
Gentra.id-CIAMIS — Di tengah arus informasi yang bergerak semakin cepat, kemampuan membaca tak lagi cukup dimaknai sebagai kegiatan membuka halaman buku. Masyarakat dituntut mampu memahami informasi, memilahnya, kemudian menggunakannya secara bijak.
Pesan itu mengemuka dalam pembukaan Festival Literasi Kabupaten Ciamis 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) di halaman kantor Dispusip Ciamis, Selasa, 22 September 2026.
Festival yang mengusung tema “Bersinergi dalam Literasi Mewujudkan Ciamis Maju dan Berkelanjutan” tersebut berlangsung selama tiga hari, 22–24 September 2026. Kegiatannya mempertemukan pelajar, mahasiswa, pegiat literasi, akademisi, pengelola perpustakaan, pelaku UMKM hingga masyarakat umum.
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya dalam pembukaan festival mengingatkan bahwa perubahan zaman menuntut masyarakat untuk tidak berhenti belajar. Kemampuan mengikuti perkembangan, menurut dia, bukan sesuatu yang dibatasi oleh usia.
“Kalau kita tidak mengikuti perkembangan zaman, pasti kita akan jauh tertinggal. Maka kita tidak boleh berhenti untuk belajar, mulai dari anak-anak, orang dewasa sampai orang tua, kakek dan nenek juga harus belajar,” ujar Herdiat, seperti dilansir laman resmi Pemkab Ciamis
Literasi di Tengah Banjir Informasi

Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika informasi tidak lagi hanya hadir melalui buku atau ruang kelas. Telepon genggam membuat informasi datang hampir tanpa jeda, dari berbagai sumber dengan tingkat kebenaran yang tidak selalu sama.
Karena itu, literasi dalam konteks sekarang memiliki makna yang lebih luas.
Kepala Dispusip Kabupaten Ciamis Okta Jabal Nugraha menjelaskan bahwa literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga mencakup kemampuan memperoleh, memahami, mengevaluasi, mengolah, hingga menggunakan informasi secara bijak.
Dengan pengertian tersebut, perpustakaan pun tidak lagi semata-mata diposisikan sebagai tempat menyimpan atau meminjam buku. Ruang perpustakaan diharapkan berkembang menjadi tempat masyarakat mencari informasi, belajar, berdiskusi, sekaligus mengembangkan kreativitas.
Bagi Ciamis, penguatan literasi ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia. Pengetahuan yang diperoleh masyarakat diharapkan tidak berhenti sebagai wawasan pribadi, tetapi dapat melahirkan kreativitas dan kontribusi bagi lingkungan.
Tiga Hari, Beragam Kegiatan
Festival Literasi Ciamis 2026 berlangsung selama tiga hari dengan rangkaian kegiatan yang mencakup pameran, diskusi literasi, gelar karya, talkshow, pertunjukan seni, bazar buku hingga pameran produk UMKM. Dispusip Kabupaten Ciamis menargetkan sekitar 1.000 pengunjung selama pelaksanaan festival.
Pesertanya berasal dari berbagai kelompok. Pelajar dan mahasiswa bertemu dengan pegiat literasi, akademisi, pengelola perpustakaan serta masyarakat umum dalam satu ruang kegiatan.
Di sana, literasi ditempatkan bukan hanya sebagai urusan pendidikan formal. Ia bersentuhan dengan kebudayaan, kreativitas, aktivitas ekonomi masyarakat hingga kemampuan beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Harapannya, kegiatan tiga hari tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Budaya membaca dan kebiasaan belajar diharapkan tetap tumbuh setelah festival berakhir.
Belajar dan Berinovasi di Tengah Keterbatasan
Dalam kesempatan yang sama, Herdiat juga mengaitkan semangat belajar dengan inovasi di lingkungan pemerintahan.
Ia meminta keterbatasan anggaran tidak dijadikan alasan bagi organisasi perangkat daerah (OPD) untuk berhenti berkreasi dan menghasilkan prestasi.
“Keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi halangan, tidak boleh menjadi hambatan, apalagi menjadi alasan,” kata Herdiat.
Menurutnya, justru dalam kondisi keterbatasan, kemampuan aparatur untuk melahirkan inovasi menjadi penting. Ia berharap OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Ciamis tetap mampu menghasilkan prestasi, termasuk di tingkat nasional maupun internasional.
Pesan itu memperluas makna festival. Literasi bukan sekadar tentang seberapa banyak buku yang dibaca, tetapi tentang bagaimana pengetahuan digunakan untuk menghadapi persoalan dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Dari Membaca Menuju Masyarakat yang Terus Belajar
Festival Literasi Ciamis 2026 pada akhirnya membawa pesan yang sederhana: proses belajar tidak selesai ketika seseorang meninggalkan bangku sekolah.
Anak-anak, orang dewasa hingga lanjut usia memiliki kebutuhan yang sama untuk memahami perubahan di sekelilingnya. Teknologi terus berganti, informasi bertambah, sementara persoalan masyarakat juga berkembang.
Dalam kondisi seperti itu, kemampuan untuk terus belajar menjadi bagian dari kecakapan hidup.
Karena itu, festival yang berlangsung di halaman Dispusip Ciamis tersebut diharapkan tidak hanya ramai selama tiga hari. Yang lebih penting adalah apa yang tersisa setelah panggung kegiatan dibongkar, stan pameran ditutup dan pengunjung kembali ke rumah masing-masing.
Sebab budaya literasi pada akhirnya bukan tentang sebuah festival. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dilakukan berulang: membaca, bertanya, memeriksa informasi, berdiskusi, belajar, lalu menggunakan pengetahuan itu untuk mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Herdiat Buka Festival Literasi Ciamis 2026, Warga Diajak Terus Belajar

Bupati Tasikmalaya Lepas Delegasi ke Jerman, Dorong Produk Lokal Tembus Pasar Internasional

Wamenkes dan Wamendagri Tinjau Skrining TBC di Tasikmalaya, Bupati Cecep Optimistis Target Tercapai

MUI Tegaskan Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026

HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-71, Satlantas Polres Garut Berbagi dengan Warga
