
Gentra.id-CIAMIS – Upaya merawat kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mendapat kesempatan untuk dikenal lebih luas melalui ajang internasional. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Ciamis berhasil melewati tahap administrasi King Hamad Award for Coexistence and Tolerance 2026, sebuah penghargaan internasional yang diselenggarakan di Bahrain.
Capaian tersebut menjadi langkah awal bagi Ciamis untuk memperkenalkan praktik toleransi dan kehidupan harmonis masyarakat Tatar Galuh kepada komunitas internasional. Meski demikian, FKUB Ciamis masih harus mengikuti tahapan penilaian berikutnya sebelum hasil akhir penghargaan diumumkan.
Ketua FKUB Kabupaten Ciamis, Dr. Sumadi, M.Ag., menjelaskan bahwa pihaknya telah mengajukan berbagai program kerukunan yang dijalankan selama lima tahun terakhir. Program tersebut mencakup penguatan moderasi beragama, pelibatan masyarakat, serta kegiatan lintas iman yang melibatkan berbagai kelompok.
Salah satu program yang diajukan adalah Duta Harmoni. Program ini melibatkan kalangan pesantren, pelajar SMA, madrasah, dan organisasi kepemudaan lintas iman untuk menanamkan nilai toleransi serta memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman.
Selain itu, FKUB Ciamis mengembangkan Sekolah Moderasi sebagai upaya memperkenalkan pemahaman tentang kerukunan sejak dini. Melalui program-program tersebut, toleransi diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sumadi menegaskan, keikutsertaan dalam ajang internasional tersebut bukan semata-mata untuk mengejar penghargaan. Kesempatan ini dinilai sebagai ruang untuk memperkenalkan pengalaman Ciamis dalam menjaga keharmonisan antarumat beragama.
Menurutnya, lolos tahap administrasi saja sudah menjadi pencapaian karena nama Ciamis berkesempatan tercatat dalam ajang penghargaan internasional tersebut.
Kerukunan Berawal dari Partisipasi Masyarakat
Penguatan toleransi di Ciamis juga bertumpu pada keterlibatan masyarakat dalam merawat hubungan sosial di tengah perbedaan agama dan keyakinan.
Dalam kegiatan sarasehan dan Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan FKUB Ciamis di Aula Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Kabupaten Ciamis, Kamis, 22 Oktober 2026, nilai kearifan lokal menjadi salah satu pembahasan penting.
Kegiatan bertema Ngamumule Kearifan Lokal, Ngarumat Karukunan tersebut melibatkan pengelola situs budaya, juru pelihara, penjaga situs sejarah, tokoh lintas agama, serta unsur pemerintahan. Forum ini menjadi ruang untuk menggali nilai-nilai budaya Tatar Galuh yang relevan bagi penguatan persatuan dan kerukunan masyarakat.
Anggota Komisi IV DPR RI, Herry Dermawan, Ketua DPRD Kabupaten Ciamis Nanang Permana, serta sejumlah tokoh lainnya turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Keterlibatan berbagai unsur masyarakat memperlihatkan bahwa pemeliharaan kerukunan membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, tokoh agama, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, dan masyarakat memiliki peran dalam membangun ruang perjumpaan yang memungkinkan perbedaan diterima tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Berbekal Capaian Nasional
Keikutsertaan FKUB Ciamis dalam King Hamad Award for Coexistence and Tolerance 2026 juga melanjutkan capaian daerah tersebut di tingkat nasional.
Pada 2025, Kabupaten Ciamis meraih peringkat kedua nasional dalam Harmony Award yang diselenggarakan Kementerian Agama Republik Indonesia. Ciamis juga memperoleh penghargaan Indeks Harmoni Indonesia dari Kementerian Dalam Negeri.
Selain itu, Indeks Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Ciamis tercatat sebesar 83,50, lebih tinggi dibandingkan angka nasional yang berada pada level 77,89
Meski demikian, capaian tersebut tetap perlu diikuti upaya berkelanjutan untuk memastikan kerukunan benar-benar dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah persoalan intoleransi, polarisasi identitas, dan konflik sosial yang masih menjadi tantangan di berbagai tempat, pengalaman Ciamis menjadi kesempatan untuk memperkenalkan praktik hidup berdampingan secara damai.
Bagi FKUB Ciamis, penghargaan internasional bukanlah tujuan akhir. Hal yang lebih penting adalah menjaga keberlanjutan program, memperluas partisipasi masyarakat, dan memastikan nilai toleransi tetap hidup dalam keseharian warga Tatar Galuh.
Melalui proses seleksi ini, Ciamis berpeluang membawa pengalaman lokal dalam merawat keberagaman ke tingkat dunia. Namun, keberhasilan sesungguhnya tetap terletak pada kemampuan masyarakat menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, dan membangun perdamaian secara nyata.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Operasi Patuh Lodaya 2026 Dimulai, Kapolres Garut Tekankan Keselamatan Pengendara

Polres Garut Perkuat Toleransi, Pastikan Keamanan Ibadah di Gereja Kristen Pasundan

FKUB Ciamis Lolos Seleksi Administrasi Penghargaan Toleransi Internasional

OJK Ingatkan Risiko Pembiayaan Digital, Generasi Muda Diminta Bijak Berutang

BASOLIA Gelar Jalan Sehat Lintas Agama, Deklarasikan Komitmen Menjaga Perdamaian
