Habib Qasim Nurwahab, Dari Madrasah Menuju Parlemen

3 Agu 2026, 13.26 WIB
WhatsAppSaluran
Habib Qasim Nurwahab, Dari Madrasah Menuju Parlemen
Anggota DPRD Kota Tasikmalaya, Habib Qasim Nurwahab /CameraDok. Pribadi

Gentra.id-Suara bel sekolah dan lantunan ayat-ayat Al-Qur'an pernah menjadi bagian dari keseharian Habib Qasim Nurwahab. Di ruang-ruang kelas madrasah, ia menghabiskan waktu bukan hanya untuk mengajar, tetapi juga mendengarkan cerita para murid, memahami harapan orang tua, dan melihat langsung bagaimana pendidikan menjadi harapan banyak keluarga untuk mengubah masa depan.

Hari ini, suasana yang ia hadapi berbeda. Ruang kelas berganti menjadi ruang sidang DPRD Kota Tasikmalaya. Papan tulis berganti dengan tumpukan dokumen dan rancangan peraturan daerah. Namun, satu hal tidak berubah yaitu semangat pengabdian.

Di usia yang baru menginjak 28 tahun, Habib Qasim Nurwahab dipercaya masyarakat menjadi Anggota DPRD Kota Tasikmalaya periode 2024–2029 dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) IV yang meliputi Kecamatan Kawalu dan Mangkubumi. Ia menjadi salah satu wajah muda yang membawa harapan baru di parlemen daerah.

Perjalanannya menuju kursi legislatif bukanlah cerita tentang ambisi politik yang tiba-tiba muncul, justru sebaliknya, politik datang sebagai kelanjutan dari jalan pengabdian yang telah ia tempuh sejak lama.

Belajar Mengabdi Sejak di Madrasah

Bagi Habib Qasim, madrasah bukan sekadar tempat bekerja. Di sanalah ia belajar memahami kehidupan masyarakat dari dekat.

Setiap hari ia bertemu anak-anak yang datang dengan latar belakang keluarga yang beragam. Ada yang berangkat sekolah dengan penuh semangat, ada pula yang harus membantu orang tua terlebih dahulu sebelum belajar. Dari pengalaman itu, ia memahami bahwa pendidikan tidak bisa dipisahkan dari persoalan ekonomi, kesehatan, hingga kesejahteraan masyarakat.

Sebagai guru, ia menyadari bahwa banyak persoalan tidak dapat diselesaikan hanya melalui ruang kelas. Dibutuhkan kebijakan yang mampu menghadirkan perubahan yang lebih luas.

Kesadaran itulah yang kemudian mengantarkannya menempuh pendidikan di Institut Nahdlatul Ulama (INU). Kampus menjadi ruang untuk memperluas wawasan, memperdalam pemikiran, sekaligus memperkuat keyakinannya bahwa perubahan membutuhkan kolaborasi antara pendidikan, organisasi, dan kebijakan publik.

Tumbuh Bersama Ansor

Selain aktif sebagai pendidik, Habib Qasim juga mengabdikan dirinya melalui organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama. Ia dipercaya menjadi Bendahara GP Ansor, sebuah amanah yang bukan hanya berkaitan dengan administrasi organisasi, tetapi juga menuntut ketelitian, kepercayaan, dan tanggung jawab.

Di Ansor, ia belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu berada di depan mimbar. Kepemimpinan juga hadir dalam kemampuan menjaga kepercayaan, mengelola organisasi dengan baik, serta memastikan setiap program berjalan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pengalaman berorganisasi mempertemukannya dengan banyak kalangan. Dari tokoh agama, pemuda, pelaku usaha, hingga masyarakat akar rumput. Pertemuan-pertemuan itulah yang semakin memperkaya cara pandangnya terhadap berbagai persoalan di Kota Tasikmalaya.

Baginya, organisasi menjadi sekolah kehidupan yang mengajarkan pentingnya gotong royong, musyawarah, dan keberanian mengambil tanggung jawab.

Ketika Amanah Itu Datang

Momentum Pemilu 2024 menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya.

Kepercayaan masyarakat mengantarkannya duduk di kursi DPRD Kota Tasikmalaya. Amanah itu bukan hanya kemenangan pribadi, melainkan tanggung jawab besar untuk memperjuangkan aspirasi ribuan warga di Kecamatan Kawalu dan Mangkubumi.

Di tengah dominasi politisi senior, kehadiran Habib Qasim menjadi simbol bahwa generasi muda juga memiliki ruang untuk mengambil bagian dalam menentukan arah pembangunan daerah.

Baginya, menjadi anggota dewan bukan berarti meninggalkan identitas sebagai guru. Justru pengalaman mengajar menjadi bekal yang paling berharga dalam menjalankan tugas sebagai legislator.

"Saya memahami bahwa setiap kebijakan akan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Karena itu, kebijakan harus lahir dari kebutuhan nyata, bukan sekadar angka-angka di atas kertas," menjadi prinsip yang selalu ia pegang dalam setiap pengabdian.

Membawa Suara Pendidikan ke Ruang Legislasi

Di DPRD Kota Tasikmalaya, Habib Qasim bertugas di Komisi IV, yang membidangi pendidikan, kesehatan, kesejahteraan masyarakat, kepemudaan, olahraga, hingga kebudayaan.

Bidang tersebut terasa begitu dekat dengan perjalanan hidupnya.

Ia memahami tantangan yang dihadapi guru, madrasah, sekolah swasta, tenaga pendidikan, hingga keluarga yang berharap anak-anak mereka memperoleh pendidikan yang layak.

Karena itu, perhatian terhadap dunia pendidikan menjadi salah satu fokus pengabdiannya. Baginya, investasi terbesar sebuah daerah bukanlah gedung yang megah, melainkan kualitas manusianya.

Namun pengabdiannya tidak berhenti pada isu pendidikan. Ia juga meyakini bahwa kesejahteraan masyarakat, pelayanan kesehatan, pemberdayaan pemuda, dan penguatan nilai-nilai kebudayaan merupakan fondasi penting bagi kemajuan Kota Tasikmalaya.

Politik Sebagai Jalan Pengabdian

Di tengah pandangan masyarakat yang sering memandang politik dengan rasa skeptis, Habib Qasim memilih menunjukkan bahwa politik juga bisa menjadi ruang pengabdian.

Ia percaya, jabatan hanyalah amanah yang memiliki batas waktu. Yang akan dikenang masyarakat bukanlah berapa lama seseorang duduk di kursi kekuasaan, melainkan seberapa besar manfaat yang ditinggalkan.

Karena itu, ia berusaha menjaga kedekatan dengan masyarakat. Mendengarkan lebih banyak daripada berbicara, hadir di tengah warga, dan memastikan bahwa aspirasi yang disampaikan tidak berhenti sebagai catatan, tetapi diperjuangkan menjadi kebijakan.

Wajah Baru Kepemimpinan Muda

Perjalanan Habib Qasim Nurwahab menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari panggung politik. Ia bisa tumbuh dari ruang kelas, dari organisasi kepemudaan, dari pengalaman melayani masyarakat, dan dari keberanian untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar.

Di usia yang masih sangat muda, ia menjadi bagian dari generasi baru yang membawa perspektif berbeda ke parlemen. Generasi yang tumbuh di tengah perubahan zaman, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai keagamaan, kebangsaan, dan semangat gotong royong.

Perjalanannya dari madrasah menuju parlemen bukan sekadar perpindahan profesi. Ia adalah simbol bahwa pengabdian memiliki banyak jalan. Ada yang memilih mengabdi melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi, dan ada pula yang melalui kebijakan publik.

Habib Qasim Nurwahab memilih menjalani ketiganya.

Sebab pada akhirnya, bagi seorang guru yang kini menjadi wakil rakyat, tujuan pengabdian tetaplah sama: menghadirkan manfaat bagi masyarakat, menjaga kepercayaan yang telah diberikan, dan memastikan bahwa setiap langkah yang diambil selalu berpihak pada kepentingan orang banyak.

R
Rizal

Wartawan senior Gentra.id yang berfokus pada analisis hukum, politik, dan kebijakan publik di Indonesia.

Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang