Doa Bersama dari Wartawan Ciamis untuk Lima Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

18 Sep 2026, 07.22 WIB
WhatsAppSaluran
Doa Bersama dari Wartawan Ciamis untuk Lima Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda
Ilustrasi. Puluhan wartawan di Ciamis menggelar doa dan dzikir bersama untuk lima jurnalis yang hilang saat menjalankan tugas peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kamis (17/9/2026) malamCameraGentra.id/AI

Gentra.id-CIAMIS – Lilin-lilin menyala di kawasan Alun-alun Ciamis, Kamis (17/9/2026) malam. Di antara cahaya yang berpendar itu, puluhan wartawan berdiri membawa foto lima rekan seprofesi yang hingga kini belum diketahui keberadaannya setelah hilang kontak saat menjalankan tugas jurnalistik di perairan Selat Sunda.

Malam itu, para jurnalis dari berbagai media dan organisasi profesi di Ciamis tidak datang untuk meliput sebuah peristiwa. Mereka datang untuk mendoakan rekan-rekannya sendiri.

Aksi bertajuk Doa dan Dzikir Bersama Kiai untuk 5 Jurnalis” tersebut dimulai sekitar pukul 19.00 WIB. Sejumlah wartawan membawa lilin dan foto lima jurnalis yang hilang saat melakukan peliputan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Kelima jurnalis tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas. Mereka merupakan bagian dari rombongan yang hilang kontak bersama tiga awak kapal cepat KM Arupadatu I di perairan Selat Sunda.

Peristiwa itu bermula pada Senin (7/9/2026), ketika rombongan berangkat menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Di Ciamis, kabar tersebut kemudian terasa berbeda. Lima nama yang selama ini berada di balik kamera, catatan, siaran langsung, dan berita, malam itu justru menjadi nama yang disebut dalam doa.

Irfansyah Riza, yang memandu kegiatan, mengatakan aksi tersebut menjadi ruang bagi para wartawan untuk saling menguatkan. Ia menyebut pekerjaan jurnalistik memiliki risiko yang terkadang berada di luar perkiraan.

“Solidaritas rekan-rekan kita sampai saat ini belum ada kabar. Kita berkumpul dengan perasaan yang sama. Bagaimana kita bekerja sehari-hari memiliki risiko, bahkan kematian,” ujar Irfansyah.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan mengheningkan cipta. Suasana berubah semakin hening ketika Adeng Bustomi, pewarta ANTARA, menyampaikan kembali kronologi hilangnya rombongan tersebut.

Bagi Adeng, peristiwa itu bukan sekadar informasi yang dibaca dari laporan pencarian. Salah satu nama yang hilang adalah M. Bagus Khoirunnas, rekan sekantornya.

Adeng mengenang Bagus sebagai sosok yang sebelumnya sempat mengabarkan rencana peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Bagus juga sempat mengirimkan dokumentasi kepada rekannya sebelum berangkat menggunakan perahu menuju kawasan gunung api tersebut.

“Saya tidak menyangka kawan saya, abang saya, bahkan sudah dua hari saya kontak beliau,” kata Adeng.

Hari-hari berikutnya diisi dengan pencarian. Tim SAR gabungan mengerahkan berbagai unsur untuk menyisir kawasan perairan Selat Sunda. Namun, sampai batas akhir operasi pencarian, belum ditemukan tanda-tanda keberadaan lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut.

Pada Kamis (17/9/2026), setelah berlangsung selama 10 hari, operasi SAR gabungan secara resmi dihentikan. Penghentian operasi diumumkan di Posko Utama SAR Gabungan di Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang.

Kabar itu datang pada hari yang sama ketika para wartawan di Ciamis menyalakan lilin dan memanjatkan doa.

Di tengah ketidakpastian tersebut, para peserta aksi tetap menitipkan harapan. Doa menjadi bentuk dukungan moral bagi keluarga dan orang-orang yang masih menunggu kepastian mengenai keberadaan lima jurnalis tersebut.

Harapan serupa sebelumnya juga disampaikan organisasi profesi wartawan di berbagai daerah. Pewarta Foto Indonesia (PFI), misalnya, menggelar doa bersama di Jakarta sebagai bentuk dukungan moral bagi lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak.

Di Ciamis, solidaritas itu datang dari lintas organisasi. IJTI Galuh Raya, PWI Ciamis, IWO, dan IPJI ikut berada dalam kegiatan tersebut.

Doa dan dzikir kemudian dipimpin Ketua MUI Kabupaten Ciamis, Drs. KH. Saeful Ujun. Di hadapan para wartawan yang berkumpul, doa dipanjatkan agar kelima jurnalis dapat kembali kepada keluarganya.

Malam semakin larut. Lilin tetap menyala di antara orang-orang yang berdiri dalam suasana hening. Tidak ada kamera yang mengejar gambar untuk sebuah berita, tidak ada mikrofon yang diarahkan kepada narasumber, dan tidak ada tenggat penulisan yang harus dikejar.

Malam itu, para wartawan hanya menjadi sesama manusia yang sedang menunggu kabar tentang lima orang yang pergi menjalankan pekerjaan mereka.

Bagi keluarga, penantian itu tentu belum selesai. Bagi rekan-rekan seprofesi, nama kelima jurnalis tersebut juga masih tinggal dalam ingatan.

Dan dari Alun-alun Ciamis, doa itu dikirimkan ke Selat Sunda: agar mereka yang pergi menjalankan tugas jurnalistik mendapatkan jalan untuk kembali pulang.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.