Ketika Idealisme Harus Membayar Ongkos Bensin

Gentra.id-Catatan Kritis tentang mahasiswa, organisasi, dan pragmatisme zaman. Ada satu pertanyaan yang semakin sulit dijawab oleh organisasi mahasiswa hari ini:
“Apa yang saya dapat setelah berorganisasi?”
Pertanyaan itu sering dianggap sebagai tanda matinya idealisme. Mahasiswa yang bertanya tentang manfaat ekonomi dianggap terlalu pragmatis, terlalu materialistis, bahkan kehilangan jiwa gerakan.
Tetapi mari kita berhenti sejenak dari romantisme. Bukankah untuk menghadiri kajian kita membutuhkan bensin?
Untuk berdiskusi kita membutuhkan tempat, untuk makan kita membutuhkan uang.
Untuk bergerak kita membutuhkan transportasi, bahkan aktivis yang paling lantang meneriakkan “lawan kapitalisme” tetap harus mengisi saldo dompet digitalnya sebelum berangkat demonstrasi.
Idealisme boleh gratis secara moral, tetapi mobil menuju tempat kajian tetap membutuhkan bahan bakar.
Di sinilah organisasi mahasiswa sering mengalami kekeliruan dalam membaca zaman. Kita terlalu sibuk mengajarkan mahasiswa agar tidak materialistis, tetapi lupa mengajarkan bagaimana mengelola materialitas kehidupan.
Kita meminta mereka berorganisasi, tetapi tidak selalu bertanya: siapa yang membiayai proses tersebut?
Kita meminta mereka hadir dalam diskusi, tetapi tidak selalu memikirkan ongkos transportasinya.
Kita berbicara tentang pengabdian, tetapi terkadang lupa bahwa mahasiswa juga mempunyai kebutuhan hidup.
Kemudian ketika mereka mulai mempertanyakan relevansi organisasi terhadap masa depannya, kita buru-buru mengatakan:
“Kader sekarang pragmatis.”
Barangkali bukan mereka yang terlalu pragmatis, barangkali organisasi kita yang terlalu romantis, sebab zaman telah berubah.
Mahasiswa hari ini hidup dalam struktur sosial-ekonomi yang berbeda. Pendidikan semakin mahal, kebutuhan hidup meningkat, kompetisi pekerjaan semakin ketat, sementara kepastian masa depan semakin kabur.
Dalam kondisi seperti itu, rasionalitas ekonomi bukanlah sesuatu yang dapat begitu saja dihapus melalui ceramah tentang idealisme.
Mahasiswa tetap membutuhkan uang, dan mengakui fakta tersebut bukan berarti menyerah kepada kapitalisme.
Justru di situlah kita membutuhkan cara berpikir yang lebih ilmiah, dalam perspektif sosiologi Pierre Bourdieu, manusia tidak hanya bergerak berdasarkan modal ekonomi. Ada modal sosial, modal budaya, modal simbolik, dan berbagai bentuk kapital yang dapat dikonversikan dalam kehidupan sosial.
Maka organisasi mahasiswa seharusnya tidak hanya bertanya:
“Berapa uang yang kamu keluarkan untuk organisasi?”
Tetapi juga, “Modal apa yang kamu peroleh setelah berada di dalam organisasi?”
Jika selama berorganisasi seorang mahasiswa memperoleh kemampuan berbicara, menulis, memimpin, mengelola konflik, memahami kebijakan publik, membangun jaringan, melakukan advokasi, mengelola acara, memimpin rapat, melakukan riset, dan bekerja bersama masyarakat, maka sesungguhnya organisasi sedang membangun kapital manusia.
Masalahnya, organisasi sering gagal mengonversikan kapital tersebut menjadi kompetensi yang benar-benar relevan.
Kader diminta aktif, kader diminta loyal, kader diminta hadir, kader diminta berkorban.
Tetapi ketika kader bertanya, “Setelah saya bertahun-tahun di sini, kemampuan apa yang sebenarnya saya miliki?”
Jawabannya terkadang hanya, “Kamu mendapatkan pengalaman.”, pengalaman yang bagaimana?
Di mana portofolionya? Apa kompetensinya? Apa jejaringnya? Apa kontribusinya? Apa dampaknya terhadap masyarakat?
Jika semua itu tidak dapat dijelaskan, maka jangan salahkan mahasiswa ketika organisasi dianggap sebagai kegiatan yang menghabiskan waktu tanpa menghasilkan nilai.
Kita harus berhenti mempertentangkan idealisme dengan uang.
Yang harus dipertentangkan adalah uang sebagai alat dengan uang sebagai tujuan hidup.
Uang adalah kebutuhan, tetapi ketika uang menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, manusia mulai kehilangan kemampuan untuk memperjuangkan sesuatu yang tidak langsung menghasilkan keuntungan.
Kita kemudian hidup dalam masyarakat yang sangat efisien secara ekonomi tetapi miskin secara moral.
Semua pertanyaan berubah menjadi, “Dapat berapa?” bukan, “Bermanfaat untuk siapa?”
Semua relasi dihitung berdasarkan keuntungan, ski emua aktivitas diukur berdasarkan sertifikat.
Semua kegiatan ditimbang berdasarkan peluang pekerjaan, bahkan idealisme pun mulai ditanya: “ROI-nya berapa?” Ironis.
Kita hidup di zaman ketika mahasiswa bisa menghitung keuntungan sebuah investasi sebelum lulus, tetapi belum tentu mampu menghitung biaya sosial dari ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya.
Namun jangan pula organisasi menjadikan kritik terhadap pragmatisme sebagai alasan untuk memelihara kemiskinan manajemen.
Organisasi yang sehat harus mampu membiayai idealismenya, kalau setiap kegiatan selalu bergantung kepada uang pribadi kader, maka lama-kelamaan kader akan merasa bahwa organisasi adalah konsumen terbesar dari sumber daya pribadinya.
Karena itu organisasi harus mulai membangun ekonomi kelembagaan, mengembangkan usaha, membangun jaringan alumni, mencari sponsorship secara etis, membuat program yang produktif, mengembangkan pelatihan, mengelola media, membangun kolaborasi.
Menciptakan fundraising, dan yang paling penting: mengelola keuangan secara transparan.
Aktivis tidak boleh hanya pandai mengkritik APBN, APBD, kapitalisme, birokrasi, dan ketimpangan sosial, tetapi ketika diberi uang kas organisasi justru tidak mampu membuat laporan pertanggungjawaban.
Itu bukan kritik terhadap sistem, itu ketidakmampuan mengelola sistem dalam skala kecil.
Maka mungkin sudah waktunya doktrin gerakan mahasiswa diperbarui, jangan lagi mengatakan “Uang bukan segalanya.”.
Katakan, “Uang penting, tetapi bukan satu-satunya hal yang penting.” jangan mengatakan: “Jangan memikirkan masa depan.”.
Katakan, “Bangun masa depanmu, tetapi jangan sampai masa depanmu membuatmu kehilangan keberpihakan kepada masyarakat.”
Jangan memaksa mahasiswa memilih, idealisme atau kesejahteraan.
Justru tugas organisasi adalah membentuk manusia yang mampu memiliki keduanya.
Sebab aktivisme yang tidak mampu memahami realitas ekonomi akan menjadi romantisme.
Tetapi kehidupan ekonomi yang tidak memiliki idealisme akan menjadi pragmatisme.
Yang kita butuhkan bukan mahasiswa miskin yang merasa bangga karena idealis.
Dan bukan pula mahasiswa kaya yang merasa tidak memiliki kewajiban sosial.
Kita membutuhkan generasi yang mampu secara ekonomi, kuat secara intelektual, matang secara politik, dan tetap memiliki keberanian moral untuk mengatakan bahwa tidak semua hal di dunia boleh diperjualbelikan.
Pada akhirnya, persoalan organisasi mahasiswa bukan sekadar bagaimana membuat mahasiswa kembali aktif.
Persoalannya jauh lebih mendasar, bagaimana membuat organisasi kembali relevan bagi kehidupan mereka?
Karena mahasiswa tidak membutuhkan organisasi yang hanya mengatakan, “Berjuanglah demi idealisme.”
Mereka membutuhkan organisasi yang mampu menjawab, “Baik. Kita akan berjuang. Tetapi bagaimana caranya agar perjuangan itu tidak berhenti sebagai slogan, tidak mengorbankan masa depanmu, dan benar-benar menghasilkan kapasitas untuk mengubah keadaan?”
Sebab idealisme yang tidak mampu membaca realitas akan menjadi utopia, dan pragmatisme yang tidak memiliki idealisme akan menjadi perbudakan.
Maka tugas gerakan mahasiswa hari ini bukan membenci uang, tugasnya adalah memastikan bahwa ketika uang semakin mahal, nilai manusia tidak ikut menjadi murah.
Sekretaris GMNU Kota Tasikmalaya
Deden Faiz Taptajani, S.Sos. merupakan aktivis muda Kota Tasikmalaya yang aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan. Saat ini ia menjabat sebagai Sekretaris Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Kota Tasikmalaya, dengan fokus mendorong penguatan peran pemuda, pengembangan kepemimpinan, serta pengabdian kepada masyarakat. Selain aktif di GMNU, Ia juga dikenal sebagai pemerhati isu-isu sosial dan kebijakan publik yang konsisten menyuarakan aspirasi masyarakat melalui berbagai ruang diskusi dan advokasi.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Nyangku Panjalu 2026: Merawat Warisan Karuhun, Menjaga Identitas Ciamis

Jaga Kesehatan di Tengah Ancaman Debu Vulkanik, Polres Garut Bagikan 500 Masker Gratis

Ketika Idealisme Harus Membayar Ongkos Bensin

Erupsi Gunung Anak Krakatau, Dinkes Tasikmalaya Imbau Warga Waspada ISPA

Visual Age Gap: Kenapa Gen Z Terlihat Lebih Tua dari Milenial?
