Generasi Terkoneksi, tetapi Tidak Terhubung: Krisis Modal Sosial di Era Digital

15 Jul 2026, 22.58 WIB

Generasi Terkoneksi, tetapi Tidak Terhubung: Krisis Modal Sosial di Era Digital

Ilustrasi Generasi Terkoneksi, tetapi Tidak Terhubung: Krisis Modal Sosial di Era Digital / Foto Dok. Gentra.id

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih, paradoks kehidupan modern justru semakin terasa. Kita hidup dalam dunia yang memungkinkan setiap orang terhubung hanya dengan sentuhan jari. Namun, di saat yang sama, rasa saling percaya, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar justru menunjukkan gejala penurunan.

Fenomena inilah yang belakangan disebut sebagai lahirnya generasi tanpa modal sosial.

Istilah tersebut bukan sekadar menggambarkan menurunnya aktivitas organisasi atau minimnya interaksi tatap muka. Persoalan yang lebih mendasar adalah melemahnya kemampuan masyarakat membangun kepercayaan (trust), jaringan sosial (network), dan norma kerja sama yang selama ini menjadi fondasi kehidupan bersama.

Dalam kajian sosiologi, Robert D. Putnam melalui karya Bowling Alone menjelaskan bahwa modal sosial merupakan kumpulan hubungan sosial, kepercayaan, dan norma yang memungkinkan masyarakat bekerja sama secara efektif. Ketika modal sosial melemah, bukan hanya hubungan antarmanusia yang terganggu, tetapi juga kualitas demokrasi, pembangunan ekonomi, hingga kesehatan mental masyarakat ikut terdampak.

Ironisnya, sebagian besar diskusi mengenai generasi tanpa modal sosial sering kali menyalahkan teknologi digital sebagai penyebab utama. Padahal persoalannya jauh lebih kompleks.

Media sosial memang mengubah cara manusia berinteraksi. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah berubahnya orientasi hubungan sosial. Banyak orang kini membangun relasi berdasarkan manfaat sesaat, popularitas, maupun algoritma, bukan lagi atas dasar kedekatan emosional atau kepedulian.

Akibatnya, kita mengenal ribuan akun media sosial, tetapi tidak mengenal tetangga sendiri.

Fenomena ini dapat ditemukan hampir di semua lapisan masyarakat. Anak-anak lebih akrab dengan layar daripada permainan bersama teman sebaya.

Remaja lebih nyaman mengobrol melalui aplikasi pesan dibanding berdiskusi secara langsung. Orang dewasa pun semakin sibuk dengan dunianya masing-masing sehingga ruang interaksi sosial perlahan menghilang. Padahal Indonesia sejak dahulu dikenal sebagai bangsa yang memiliki modal sosial sangat kuat.

Budaya gotong royong, ronda malam, kerja bakti, musyawarah desa, pengajian, arisan, hingga berbagai kegiatan komunitas merupakan bentuk nyata modal sosial yang diwariskan lintas generasi. Nilai tersebut terbukti menjadi kekuatan bangsa dalam menghadapi berbagai krisis.

Sayangnya, modernisasi yang tidak diimbangi penguatan komunitas menyebabkan ruang-ruang sosial tersebut mulai memudar.

Perspektif lain yang menarik justru melihat bahwa persoalan terbesar bukan terletak pada generasi mudanya, melainkan pada gagalnya institusi sosial menciptakan ruang perjumpaan.

Sekolah semakin berorientasi pada nilai akademik. Lingkungan perumahan berubah menjadi kawasan individual. Tempat kerja mengejar produktivitas tanpa membangun solidaritas. Sementara keluarga kehilangan waktu berkualitas akibat kesibukan masing-masing. Artinya, generasi muda sebenarnya sedang tumbuh di lingkungan yang miskin interaksi sosial berkualitas.

Dalam teori Pierre Bourdieu, modal sosial merupakan sumber daya yang diperoleh melalui jaringan hubungan yang dimiliki seseorang. Semakin luas jaringan yang dibangun atas dasar kepercayaan, semakin besar peluang individu berkembang secara ekonomi maupun sosial.

Pandangan ini menunjukkan bahwa modal sosial bukan sekadar persoalan moral, tetapi juga aset pembangunan. Berbagai penelitian bahkan menunjukkan bahwa masyarakat dengan tingkat kepercayaan tinggi memiliki kualitas pemerintahan lebih baik, tingkat kriminalitas lebih rendah, serta pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil. Karena itu, membangun modal sosial tidak cukup hanya mengajak masyarakat kembali bergotong royong.

Yang lebih penting adalah menciptakan ruang-ruang perjumpaan baru yang relevan dengan zaman.

Komunitas literasi, ruang kreatif anak muda, koperasi digital, forum warga, hingga kegiatan sukarelawan dapat menjadi sarana membangun kembali kepercayaan antarsesama.

Di sinilah pemerintah daerah memiliki peran strategis.

Alih-alih hanya membangun infrastruktur fisik, investasi terhadap infrastruktur sosial juga harus menjadi prioritas.

Taman kota yang nyaman, perpustakaan publik, pusat kegiatan pemuda, ruang diskusi komunitas, hingga festival budaya lokal sebenarnya merupakan investasi modal sosial jangka panjang. Begitu pula sekolah. Pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada slogan di buku pelajaran.

Peserta didik perlu lebih banyak dilibatkan dalam proyek kolaboratif, pengabdian masyarakat, kegiatan organisasi, maupun pembelajaran berbasis komunitas. Pengalaman bekerja sama jauh lebih efektif membangun karakter dibanding sekadar ceramah tentang pentingnya toleransi. Di tingkat keluarga, tantangannya tidak kalah besar. Kesibukan orang tua sering membuat komunikasi berlangsung sangat singkat. Makan bersama, berdiskusi, atau sekadar mendengarkan cerita anak menjadi semakin langka. Padahal keluarga merupakan sekolah pertama dalam membangun rasa percaya kepada orang lain. Tanpa fondasi tersebut, anak akan lebih mudah tumbuh menjadi individu yang kompetitif tetapi kurang memiliki empati sosial.

Di era kecerdasan buatan (AI), modal sosial justru akan menjadi keunggulan yang tidak dapat digantikan mesin.

AI mampu menyusun laporan, menganalisis data, bahkan menghasilkan karya kreatif. Namun kemampuan membangun kepercayaan, kepemimpinan, empati, solidaritas, dan kerja sama tetap menjadi karakter khas manusia. Karena itu, masa depan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling menguasai teknologi, tetapi juga oleh siapa yang mampu membangun hubungan sosial yang sehat. Indonesia sesungguhnya memiliki modal budaya yang sangat kuat untuk menghadapi tantangan tersebut. Nilai gotong royong, musyawarah, kekeluargaan, dan solidaritas masih hidup di banyak daerah, termasuk wilayah pedesaan. Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai itu diterjemahkan dalam konteks kehidupan modern sehingga tidak sekadar menjadi romantisme masa lalu. Generasi muda bukanlah generasi yang kehilangan kepedulian. Mereka hanya membutuhkan lebih banyak ruang untuk bertemu, berkolaborasi, dan saling mempercayai. Maka, kekhawatiran mengenai lahirnya generasi tanpa modal sosial seharusnya menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat. Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kualitas hubungan antarmanusia, melainkan juga masa depan demokrasi, pembangunan, dan daya tahan bangsa. Ketika modal sosial menguat, masyarakat tidak hanya menjadi lebih akrab, tetapi juga lebih tangguh menghadapi berbagai krisis di masa depan.

N

Nanang AH

Wartawan senior Gentra.id yang berfokus pada analisis hukum, politik, dan kebijakan publik di Indonesia.

Gentra Plus LogoGentra Plus• Dokumenter & Investigasi Eksklusif

Berita eksklusif, analisis mendalam, & laporan investigasi

Langganan Sekarang