
Gentra.id-SUMEDANG — Dapur program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar tempat makanan disiapkan sebelum dibagikan kepada anak-anak. Di balik setiap kotak makanan yang keluar dari dapur, terdapat proses panjang yang menentukan apakah makanan tersebut benar-benar aman, layak, dan memenuhi standar pelayanan kepada penerima manfaat.
Hal itu menjadi perhatian Wakil Bupati Sumedang M. Fajar Aldila saat mengunjungi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Darmaraja. Dalam kunjungan tersebut, Fajar menekankan pentingnya menjaga higienitas sekaligus memastikan kualitas pelayanan tetap menjadi prioritas dalam pelaksanaan program MBG.
Menurut Fajar, keberhasilan program tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya makanan yang dapat diproduksi dan disalurkan. Kualitas makanan, kebersihan dapur, pengawasan, serta sumber daya manusia yang menjalankan seluruh proses tersebut harus mendapat perhatian yang sama.
Pesan itu kemudian diarahkan Fajar kepada seluruh jajaran SPPG Darmaraja. Ia mengingatkan pentingnya menjaga komitmen bersama dan kinerja individu demi mempertahankan nama baik institusi. Setiap orang yang terlibat, kata dia, memiliki peran dalam memastikan pelayanan MBG berjalan sesuai harapan.
“Perbaiki kualitasnya. Tidak hanya mengutamakan kuantitas. Jangan sampai kendor pengawasannya, SDM-nya diperhatikan betul-betul,” tegas Wabup Fajar mengutip laman resmi Pemkab Sumedang.
Penekanan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan higienitas dapur tidak berdiri sendiri. Kebersihan dan keamanan makanan sangat berkaitan dengan bagaimana pengawasan dilakukan serta bagaimana sumber daya manusia menjalankan tugasnya. Ketika jumlah produksi meningkat, standar pengawasan justru tidak boleh ikut menurun.
Dapur SPPG menjadi salah satu titik penting dalam pelaksanaan MBG karena dari tempat inilah makanan dipersiapkan sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat. Setiap tahapan, mulai dari penanganan bahan makanan, proses memasak, pengemasan hingga pendistribusian, membutuhkan ketelitian dan kedisiplinan.
Karena itu, lingkungan dapur, peralatan, bahan makanan, hingga para petugas yang bekerja di dalamnya perlu mendapatkan perhatian. Higienitas bukan hanya persoalan menjaga tempat tetap bersih, tetapi bagian dari upaya memastikan makanan yang diberikan kepada masyarakat aman untuk dikonsumsi.
Di sisi lain, keberadaan SPPG juga menunjukkan bahwa program MBG melibatkan banyak unsur di tingkat lokal. Ada tenaga kerja yang menjalankan proses produksi, bahan pangan yang harus disiapkan, hingga sistem distribusi yang memastikan makanan sampai kepada penerima manfaat sesuai kebutuhan.
Dalam kondisi seperti itu, kualitas pelayanan menjadi titik temu antara target kuantitas dan tanggung jawab kepada penerima manfaat. Produksi makanan dalam jumlah besar memang diperlukan, tetapi jumlah tersebut tidak boleh mengorbankan kebersihan, keamanan pangan maupun ketelitian dalam proses penyediaannya.
Karena itu pula, perhatian terhadap SDM menjadi bagian penting dari pesan Wabup Fajar. Menurut dia, pengawasan tidak boleh mengendur dan setiap personel harus benar-benar diperhatikan. Kinerja individu pada akhirnya tidak hanya berdampak pada proses kerja sehari-hari, tetapi juga berhubungan dengan kepercayaan terhadap institusi yang menjalankan pelayanan MBG.
Pesan tersebut menjadi penting karena penerima manfaat program ini adalah masyarakat, termasuk anak-anak yang membutuhkan asupan makanan bergizi dan aman. Di tangan para pengelola SPPG, program tersebut diterjemahkan dari kebijakan menjadi makanan yang benar-benar hadir di meja makan penerima manfaat.
Dengan demikian, menjaga nama baik institusi bukan sekadar persoalan citra. Bagi Fajar, hal itu berkaitan dengan bagaimana setiap jajaran SPPG menjalankan tanggung jawabnya melalui pelayanan yang berkualitas, pengawasan yang konsisten, serta perhatian terhadap kebersihan dan sumber daya manusia.
Di dapur MBG Darmaraja, pesan tersebut bermuara pada satu prinsip: semakin besar tanggung jawab pelayanan, semakin kuat pula standar yang harus dijaga. Kuantitas makanan yang diproduksi penting, tetapi kualitas, higienitas dan pengawasan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tujuan pemenuhan gizi masyarakat.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Wabup Sukabumi Tekankan Sinergi Lintas Sektor untuk Percepat Penurunan Stunting

Bupati Kuningan Dorong Guru Adaptif Hadapi Perkembangan AI

Wabup Sumedang Tekankan Higienitas dan Kualitas Dapur MBG Darmaraja

Garut Bersiap Kembangkan Bioethanol Berbasis Jagung dan Singkong

Mulai 2027, Deteksi TBC di Kota Tasikmalaya Secepat Swab
