisik dan mental.
Perbincangan publik menguat setelah akun TikTok @geraldvincentt menyebut kebutuhan tontonan saat makan meningkatkan risiko depresi hingga tiga kali lipat. Pernyataan ini memicu diskusi luas sekaligus mendorong penelusuran terhadap dasar ilmiah yang melatarbelakanginya.
Studi Psikologi Mengungkap Pola Emosional
Peneliti dalam jurnal BMC Psychiatry melibatkan lebih dari 1.500 partisipan berusia 18 hingga 45 tahun. Peneliti menelaah hubungan antara kebiasaan makan sambil menonton konten tertentu dengan kondisi emosional serta kesehatan mental individu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan yang secara konsisten menonton konten mukbang saat makan lebih sering melaporkan perasaan hampa, gelisah, dan kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari. Gejala tersebut kerap muncul pada individu dengan kecenderungan depresi ringan hingga sedang. Para peneliti menilai kebiasaan ini tidak sekadar mencerminkan perilaku multitasking, tetapi juga berkaitan dengan kondisi emosional yang lebih dalam.
Mukbang Hadirkan Ilusi Kebersamaan
Mukbang menampilkan seseorang yang merekam aktivitas makan sambil berinteraksi dengan penonton secara daring. Penelitian mengaitkan konsumsi konten ini dengan perasaan kesepian pada sebagian individu, di mana tontonan menghadirkan ilusi kebersamaan saat makan.
Namun, peneliti menegaskan bahwa temuan tersebut tidak berlaku untuk semua jenis tontonan. Menonton film, serial, anime, atau konten hiburan saat makan tidak menunjukkan indikasi langsung terhadap peningkatan risiko depresi dalam penelitian yang sama.
Secara psikologis, sebagian individu memiliki tingkat kebutuhan stimulasi yang tinggi. Aktivitas makan yang bersifat pasif sering kali terasa membosankan tanpa rangsangan visual atau audio tambahan. Meski demikian, ketergantungan pada stimulasi eksternal berpotensi membentuk pola perilaku baru.
Distraksi Layar Tingkatkan Risiko Obesitas
Selain memengaruhi kondisi mental, makan sambil menonton juga berdampak pada kesehatan fisik. Ketika perhatian terfokus pada tontonan, otak tidak memproses sinyal kenyang secara optimal. Akibatnya, seseorang cenderung makan lebih banyak tanpa menyadari jumlah makanan yang telah dikonsumsi. Dalam jangka panjang, pola ini meningkatkan risiko obesitas dan gangguan metabolisme.
Kebiasaan menerima stimulasi ganda secara terus-menerus juga memengaruhi kemampuan konsentrasi. Distraksi yang terus-menerus melatih otak kesulitan beradaptasi dengan aktivitas yang menuntut fokus penuh, seperti belajar atau bekerja. Kondisi ini membuat individu lebih mudah terdistraksi, kurang sabar, dan kesulitan mempertahankan perhatian dalam waktu lama.
Pentingnya Kesadaran Pola Makan
Di tengah gaya hidup digital yang serba cepat, masyarakat kerap menganggap makan sambil menonton sebagai hal wajar. Namun, berbagai kajian menunjukkan bahwa kebiasaan ini tidak selalu netral. Terutama jika dikaitkan dengan jenis konten yang dikonsumsi dan kondisi emosional individu. Karena itu, kesadaran terhadap pola makan dan penggunaan gawai menjadi penting. Tujuannya bukan untuk melarang, melainkan menjaga keseimbangan antara kebutuhan stimulasi, kesehatan tubuh, dan kesehatan mental.






