Generasi Terkoneksi, tetapi Tidak Terhubung: Krisis Modal Sosial di Era Digital
15 Jul 2026, 22.58 WIB

Ilustrasi Generasi Terkoneksi, tetapi Tidak Terhubung: Krisis Modal Sosial di Era Digital / Foto Dok. Gentra.id
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih, paradoks kehidupan modern justru semakin terasa. Kita hidup dalam dunia yang memungkinkan setiap orang terhubung hanya dengan sentuhan jari. Namun, di saat yang sama, rasa saling percaya, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar justru menunjukkan gejala penurunan.
Istilah tersebut bukan sekadar menggambarkan menurunnya aktivitas organisasi atau minimnya interaksi tatap muka. Persoalan yang lebih mendasar adalah melemahnya kemampuan masyarakat membangun kepercayaan (trust), jaringan sosial (network), dan norma kerja sama yang selama ini menjadi fondasi kehidupan bersama.
Ironisnya, sebagian besar diskusi mengenai generasi tanpa modal sosial sering kali menyalahkan teknologi digital sebagai penyebab utama. Padahal persoalannya jauh lebih kompleks.
Media sosial memang mengubah cara manusia berinteraksi. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah berubahnya orientasi hubungan sosial. Banyak orang kini membangun relasi berdasarkan manfaat sesaat, popularitas, maupun algoritma, bukan lagi atas dasar kedekatan emosional atau kepedulian.
Fenomena ini dapat ditemukan hampir di semua lapisan masyarakat. Anak-anak lebih akrab dengan layar daripada permainan bersama teman sebaya.
Budaya gotong royong, ronda malam, kerja bakti, musyawarah desa, pengajian, arisan, hingga berbagai kegiatan komunitas merupakan bentuk nyata modal sosial yang diwariskan lintas generasi. Nilai tersebut terbukti menjadi kekuatan bangsa dalam menghadapi berbagai krisis.
Sayangnya, modernisasi yang tidak diimbangi penguatan komunitas menyebabkan ruang-ruang sosial tersebut mulai memudar.
Perspektif lain yang menarik justru melihat bahwa persoalan terbesar bukan terletak pada generasi mudanya, melainkan pada gagalnya institusi sosial menciptakan ruang perjumpaan.
Dalam teori Pierre Bourdieu, modal sosial merupakan sumber daya yang diperoleh melalui jaringan hubungan yang dimiliki seseorang. Semakin luas jaringan yang dibangun atas dasar kepercayaan, semakin besar peluang individu berkembang secara ekonomi maupun sosial.
Yang lebih penting adalah menciptakan ruang-ruang perjumpaan baru yang relevan dengan zaman.
Di sinilah pemerintah daerah memiliki peran strategis.
Taman kota yang nyaman, perpustakaan publik, pusat kegiatan pemuda, ruang diskusi komunitas, hingga festival budaya lokal sebenarnya merupakan investasi modal sosial jangka panjang. Begitu pula sekolah. Pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada slogan di buku pelajaran.
Di era kecerdasan buatan (AI), modal sosial justru akan menjadi keunggulan yang tidak dapat digantikan mesin.
Nanang AH
Wartawan senior Gentra.id yang berfokus pada analisis hukum, politik, dan kebijakan publik di Indonesia.
Gentra Plus
Berita eksklusif, analisis mendalam, & laporan investigasi

Sering Update di Media Sosial, Mengenali 3 Ciri Kepribadian & Tips Menjaga Kesehatan Mental

PAC GP Ansor Cihideung Gelar Konferancab IV, Ecep Hamdan Terpilih Pimpin Ansor 2026–2029

Tugu Koperasi Tasikmalaya Diusulkan Jadi Cagar Budaya Nasional, Pemerintah Hidupkan Kembali Jejak Sejarah

Konsisten Itu Tidak Sulit, yang Sulit Adalah Berdamai dengan Diri Sendiri

BI Gelar JAYANTARA Priangan Timur 2026, Perkuat UMKM Tembus Pasar Global
