Garut Ubah Lahan Marjinal Jadi Kebun Singkong untuk Bioetanol

7 Okt 2026, 13.56 WIB
WhatsAppSaluran
Garut Ubah Lahan Marjinal Jadi Kebun Singkong untuk Bioetanol
Hamparan kawasan pertanian di Kecamatan Tarogong Kaler Kabupaten Garut yang menjadi bagian dari potensi pengembangan komoditas singkong untuk mendukung program bioetanol dan ketahanan energi nasional.CameraANTARA/ Fery Purnama

Gentra.id-Garut - Ada lahan-lahan di Garut yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Sebagian berada di kawasan yang kurang produktif untuk komoditas pangan utama. Kini, lahan semacam itu mulai dilirik untuk kepentingan yang lebih luas: menjadi sumber bahan baku energi terbarukan.

Pemerintah Kabupaten Garut melalui Dinas Pertanian (Dispertan) menyiapkan pemanfaatan lahan marjinal untuk pengembangan tanaman singkong. Komoditas yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan pangan tersebut diarahkan menjadi salah satu bahan baku bioetanol dalam upaya mendukung ketahanan energi nasional.

Kepala Dispertan Kabupaten Garut Ardhy Firdian menyebut potensi lahan untuk pengembangan ubi kayu atau singkong di Garut cukup besar. Diperkirakan terdapat sekitar 25.000 hingga 30.000 hektare lahan yang dapat dikembangkan, terutama pada lahan marjinal yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Data tersebut menunjukkan bahwa agenda bioetanol di Garut tidak semata-mata berbicara tentang menanam tanaman baru. Di baliknya terdapat upaya mencari fungsi baru bagi lahan yang selama ini belum memberikan nilai ekonomi maksimal.

“Potensi penanaman ubi kayu atau singkong di Kabupaten Garut diperkirakan seluas 25.000-30.000 hektare terutama pada lahan-lahan marjinal yang belum dimanfaatkan secara maksimal,” kata Ardhy, sebagaimana diberitakan ANTARA, Rabu, 7 Oktober 2026.

Singkong dan Jalan Menuju Ketahanan Energi

Langkah Garut tersebut tidak berdiri sendiri. Pemerintah pusat tengah mendorong pengembangan bioetanol sebagai bagian dari agenda kemandirian energi nasional. Singkong menjadi salah satu komoditas yang dipertimbangkan sebagai sumber bahan baku, selain tebu dan jagung.

Kementerian Pertanian bahkan telah mengonsolidasikan 44 kepala daerah dalam percepatan pengembangan kawasan bioetanol. Pemerintah menyiapkan pengembangan lahan hingga sekitar 2 juta hektare untuk memperkuat fondasi industri bioetanol nasional.

Bagi Garut, peluang tersebut bertemu dengan kondisi pertanian daerah yang memang memiliki basis produksi singkong dan jagung.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Garut menyatakan menyiapkan sekitar 12.000 hektare lahan untuk pengembangan singkong sebagai bahan baku bioetanol. Selain itu, sekitar 15.000 hektare lahan juga direncanakan untuk penanaman jagung yang diperuntukkan bagi kebutuhan energi.

Artinya, pengembangan bioetanol mulai diarahkan bukan hanya sebagai proyek industri di hilir. Pemerintah daerah didorong menyiapkan fondasinya sejak dari lahan, petani, komoditas, hingga ketersediaan bahan baku.

Di titik inilah lahan marjinal memperoleh makna baru. Lahan yang sebelumnya dianggap kurang produktif dapat menjadi bagian dari ekosistem energi apabila ditata dengan perencanaan yang tepat.

Produksi Singkong Garut Sudah Besar

Garut sebenarnya tidak sedang memulai semuanya dari nol.

Menurut data statistik pertanian 2025 yang dikutip Dispertan Garut, luas tanam ubi kayu di daerah tersebut mencapai 15.543 hektare dengan produksi sekitar 375.923 ton per tahun. Produksi tersebut tersebar di berbagai kecamatan.

Angka itu menjadi modal penting apabila singkong Garut benar-benar diarahkan untuk memasok industri bioetanol.

Namun, perubahan orientasi dari komoditas pertanian menjadi bahan baku energi membawa konsekuensi baru. Produksi tidak lagi hanya dinilai dari seberapa banyak singkong yang dihasilkan, tetapi juga kualitas bahan baku, produktivitas lahan, kepastian pasar, hingga keberadaan industri pengolahnya.

Tanpa industri pengolahan dan kepastian penyerapan, peningkatan produksi di tingkat petani berisiko tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan mereka.

Karena itu, keberadaan pabrik menjadi salah satu mata rantai penting dalam agenda tersebut. Pemerintah Kabupaten Garut sebelumnya juga menyatakan memiliki peluang untuk pembangunan pabrik bioetanol maupun pabrik pengolahan singkong. Lokasi industri diharapkan berada dekat dengan sumber bahan baku sekaligus memiliki akses transportasi yang memadai.

Jangan Sampai Energi Menggeser Pangan

Ada satu garis yang ingin ditegaskan pemerintah daerah: pengembangan bahan baku bioetanol tidak boleh mengorbankan lahan pertanian produktif yang sudah menopang kebutuhan pangan.

Ardhy mengatakan pengembangan singkong untuk bioetanol diarahkan pada lahan marjinal, bukan dengan mengambil alih lahan pangan yang telah produktif.

“Hal ini dilakukan untuk memastikan produksi tidak mengganggu keberadaan jagung atau singkong, tidak mengganggu program ketahanan pangan pemerintah,” ujarnya sebagaimana dikutip ANTARA.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena ketahanan energi dan ketahanan pangan sama-sama membutuhkan ruang.

Jika lahan produktif untuk pangan dikonversi secara besar-besaran menjadi bahan baku energi, maka program yang semula dimaksudkan untuk memperkuat kemandirian justru dapat menciptakan persoalan baru. Karena itu, pemanfaatan lahan marjinal menjadi salah satu pilihan agar dua kepentingan tersebut dapat berjalan beriringan.

Dari Kebun ke Energi

Bioetanol pada akhirnya bukan hanya cerita tentang singkong yang ditanam di kebun.

Di belakang satu ton bahan baku terdapat petani, lahan, benih, pupuk, teknologi budidaya, akses transportasi, industri pengolahan, pasar, hingga kebijakan energi nasional.

Kajian ilmiah mengenai produksi bioetanol berbasis singkong dan tebu yang diterbitkan dalam Biospecies pada 2026 juga menunjukkan bahwa keberhasilan produksi bioetanol dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari jenis biomassa, proses awal bahan baku, hidrolisis hingga kondisi fermentasi. Kajian tersebut sekaligus menilai pemanfaatan biomassa dan limbah pertanian berpotensi memberikan nilai tambah ekonomi serta mendukung ketahanan energi, meskipun pengembangan pada skala industri masih membutuhkan kajian lebih lanjut mengenai aspek teknis dan keekonomiannya.

Karena itu, pekerjaan Garut bukan berhenti pada mengubah lahan tidur menjadi kebun singkong.

Tantangan sebenarnya adalah memastikan kebun tersebut terhubung dengan sistem industri yang mampu menyerap hasil petani, memberikan nilai ekonomi yang layak, dan menghasilkan bahan bakar yang kompetitif.

Pemerintah pusat sendiri menargetkan pengembangan bahan bakar campuran etanol E20 dalam dua tahun mendatang. Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan persiapan lahan dan industri pengolahan untuk mendukung target tersebut.

Garut kini berada di salah satu simpul persiapan itu.

Lahan yang dahulu dipandang kurang produktif perlahan mendapat fungsi baru. Singkong tidak lagi sekadar tanaman pangan atau komoditas perdagangan, tetapi mulai ditempatkan sebagai bagian dari strategi energi.

Namun, keberhasilan program ini kelak tidak hanya diukur dari berapa hektare lahan yang berhasil ditanami.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah petani mendapatkan kehidupan yang lebih baik, apakah lahan pangan tetap terlindungi, dan apakah singkong dari Garut benar-benar mampu bergerak dari kebun menuju industri energi nasional.

Sebab, ketika lahan marjinal mulai ditanami untuk masa depan energi, yang sedang dibangun sesungguhnya bukan hanya kebun singkong. Yang sedang diuji adalah kemampuan sebuah daerah menghubungkan pertanian, kesejahteraan petani dan kemandirian energi dalam satu rantai yang berkelanjutan.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH

Jurnalis/Penulis Gentra.id yang fokus pada analisis, berita, dan isu-isu terkini

Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.