Erupsi Gunung Anak Krakatau, Dinkes Tasikmalaya Imbau Warga Waspada ISPA

7 Sep 2026, 16.21 WIB
WhatsAppSaluran
Erupsi Gunung Anak Krakatau, Dinkes Tasikmalaya Imbau Warga Waspada ISPA
Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya. Dinkes mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi gangguan pernapasan menyusul sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, meski hingga kini belum ada laporan peningkatan kasus ISPA yang disebabkan paparan abu vulkanik di wilayah Tasikmalaya. Senin 7/9/2026CameraGentra.id/Nanang AH

Gentra.id-TASIKMALAYA – Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi dalam beberapa hari terakhir dan abu vulkaniknya mulai mencapai sejumlah wilayah Jawa Barat membuat kewaspadaan terhadap kesehatan masyarakat ikut meningkat.

Di Kabupaten Tasikmalaya, perhatian terhadap gangguan saluran pernapasan menjadi penting karena sepanjang Januari hingga Agustus 2026 tercatat 97.629 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Namun, Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya menegaskan bahwa tingginya kasus ISPA tersebut belum berkaitan dengan paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Tasikmalaya, Otong Kusmana, mengatakan hingga saat ini belum ada laporan dari fasilitas pelayanan kesehatan mengenai peningkatan kasus ISPA yang disebabkan sebaran abu vulkanik Anak Krakatau.

"Belum, kita belum dapat laporan," ujar Otong saat dikonfirmasi mengenai dampak erupsi Anak Krakatau terhadap kasus ISPA di Kabupaten Tasikmalaya, Senin 7/9/2026 di Kantornya

Menurutnya, tingginya kasus ISPA yang tercatat selama 2026 lebih berkaitan dengan kondisi lingkungan dan cuaca, terutama musim kemarau yang berlangsung cukup kering, serta adanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kondisi tersebut membuat masyarakat lebih rentan terpapar debu maupun asap yang dapat mengganggu saluran pernapasan. Kasus ISPA juga banyak ditemukan pada kelompok usia rentan, mulai dari balita, anak-anak hingga remaja.

Meski belum ada laporan dampak kesehatan yang berkaitan langsung dengan abu Anak Krakatau, Dinkes Kabupaten Tasikmalaya tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan.

Otong mengimbau masyarakat, terutama yang melakukan aktivitas di luar rumah, untuk menggunakan masker sebagai salah satu langkah perlindungan terhadap saluran pernapasan.

"Kalau kegiatan di luar rumah terutama itu menggunakan masker," katanya.

Menurut Otong, masker medis lebih dianjurkan karena dapat memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap debu dan juga membantu mengurangi risiko penularan penyakit infeksi yang menyebar melalui udara.

Namun, masyarakat yang tidak memiliki masker medis tetap dianjurkan menggunakan masker yang tersedia. Prinsipnya, masker digunakan sebagai penghalang agar debu dan partikel dari udara tidak mudah masuk ke saluran pernapasan.

Imbauan tersebut tidak hanya ditujukan untuk mengantisipasi abu vulkanik. Dalam kondisi kemarau yang panjang dan kering, paparan debu di lingkungan juga perlu diwaspadai.

Terlebih, keluhan seperti batuk dan pilek mulai banyak ditemukan di tengah masyarakat. Karena itu, penggunaan masker ketika beraktivitas di luar rumah maupun berada di tempat ramai menjadi salah satu langkah pencegahan yang dianjurkan Dinkes.

Masyarakat juga diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan atau keluhan kesehatan yang dirasakan semakin berat.

Otong menjelaskan masyarakat dapat terlebih dahulu mengakses fasilitas kesehatan terdekat, seperti puskesmas, puskesmas pembantu maupun polindes. Setelah dilakukan pemeriksaan, tenaga kesehatan akan menentukan apakah pasien cukup mendapatkan penanganan di fasilitas tersebut atau membutuhkan rujukan ke rumah sakit.

Sementara itu, dari sisi kebencanaan, BPBD Kabupaten Tasikmalaya memastikan hingga saat ini belum menemukan adanya paparan debu vulkanik Gunung Anak Krakatau di wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Abdul Azis Riswandi, mengatakan masyarakat tetap diminta waspada meskipun belum terdapat laporan paparan abu vulkanik di wilayah Tasikmalaya.

"Selama ini belum ditemukan paparan debu vulkanik Gunung Anak Krakatau di Tasikmalaya. Namun masyarakat dihimbau tetap waspada," ujar Abdul Azis saat dikonfirmasi via ponselnya Senin 7/9/2026

Menurutnya, Pemkab Tasikmalaya akan segera melakukan rapat koordinasi untuk menyikapi perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau dan kemungkinan dampaknya terhadap wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

Hasil koordinasi tersebut nantinya akan menjadi dasar pemerintah daerah dalam mengambil langkah antisipasi, termasuk penyampaian informasi kepada masyarakat.

Pemkab Tasikmalaya juga berencana menerbitkan surat edaran kepada satuan kerja perangkat daerah (SKPD) serta menyampaikan imbauan kepada masyarakat terkait perkembangan erupsi dan potensi sebaran abu vulkanik.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan dini mengingat arah sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti kondisi angin dan atmosfer.

Perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau sendiri menjadi perhatian setelah aktivitas vulkanik meningkat dan sebaran abu mencapai sejumlah wilayah di Jawa Barat. Sejumlah daerah seperti Sukabumi dan Cianjur telah melaporkan dampak sebaran abu, sehingga pemerintah daerah di wilayah lain turut meningkatkan kewaspadaan.

Bagi masyarakat Kabupaten Tasikmalaya, pemerintah meminta agar kondisi tersebut tidak disikapi dengan kepanikan. Masyarakat cukup meningkatkan kewaspadaan, mengikuti informasi resmi pemerintah dan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, khususnya apabila kondisi udara mulai berdebu.

Untuk saat ini, langkah yang dilakukan pemerintah lebih diarahkan pada pencegahan dan kewaspadaan dini sembari terus memantau perkembangan erupsi serta kemungkinan perubahan arah sebaran abu vulkanik ke wilayah Jawa Barat.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.