Pemprov Jabar Libatkan 25.000 Mahasiswa, Target Tekan Sampah 20 Persen

9 Okt 2026, 17.12 WIB
WhatsAppSaluran
Pemprov Jabar Libatkan 25.000 Mahasiswa, Target Tekan Sampah 20 Persen
Mahasiswa akan diterjunkan untuk mendampingi masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah dari sumbernya. Pemprov Jabar menargetkan pengurangan sampah hingga 20 persen di kawasan Bandung RayaCameraHumas Jabar

Gentra.id-BANDUNG – Persoalan sampah di Bandung Raya tidak cukup diselesaikan dengan mengangkut tumpukan sampah dari permukiman menuju tempat pembuangan akhir (TPA). Perubahan harus dimulai dari rumah tangga, mulai dari kebiasaan memilah sampah hingga mengurangi produksi sampah yang berakhir di tempat pembuangan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat berupaya mendorong perubahan tersebut dengan melibatkan 25.000 mahasiswa untuk mendampingi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Program yang berlangsung selama tiga bulan mulai Oktober 2026 ini diarahkan untuk memperkuat edukasi dan mengubah perilaku masyarakat dalam menangani sampah sejak dari sumbernya.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, mengatakan Pemprov Jabar telah berkonsolidasi dengan sejumlah perguruan tinggi untuk membangun sinergi dalam menangani persoalan persampahan di wilayah Jawa Barat, khususnya Bandung Raya.

Melalui program tersebut, mahasiswa akan turun langsung ke masyarakat untuk memberikan edukasi sekaligus mendampingi warga menerapkan kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih baik. Sebagai bagian dari kegiatan akademik, mahasiswa juga akan mendapatkan konversi kegiatan setara 10 satuan kredit semester (SKS), dilengkapi modul dan perangkat digital sebagai panduan pelaksanaan.

Program ini merupakan pengembangan dari uji coba di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, yang melibatkan sekitar 500 mahasiswa selama tiga bulan.

Berdasarkan evaluasi yang disampaikan Pemprov Jabar, pendampingan tersebut mampu menurunkan timbulan sampah sekitar 20 persen sekaligus meningkatkan pemilahan sampah hingga dua kali lipat.

Hasil uji coba itu menjadi dasar bagi pemerintah provinsi untuk memperluas pendekatan serupa ke sekitar 52 kecamatan di kawasan Bandung Raya. Persiapan dilakukan melalui koordinasi dengan para camat dan perguruan tinggi yang akan terlibat dalam pelaksanaan program.

Mengejar Pengurangan 1.000 Ton Sampah per Hari

Skala persoalan sampah di Bandung Raya menjadi alasan pentingnya perubahan strategi penanganan. Pemerintah provinsi menargetkan pengurangan sampah hingga 20 persen dari sumbernya agar beban yang masuk ke tempat pembuangan akhir dapat ditekan.

Herman menyampaikan target tersebut saat berada di Gedung DPRD Jawa Barat pada Selasa, 6 Oktober 2026.

"Targetnya adalah mengurangi sampah dari sumbernya hingga 20 persen. Jika target tersebut tercapai, dari sekitar 5.000 ton sampah yang dihasilkan Bandung Raya setiap hari, sekitar 1.000 ton dapat ditekan sebelum mencapai TPA Sarimukti," kata Herman, sebagaimana dikutip dari keterangan resmi Humas Jabar.

Target tersebut menunjukkan bahwa pengurangan sampah tidak hanya bergantung pada penambahan armada pengangkut atau perluasan fasilitas pembuangan. Kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah menjadi bagian penting dari upaya menekan volume sampah yang harus ditangani pemerintah.

Sampah organik, misalnya, dapat dipisahkan untuk pengomposan atau budidaya maggot. Sementara itu, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipilah agar lebih mudah dimanfaatkan kembali.

Namun, upaya tersebut membutuhkan keterlibatan masyarakat secara konsisten. Tanpa pemilahan sejak awal, berbagai fasilitas pengolahan yang telah tersedia berisiko tidak berfungsi secara optimal.

Teknologi Harus Diikuti Perubahan Perilaku

Pemprov Jabar juga mendorong optimalisasi berbagai fasilitas pengolahan sampah di kabupaten dan kota di Bandung Raya. Fasilitas tersebut mencakup tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS 3R), pengolahan bahan bakar alternatif refuse-derived fuel (RDF), pengomposan, hingga budidaya maggot.

Herman menilai sebagian fasilitas sebenarnya sudah tersedia, tetapi pemanfaatannya belum maksimal. Salah satu penyebabnya adalah sampah yang masuk masih bercampur sehingga menyulitkan proses pengolahan.

Fasilitas budidaya maggot, sebagai contoh, membutuhkan sampah organik yang telah dipisahkan dari plastik dan material lainnya. Jika sampah masih tercampur, proses pengolahan tidak dapat berjalan secara optimal.

"Sehebat apa pun teknologinya, kuncinya tetap human capital, sumber daya manusia. Urusan perilaku tidak seperti membalikkan telapak tangan, tetapi harus dilakukan," ujar Herman.

Karena itu, strategi penanganan sampah di Jawa Barat ditempuh melalui dua pendekatan sekaligus, yakni technology engineering dan social engineering. Pendekatan pertama berfokus pada pengembangan teknologi pengolahan, sedangkan pendekatan kedua menekankan perubahan perilaku melalui edukasi dan pendampingan langsung.

Pelibatan mahasiswa diharapkan menjadi salah satu penggerak pendekatan sosial tersebut. Kehadiran mereka di tengah masyarakat diharapkan dapat membantu warga memahami cara memilah, mengurangi, dan memanfaatkan sampah dalam kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah mahasiswa yang diterjunkan atau banyaknya kegiatan edukasi yang terlaksana. Dampaknya perlu terlihat pada perubahan kebiasaan masyarakat dan berkurangnya volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir.

Menjaga Sarimukti hingga 2029

Program pendampingan masyarakat ini juga berkaitan dengan upaya Pemprov Jabar menjaga keberlanjutan operasional TPA Sarimukti.

Pemerintah provinsi berharap berbagai langkah pengurangan sampah dari hulu, penguatan pengolahan di tingkat menengah, hingga penanganan di hilir dapat memperpanjang masa operasional TPA Sarimukti sampai Desember 2029.

Sementara itu, pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka ditargetkan beroperasi penuh pada 2030 sebagai salah satu solusi jangka panjang.

"Harapan Pak Gubernur, Sarimukti bisa operasional sampai Desember 2029. Kami sedang upayakan hulu, tengah dan hilir," kata Herman.

Namun, target tersebut membutuhkan kerja berkelanjutan. Pengurangan sampah dari rumah tangga harus berjalan seiring dengan kesiapan fasilitas pengolahan, sistem pengangkutan, serta koordinasi pemerintah daerah.

Herman juga mengingatkan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain. Partisipasi masyarakat menjadi faktor penting karena sebagian persoalan berawal dari kebiasaan membuang dan mengelola sampah yang belum tepat.

Ia mengajak masyarakat Bandung Raya untuk mulai mengurangi produksi sampah, memilah sampah sejak dari sumber, serta memanfaatkan kembali material yang masih memiliki nilai guna.

"Pemda sudah bergerak, perguruan tinggi bergerak, Pramuka bergerak. Ayo masyarakat juga bergerak," ujarnya.

Pelibatan 25.000 mahasiswa menjadi langkah besar dalam mendorong perubahan pengelolaan sampah di Jawa Barat. Tantangan berikutnya adalah memastikan pendampingan tersebut tidak berhenti sebagai program tiga bulan, tetapi berkembang menjadi kebiasaan baru yang bertahan setelah mahasiswa menyelesaikan tugasnya.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH

Jurnalis/Penulis Gentra.id yang fokus pada analisis, berita, dan isu-isu terkini

Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.