
Gentra.id-Tasikmalaya adalah kota yang tumbuh dari pertemuan banyak hal, budaya sunda yang kuat, kehidupan masyarakat yang religius, serta tradisi kebersamaan yang masih terasa dalam keseharian. Di kota ini, perbedaan bukan sesuatu yang sulit ditemui, orang datang dengan latar belakang, keyakinan, dan pengalaman yang berbeda, lalu bertemu dalam ruang kehidupan yang sama. Di tengah kota seperti inilah Jonson Sitorus menjalani sebagian besar perjalanan hidupnya.
Jonson bukan lahir di Tasikmalaya, ia berasal dari Lubuk Pakam, Medan, dan pertama kali menginjakkan kaki di kota ini pada 1995. Saat itu, tidak ada rencana besar untuk menetap, apalagi membayangkan Tasikmalaya akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya, ia datang dengan alasan yang sederhana, seperti banyak perantau lainnya, mencari pekerjaan dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Jonson mendapatkan pekerjaan, menetap, dan mulai mengenal Tasikmalaya dari dekat, ia bertemu dengan banyak orang, masuk ke dalam kehidupan masyarakat, dan perlahan memahami budaya yang hidup di kota ini.
“Awalnya sih kebutuhan, butuh pekerjaan, merantau dari kampung halaman, kemudian dapat pekerjaan, dan memutuskan untuk melakukan yang terbaik di Kota Tasikmalaya,” kata Jhonson, Sabtu, (8/8/2026).
Keputusan untuk melakukan yang terbaik itu kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya, sebab bagi Jonson, ketika seseorang memilih untuk tinggal di sebuah tempat, ia tidak cukup hanya mencari apa yang bisa didapatkan dari tempat tersebut, ia juga harus melihat apa yang bisa diberikan.
Prinsipnya sederhana, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Jonson berusaha menjalani prinsip itu selama tinggal di Tasikmalaya, ia belajar mengenal lingkungan tempatnya hidup, termasuk budaya sunda yang menurutnya menjadi salah satu kekuatan terbesar kota ini.
Baginya, budaya sunda tidak hanya bicara tentang bahasa, kesenian, atau tradisi, ada nilai yang lebih dalam dan terasa dalam hubungan sehari-hari, yakni silih asah, silih asih, silih asuh.
Nilai tersebut membuat Jonson melihat Tasikmalaya sebagai kota yang memiliki modal kuat untuk membangun kehidupan bersama, tetapi, menurutnya, keberagaman juga membutuhkan kemauan untuk saling memahami.
Ada orang yang merasa budaya yang dibawanya lebih baik daripada budaya orang lain, ada pula kecenderungan untuk melihat perbedaan sebagai sesuatu yang harus dipertentangkan. Menurut Jonson, cara pandang seperti itu perlu diubah.
“Jangan hanya hidup di Tasikmalaya, sudahkah Tasikmalaya hidup di hati kita?” ujarnya penuh tanya.
Kalimat tersebut menjadi refleksi tentang bagaimana seseorang seharusnya menempatkan diri di sebuah kota.
Bagi Jonson, tinggal di Tasikmalaya bukan hanya soal memiliki tempat tinggal, lebih dari itu, ada proses untuk merasa menjadi bagian dari masyarakat.
Salah satu ruang yang kemudian mempertemukannya dengan keberagaman secara lebih dekat adalah Forum Bhinneka Tunggal Ika (FBTI), sebuah komunitas keberagaman di Tasikmalaya.
Di komunitas tersebut, Jonson berjumpa dengan orang-orang dari latar belakang agama dan budaya yang berbeda, perjumpaan yang awalnya mungkin hanya berupa kegiatan bersama, perlahan berkembang menjadi ruang untuk saling mengenal dan memahami.
Bersama FBTI pula, ia pernah mengikuti berbagai kegiatan lintas iman, pengalaman itu menjadi salah satu kegiatan yang cukup membekas baginya.
Bukan karena ada satu peristiwa besar, melainkan karena kebersamaan yang tercipta, orang-orang dengan latar belakang berbeda bertemu dalam satu ruang, menghabiskan waktu bersama, berbicara, dan melakukan berbagai kegiatan secara bersama-sama.
Bagi Jonson, pengalaman seperti itu menunjukkan bahwa keberagaman tidak cukup hanya dibicarakan tapi ia harus dialami.
Perjumpaan bersama FBTI juga membuat Jonson semakin dekat dengan banyak kalangan di Tasikmalaya, salah satu hal yang membuatnya senang adalah ketika mendapat undangan untuk datang ke pesantren.
Bagi sebagian orang, undangan ke pesantren mungkin hanya sebuah agenda, bagi Jonson, ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa datang, duduk bersama, berbincang, dan mengikuti suasana kehidupan pesantren.
Kedekatan itu bahkan terlihat dari hal-hal kecil, Jonson cukup sering mengenakan kopiah dalam berbagai kesempatan.
Bukan sekadar aksesori, tetapi bagian dari caranya menghargai ruang dan lingkungan tempat ia hadir, ia merasa nyaman berada di tengah masyarakat Tasikmalaya yang kehidupan keagamaannya begitu kuat.
Baginya, menghormati tradisi dan keyakinan orang lain tidak harus membuat seseorang kehilangan identitasnya sendiri, justru dari sana, hubungan bisa dibangun dengan saling menghargai.
Karena itu, ketika ditanya bagaimana membangun hubungan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang agama dan budaya yang beragam, jawabannya singkat.
“Harus disengajakan, hadir langsung,” ungkapnya.
Menurutnya, hubungan baik tidak akan tumbuh dengan sendirinya, harus ada kemauan untuk memulai, datang, berkenalan, mendengarkan, dan bersedia meluangkan waktu untuk orang lain.
Jonson menilai niat juga menentukan bagaimana sebuah hubungan dibangun, ia ingin setiap kegiatan yang dilakukan bersama masyarakat berangkat dari semangat melayani dan berkorban.
“Dengan motivasi melayani, berkorban, bukan mengambil. Seperti promosi, validasi diri, dilihat orang banyak,” jelasnya.
Baginya, pelayanan tidak semestinya menjadi cara untuk mendapatkan pengakuan, ada kalanya kebaikan cukup dilakukan tanpa harus diketahui banyak orang.
Pandangan itu tidak lepas dari sosok yang menjadi inspirasi utama dalam hidupnya, Yesus Kristus.
Jonson banyak mengambil nilai dari ajaran Yesus dalam Injil, salah satunya tentang memberi lebih dari apa yang diminta, jika seseorang meminta baju, berikan jubah, jika diminta berjalan satu kilometer, berjalanlah lebih jauh.
Pesan itu, bagi Jonson, menggambarkan kesediaan untuk memberikan lebih kepada orang lain.
“Hatinyanya untuk semua,” tuturnya.
Nilai tersebut juga menjadi dasar cara jonson memandang toleransi. Baginya, toleransi bukan sekadar membiarkan orang lain berbeda, toleransi adalah kesediaan untuk hidup bersama, saling menghargai, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh.
Ia bahkan melihat hubungan antarmanusia dengan cara yang sangat sederhana.
“Saya adalah kamu. Kamu adalah saya, yang tidak dapat dipisahkan oleh apa pun juga, kita Indonesia," ucapnya.
Bagi Jonson, menjadi bagian dari Indonesia berarti bersedia hidup bersama dengan segala perbedaan yang ada di dalamnya, agama, budaya, asal daerah, dan latar belakang tidak semestinya menjadi alasan untuk membuat seseorang merasa lebih tinggi dari yang lain.
Selain aktif dalam ruang keberagaman, Jonson juga berusaha hadir melalui berbagai kegiatan sosial, ia pernah terlibat dalam bedah rumah, pembagian air gratis, donor darah, penjualan sembako murah hingga kegiatan kesehatan gratis bersama rekan-rekannya dari JAI.
Kegiatan-kegiatan itu menjadi cara lain baginya untuk hadir di tengah masyarakat.
“Hampir semua giat-giat melayani masyarakat membawa berkat bagi saya,” ujarnya.
Bagi Jonson, pelayanan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar, terkadang, hadir dan melakukan sesuatu bersama masyarakat sudah cukup untuk membuka ruang perjumpaan.
Dari sanalah ia terus belajar bahwa keberagaman tidak hanya berbicara tentang perbedaan identitas, ia juga berbicara tentang kesediaan untuk hidup berdampingan dan saling membantu.
Wartawan senior Gentra.id yang berfokus pada analisis hukum, politik, dan kebijakan publik di Indonesia.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Kimpul Mendadak Viral di TikTok, Kenali Umbi Lokal Kaya Nutrisi yang Mulai Naik Daun

KDM dan Kapolda Jabar Musnahkan Ribuan Barang Bukti Kejahatan

Jonson Sitorus, Hamba Yesus di Jalan Cinta untuk Tasikmalaya

Kompolnas Ingatkan Putusan MK usai Dua Orang Ditangkap terkait Pidato Prabowo

Dari Sampah Jadi Nilai Guna, Mojang Jajaka Dorong Wisata Hijau di Tasikmalaya
