
Gentra.id-CIAMIS – Malam di Kawali, Kabupaten Ciamis, Sabtu (5/9/2026), terasa berbeda. Kawasan Situs Astana Gede Kawali yang selama ini menyimpan jejak sejarah Tatar Galuh kembali dipenuhi masyarakat.
Cahaya, seni dan keramaian berpadu dalam perhelatan Nyiar Lumar 2026, tradisi budaya yang kembali digelar setelah sempat vakum selama beberapa tahun.
Ribuan pengunjung datang dari berbagai daerah. Mereka tidak hanya menyaksikan pertunjukan kesenian, tetapi juga menikmati suasana malam di kawasan situs bersejarah yang menjadi salah satu peninggalan penting peradaban Sunda-Galuh.
Nyiar Lumar 2026 berlangsung di kawasan Eks Pendopo Kawali hingga Situs Astana Gede Kawali. Agenda tersebut tercatat sebagai salah satu kegiatan budaya Pemerintah Kabupaten Ciamis pada 5 September 2026.
Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Bupati Ciamis Herdiat Sunarya, perwakilan Kementerian Kebudayaan RI, Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Jawa Barat, Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat, jajaran pemerintah daerah, serta para budayawan dan seniman.
Namun, malam itu bukan sekadar tentang siapa yang hadir.
Di balik kemeriahan panggung dan kerumunan masyarakat, Nyiar Lumar membawa pesan yang lebih panjang: bagaimana sebuah tradisi lokal tetap dapat hidup di tengah perubahan zaman.
Bupati Herdiat: Nyiar Lumar Bukan Sekadar Perayaan Lokal
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya memberikan apresiasi terhadap kolaborasi berbagai pihak yang membuat Nyiar Lumar 2026 kembali terlaksana.
Menurutnya, semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat menjadi kekuatan penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.
“Sinergi dan semangat gotong royong yang ditampilkan malam ini sangat luar biasa. Nyiar Lumar bukan sekadar perayaan lokal, melainkan aset wisata budaya yang harus terus kita rawat. Ke depan, mari kita kemas bersama agar daya tariknya semakin meningkat dan mampu menghadirkan wisatawan berskala lebih besar lagi,” tegas Bupati Herdiat.
Pernyataan tersebut memperlihatkan arah yang ingin dibangun Pemerintah Kabupaten Ciamis. Nyiar Lumar tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan kesenian, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan pariwisata berbasis budaya atau cultural tourism.
Dengan konsep itu, tradisi dan situs sejarah tidak hanya menjadi sesuatu yang dikenang, tetapi juga dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus ruang edukasi bagi masyarakat.
18 Helaran Kesenian dan Ratusan Pelajar
Regenerasi menjadi salah satu bagian menarik dalam pelaksanaan Nyiar Lumar 2026.
Berdasarkan laporan perwakilan panitia yang dikutip Portal Ciamiskab, kegiatan tahun ini menghadirkan 18 helaran kesenian yang turut memukau pengunjung.
Yang tidak kalah penting, sekitar 300 siswa mulai jenjang SD hingga SMA/SMK se-Kecamatan Kawali ikut dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
Keterlibatan ratusan pelajar membuat Nyiar Lumar tidak berhenti sebagai tontonan. Tradisi itu sekaligus menjadi ruang belajar terbuka bagi generasi muda untuk mengenal kesenian, sejarah dan identitas budaya daerahnya.
Di tengah derasnya arus budaya populer, langkah semacam ini menjadi penting. Sebab, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menyimpan benda bersejarah atau mendokumentasikan kesenian.
Tradisi akan benar-benar bertahan ketika generasi berikutnya mengenalnya, memahaminya dan memiliki ruang untuk ikut terlibat.
Menghidupkan Kembali Tradisi yang Sempat Vakum
Kembalinya Nyiar Lumar 2026 memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Kawali.
Tradisi tersebut sebelumnya sempat vakum. Karena itu, penyelenggaraan tahun ini menjadi momentum untuk kembali mempertemukan masyarakat, seniman, budayawan dan generasi muda dalam satu ruang budaya.
Astana Gede Kawali menjadi lokasi yang memiliki makna kuat.
Kawasan tersebut bukan sekadar ruang terbuka tempat pertunjukan digelar. Di dalamnya tersimpan jejak sejarah Kerajaan Galuh, termasuk peninggalan prasasti Kawali yang menjadi bagian penting dalam sejarah Sunda.
Karena itulah, suasana malam dalam Nyiar Lumar terasa memiliki karakter tersendiri. Seni dan sejarah hadir dalam satu ruang.
Nama Nyiar Lumar sendiri memiliki makna filosofis. Istilah tersebut secara sederhana berkaitan dengan upaya mencari cahaya yang berpendar. Dalam konteks tradisi, maknanya berkembang menjadi simbol pencarian cahaya, pengetahuan, kebaikan dan kearifan.
Maka, ketika cahaya kembali hadir di Astana Gede Kawali, yang dihidupkan sebenarnya bukan hanya suasana malam.
Ada ingatan sejarah yang kembali disapa.
Ciamis dan Jejak Peradaban Sunda-Galuh
Pelestarian Nyiar Lumar juga tidak dapat dipisahkan dari kekayaan situs sejarah yang dimiliki Kabupaten Ciamis.
Daerah berjuluk Tatar Galuh itu memiliki banyak peninggalan sejarah. Dalam kesempatan tersebut, perwakilan Kementerian Kebudayaan memberikan apresiasi terhadap konsistensi masyarakat dan pemerintah daerah dalam merawat tradisi.
Perwakilan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Staf Khusus Kementerian Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional Anissa Rengganis, turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Ia menyoroti kekayaan sejarah Ciamis yang memiliki sekitar 1.200 situs bersejarah serta kuatnya jejak peradaban Sunda-Galuh di wilayah tersebut.
Kekayaan itu, menurutnya, memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sekaligus diperkenalkan secara lebih luas.
Dalam konteks tersebut, Nyiar Lumar dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkenalkan sejarah Ciamis melalui pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Sejarah tidak hanya dibaca dari buku.
Ia dapat dirasakan melalui ruang, kesenian, tradisi dan pengalaman langsung.
Dari Tradisi Menjadi Daya Tarik Wisata
Pemerintah Kabupaten Ciamis berharap Nyiar Lumar dapat terus dikembangkan melalui evaluasi dan pengemasan kegiatan yang semakin baik.
Harapannya bukan sekadar meningkatkan jumlah penonton, tetapi menjadikan kegiatan tersebut sebagai daya tarik wisata yang mampu membawa lebih banyak orang datang ke Ciamis.
Jika dikelola secara konsisten, Nyiar Lumar berpotensi menjadi salah satu agenda budaya yang memperkuat citra Ciamis sebagai daerah yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya.
Dampaknya pun bisa melebar. Kehadiran wisatawan berpotensi membuka ruang ekonomi bagi pelaku UMKM, seniman, pelaku ekonomi kreatif hingga masyarakat sekitar kawasan wisata.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh hilang dalam proses tersebut: identitas budaya itu sendiri.
Jangan sampai ketika sebuah tradisi dikemas menjadi atraksi wisata, makna awalnya justru perlahan menghilang.
Nyiar Lumar justru memiliki kekuatan karena lahir dari hubungan antara masyarakat, seni, sejarah dan ruang budaya Astana Gede Kawali.
Karena itu, pengembangan wisata budaya harus berjalan beriringan dengan pelestarian nilai dan sejarahnya.
Cahaya yang Kembali Menyala
Sabtu malam itu, Astana Gede Kawali bukan hanya menjadi tempat berkumpulnya ribuan orang.
Ia menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa depan.
Di satu sisi terdapat prasasti dan jejak sejarah yang menjadi saksi perjalanan peradaban Galuh. Di sisi lain, ada ratusan pelajar yang ikut mengambil bagian dalam pertunjukan dan menjadi bagian dari regenerasi kebudayaan.
Di tengahnya, para seniman dan masyarakat menghidupkan kembali tradisi yang sempat terdiam.
Nyiar Lumar 2026 akhirnya bukan sekadar tentang pertunjukan satu malam.
Ia adalah upaya untuk memastikan bahwa cahaya kebudayaan tidak berhenti pada generasi hari ini.
Sebab, ketika tradisi masih dirayakan, ketika anak-anak muda masih dilibatkan dan ketika situs sejarah masih menjadi ruang perjumpaan, maka warisan masa lalu belum benar-benar kehilangan nyalanya.
Dari Astana Gede Kawali, cahaya itu kembali menyala. Bukan hanya untuk menerangi malam, tetapi untuk mengingatkan bahwa Ciamis memiliki sejarah yang layak dirawat, budaya yang layak dirayakan dan cerita yang layak diwariskan.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

4 Bandara Ditutup akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau, Penerbangan Terganggu

Polisi Amankan Lokasi Penemuan Diduga Hulu Ledak Mortir di Garut

Nyiar Lumar 2026 Kembali Menyala di Astana Gede Kawali, Ribuan Pengunjung Larut dalam Malam Budaya

Kebakaran 5 Hektare di Kaki Gunung Cikuray Berhasil Dilokalisir

5 Tips Membedakan Istirahat dan Malas agar Tak Terjebak Productivity Guilt
