BCFN Setahun: Ruang Publik Jadi Mesin Ekonomi Banjar

21 Sep 2026, 17.17 WIB
WhatsAppSaluran
BCFN Setahun: Ruang Publik Jadi Mesin Ekonomi Banjar
Wali Kota Banjar Ir. H. Sudarsono didampingi Wakil Wali Kota Dr. H. Supriana, M.Pd. menghadiri perayaan satu tahun Banjar Car Free Night (BCFN) di Jalan Letjen Suwarto, Sabtu (19/9/2026)Camera(Dok. Pemkot Banjar)

Gentra.id-BANJAR. Sabtu malam (19/9/2026), Jalan Letjen Suwarto berubah wajah. Ruas jalan yang biasa dilalui kendaraan bermotor itu dipenuhi ribuan warga yang datang dari berbagai penjuru Kota Banjar.

Lampu-lampu tenda bazar berjajar di sepanjang jalan, sementara panggung hiburan rakyat menyala di ujung ruas. Di tengah kerumunan itu, Wali Kota Banjar Sudarsono hadir didampingi Wakil Wali Kota Supriana, bersama Kapolres Banjar, Komandan Kodim 0613/Ciamis, dan Sekretaris Daerah Kota Banjar.

Malam itu bukan sekadar gelaran rutin. Banjar Car Free Night (BCFN) genap berusia satu tahun — sebuah perjalanan yang dimulai dari sebuah gagasan sederhana tentang ruang publik, dan kini tumbuh menjadi salah satu denyut nadi ekonomi kerakyatan Kota Banjar.

Dari Ruang Ketiga Menjadi Ruang Ekonomi

Ketika Car Free Night pertama kali digelar pada Juli 2025 dalam rangka Hari Bhayangkara ke-79, Sudarsono menyebutnya sebagai “ruang ketiga” bagi warga Banjar. “Rumah adalah ruang pertama, tempat kerja adalah ruang kedua, dan di sinilah ruang ketiga bagi masyarakat untuk berkumpul bersama,” ujarnya saat itu.

Setahun kemudian, ruang ketiga itu telah bertransformasi. “BCFN bukan sekadar hiburan malam, tetapi telah menjadi ruang publik, ruang ekspresi, dan ruang ekonomi bagi masyarakat, khususnya generasi muda dan para pelaku UMKM,” tegas Sudarsono di hadapan warga yang memadati kawasan tersebut, seperti dikutip dari laman Pemkot Banjar.

Mengusung tema “Feel The City, Feel The Night”, perayaan satu tahun BCFN menghadirkan lebih dari sekadar panggung hiburan. Sebanyak 90 hingga 100 pelaku UMKM menjajakan produk mereka — dari kuliner khas Banjar, kerajinan tangan, hingga produk kreatif anak muda. Ketua Banjar Creative Hub (BCH) Eris Kristian menyebut rata-rata omzet tiap pedagang mencapai Rp3 juta per malam. “Total perputaran uang di bazar malam ini bisa mencapai Rp270 juta,” ujarnya.

Angka itu bukan kebetulan. Pada gelaran-gelaran awal tahun 2026, perputaran uang BCFN bahkan sempat menyentuh Rp300 juta dalam satu malam, dengan melibatkan 100 hingga 150 pelaku UMKM. Sebuah capaian yang signifikan bagi kota kecil di Priangan Timur dengan pengeluaran per kapita yang masih berada di posisi menengah.

Kolaborasi Tanpa APBD

Yang membuat BCFN menarik bukan hanya angka perputaran uangnya, melainkan cara ia dibiayai. Setiap pedagang dikenakan kontribusi Rp100 ribu per malam. Dana itu digunakan untuk kebutuhan operasional — listrik, panggung, tenda, hingga logistik acara. Tidak ada anggaran pendapatan dan belanja daerah yang dikucurkan untuk membiayai gelaran ini. BCFN hidup dari kolaborasi: komunitas, pelaku usaha, dan pemerintah kota yang menyediakan ruang dan dukungan regulasi.

Sudarsono mengakui bahwa gagasan awal BCFN datang dari jajaran kepolisian. “Saya berterima kasih kepada Pak Kapolres atas gagasannya. Ini saya teruskan karena memang disambut baik oleh masyarakat,” katanya pada Februari lalu. Sejak itu, Pemerintah Kota Banjar konsisten mendorong BCFN menjadi agenda rutin — bahkan berencana memperluasnya ke wilayah Langensari dengan skala yang disesuaikan.

“Pemerintah Kota Banjar akan terus mendukung kegiatan-kegiatan kreatif yang memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat,” tegas Sudarsono.

Wajah Kota yang Hidup di Malam Hari

Di balik angka dan pernyataan resmi, ada sesuatu yang lebih sulit diukur: bagaimana BCFN mengubah cara warga Banjar memandang kotanya sendiri. Sepanjang malam, anak-anak berlarian di area yang biasanya dipenuhi kendaraan. Komunitas sepatu roda dan seni tradisional bergantian tampil di panggung. Para pelaku UMKM bukan sekadar berjualan — mereka berinteraksi langsung dengan pembeli, memperkenalkan produk, dan membangun pasar yang selama ini sulit mereka jangkau.

“Selain menjadi sarana hiburan bagi masyarakat, Car Free Night ini bertujuan untuk menghidupkan dan mengembangkan para UMKM di Kota Banjar,” ujar Eris Kristian. Beberapa pedagang bahkan mengklaim omzet selama BCFN bisa menyamai pendapatan dua hari biasa.

Bagi Sudarsono, momentum satu tahun ini bukan titik akhir. “Kehadiran BCFN setiap Sabtu malam terbukti mampu menggerakkan UMKM, mempererat kebersamaan, serta menjadikan Banjar sebagai kota yang hidup dan inklusif di malam hari,” ujarnya. Ia berharap BCFN terus berkembang menjadi ikon kreativitas Kota Banjar yang berkelanjutan, aman, dan tertib — dengan dukungan semua pihak, termasuk TNI-Polri dan masyarakat.

Malam itu, ketika panggung hiburan rakyat masih menyala dan tenda-tenda bazar mulai ditutup satu per satu, Jalan Letjen Suwarto perlahan kembali sunyi. Namun bagi Kota Banjar, Sabtu malam itu meninggalkan satu pelajaran penting: bahwa ruang publik yang dikelola dengan baik bukan hanya tempat berkumpul — ia bisa menjadi mesin ekonomi yang berputar tanpa bergantung pada anggaran negara.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.