Gentra.id Dorong Kolaborasi Media, Kreator dan Brand Lokal di Era Ekonomi Kreatif

2 Okt 2026, 11.22 WIB
WhatsAppSaluran
Gentra.id Dorong Kolaborasi Media, Kreator dan Brand Lokal di Era Ekonomi Kreatif
Sharing Session “Masa Depan Media & Ekonomi Kreatif di Era Kolaborasi” digelar Gentra.id bersama Local Media Community, Kamis (1/10/2026), mempertemukan pelaku media, kreator, brand lokal, dan industri event.CameraGentra. Id/Nanang AH

Gentra.id-TASIKMALAYA, – Lanskap industri media dan ekonomi kreatif terus berubah seiring bergesernya cara masyarakat memperoleh informasi, membangun jejaring, hingga menemukan sebuah produk. Media tidak lagi bekerja dalam ruang yang sepenuhnya terpisah dari kreator konten, komunitas maupun dunia usaha.

Perubahan itu menjadi salah satu pembahasan dalam Sharing Session bertajuk “Masa Depan Media & Ekonomi Kreatif di Era Kolaborasi”, yang mempertemukan pelaku media, kreator, brand lokal dan industri event.

Kegiatan yang digelar melalui kolaborasi Gentra.id bersama Local Media Community tersebut menjadi ruang untuk melihat kembali posisi masing-masing sektor di tengah perkembangan ekosistem digital. Bukan hanya soal bagaimana media mempertahankan audiens, tetapi juga bagaimana kekuatan media, kreator dan brand dapat dipertemukan dalam kerja sama yang memiliki nilai bagi masing-masing pihak.

Dalam kesempatan tersebut, Gentra.id memperkenalkan GenCreatorHub.com, sebuah platform yang dikembangkan untuk mempertemukan brand dengan kreator sekaligus membuka peluang kolaborasi secara lebih terstruktur.

CEO Gentra.id, Usama Ahmad Rizal, mengatakan media, kreator dan brand sebenarnya memiliki kekuatan yang berbeda tetapi dapat saling melengkapi.

“Media memiliki audiens dan kredibilitas, kreator memiliki kedekatan dengan komunitas, sementara brand memiliki produk dan kebutuhan pasar. Kalau tiga ekosistem ini bisa dipertemukan, akan banyak peluang kolaborasi yang bisa diciptakan,” kata Rizal, Kamis (1/10/2026).

Menurutnya, peluang membangun ekosistem tersebut tidak hanya berada di kota-kota besar. Daerah seperti Tasikmalaya dan kawasan Priangan Timur juga memiliki media, kreator serta brand lokal yang potensinya masih dapat dikembangkan.

“Kita ingin potensi lokal tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi kreatif. Kreator dan media lokal harus bisa mendapatkan akses ke brand, sementara brand lokal juga bisa mendapatkan exposure yang lebih luas,” ujarnya.

Media Menghadapi Perubahan Perilaku Audiens

Perubahan perilaku audiens menjadi tantangan tersendiri bagi industri media. Masyarakat kini memiliki banyak pilihan sumber informasi, mulai dari portal berita, media sosial, kreator konten hingga komunitas digital.

Senior Editor IDN Times, Yogi Pasha, mengatakan kondisi tersebut membuat media harus terus memahami perubahan pola konsumsi informasi.

“Audiens sekarang mendapatkan informasi dari banyak sumber, bukan hanya media, ada kreator, komunitas, media sosial, dan berbagai platform digital. Karena itu, media perlu memahami perubahan tersebut dan mencari bentuk kolaborasi yang relevan,” ujar Yogi.

Menurutnya, perbedaan karakter antara media dan kreator justru dapat menjadi ruang untuk membangun kolaborasi. Media memiliki kekuatan pada kerja jurnalistik dan kredibilitas, sementara kreator mempunyai kedekatan dengan audiens dan komunitas.

“Media punya kekuatan pada jurnalistik dan kredibilitas, sementara kreator memiliki kedekatan dengan audiens dan komunitas. Kolaborasi keduanya dapat membuka format dan cara distribusi konten yang lebih beragam,” katanya.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa persaingan di ruang digital tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang memiliki kanal informasi. Cara membangun hubungan dengan audiens, memahami karakter komunitas dan mendistribusikan konten juga menjadi bagian penting dari keberlangsungan sebuah ekosistem media.

Brand Lokal Membutuhkan Ekosistem yang Terhubung

Dari sisi dunia usaha, kolaborasi juga dipandang sebagai peluang untuk memperkuat keberadaan brand lokal. Produk yang dihasilkan pelaku usaha daerah tidak cukup hanya memiliki kualitas, tetapi juga membutuhkan akses terhadap pasar dan komunikasi yang mampu menceritakan nilai di balik produk tersebut.

Founder Payung Entrepreneur Sukapura, Asep Saepuloh, mengatakan media dan kreator dapat menjadi penghubung antara pelaku usaha dengan masyarakat.

“Pelaku usaha lokal membutuhkan akses pasar dan komunikasi yang tepat, media dan kreator bisa menjadi jembatan untuk memperkenalkan produk dan cerita di balik sebuah usaha kepada masyarakat,” ujar Asep.

Ia melihat Tasikmalaya memiliki banyak potensi usaha yang dapat dikembangkan melalui pemanfaatan ekosistem digital.

“Kita memiliki banyak potensi usaha lokal, yang perlu diperkuat adalah koneksi antara pelaku usaha, media, kreator, komunitas, dan pasar. Kalau ekosistemnya terhubung, peluang pertumbuhannya juga semakin terbuka,” katanya.

Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa promosi produk lokal tidak harus berdiri sendiri. Cerita mengenai sebuah usaha, komunitas yang menghidupkannya, media yang menjangkau publik serta kreator yang memiliki kedekatan dengan audiens dapat menjadi bagian dari satu rantai kolaborasi.

Media Lokal Memiliki Kekuatan Kedekatan dengan Daerah

Di tengah dominasi platform digital, media lokal tetap memiliki karakter yang berbeda. Kedekatan dengan masyarakat dan isu daerah menjadi salah satu modal yang dapat dikembangkan dalam menghadapi perubahan perilaku audiens.

General Manager Harapanrakyat.com, Subagja Humara, mengatakan perubahan industri media berlangsung cepat, baik dari sisi audiens maupun platform.

“Media hari ini menghadapi perubahan yang sangat cepat, audiens berubah, platform berubah, dan cara orang mengonsumsi informasi juga berubah. Media harus mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut tanpa meninggalkan prinsip jurnalistik,” ujar Subagja.

Menurutnya, kedekatan media lokal dengan masyarakat merupakan kekuatan yang dapat dipadukan dengan sektor kreatif lainnya.

“Media lokal punya kedekatan dengan komunitas dan masyarakat. Kekuatan tersebut bisa dikembangkan melalui kolaborasi dengan kreator maupun pelaku usaha sehingga konten dan informasi lokal bisa memiliki jangkauan yang lebih luas,” tuturnya.

Ekosistem Kreatif Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Perspektif berbeda datang dari sektor industri event. Sekjen DPP Industri Event Indonesia (IVENDO), Evan Saepul Rohman, mengatakan sebuah kegiatan kreatif pada dasarnya melibatkan banyak sektor sekaligus.

“Event tidak berdiri sendiri, ada media, kreator, brand, venue, komunitas, UMKM, dan berbagai industri pendukung. Semuanya memiliki peran dan bisa saling menguatkan,” ungkap Evan.

Menurutnya, pertemuan berbagai kompetensi tersebut dapat menciptakan kegiatan yang tidak hanya memiliki nilai kreativitas, tetapi juga memberikan dampak ekonomi.

“Kita tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. Justru kekuatan industri kreatif adalah ketika berbagai kompetensi bisa dipertemukan dalam satu kolaborasi,” jelasnya.

Pandangan itu sekaligus memperluas makna kolaborasi. Ekonomi kreatif tidak hanya berbicara tentang produksi konten atau promosi produk, tetapi juga tentang bagaimana berbagai pelaku dengan keahlian berbeda dapat berada dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

Profesionalisme Kreator Semakin Dibutuhkan

Sementara bagi kreator, berkembangnya kerja sama dengan brand juga membawa tuntutan baru. Jumlah pengikut bukan lagi satu-satunya ukuran ketika sebuah brand mempertimbangkan kerja sama.

Influencer Gen Creator Hub, Ova Nova, mengatakan kreator perlu memahami kebutuhan brand sekaligus menjaga kualitas konten yang dibuat.

“Kreator sekarang tidak cukup hanya memiliki followers, kreator harus memahami kebutuhan brand, mampu membuat konten yang berkualitas, dan memahami bagaimana bekerja secara profesional,” ujar Ova.

Menurutnya, hubungan antara kreator dan brand juga dapat dikembangkan menjadi kerja sama jangka panjang. Kuncinya adalah menemukan kesesuaian antara karakter kreator, audiens, produk dan tujuan kampanye.

“Kreator dan brand bisa membangun kolaborasi jangka panjang, yang penting adalah menemukan kecocokan antara karakter kreator, audiens, produk, dan tujuan kampanye,” pungkasnya.

Dari ruang diskusi tersebut, satu hal menjadi semakin jelas: perubahan industri media dan ekonomi kreatif tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka ruang baru untuk membangun jejaring.

Media membawa kekuatan jurnalistik dan audiens, kreator menghadirkan kedekatan dengan komunitas, sementara brand membawa produk serta kebutuhan pasar. Ketika ketiganya dipertemukan dengan dukungan komunitas dan industri pendukung lainnya, ruang kolaborasi dapat tumbuh lebih luas—termasuk dari daerah seperti Tasikmalaya dan Priangan Timur.

Melalui pengenalan GenCreatorHub.com, Gentra.id menempatkan gagasan tersebut dalam sebuah upaya untuk mempertemukan potensi yang selama ini mungkin berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi akhirnya bukan sekadar tema diskusi, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kreatif lokal yang lebih terhubung.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH

Jurnalis/Penulis Gentra.id yang fokus pada analisis, berita, dan isu-isu terkini

Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.