Sobat KBB Dorong Orang Muda Jabar Jadi Penggerak Ruang Aman dan Inklusif

20 Agu 2026, 21.09 WIB
WhatsAppSaluran
Sobat KBB Dorong Orang Muda Jabar Jadi Penggerak Ruang Aman dan Inklusif
Solidaritas Korban Tindak Pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan (Sobat KBB) menggelar Workshop Dukungan Psikososial dan Psychological First Aid (PFA) bagi orang muda korban dan kelompok rentan pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) bertempat di SMA Plus Alwahid Desa Tenjowaringin Kec. Salawu Tasikmalaya Selasa-Rabu, (18-19, Agustus- 2026)CameraNanang AH/Gentra.Id

Gentra.id-TASIKMALAYA – Solidaritas Korban Tindak Pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan (Sobat KBB) menggelar Workshop Dukungan Psikososial dan Psychological First Aid (PFA) bagi orang muda korban dan kelompok rentan pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Selasa-Rabu, 18-19 Agustus 2026, tersebut digelar di SMA Plus Alwahid, Desa Tenjowaringin, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

Workshop diikuti sekitar 20 orang perwakilan dari berbagai komunitas agama dan kepercayaan di Jawa Barat. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Tasikmalaya, Solidaritas Jaringan Antar Umat Beragama (SAJAJAR) Tasikmalaya, dan Sobat KBB.

Kegiatan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai dampak psikologis akibat pelanggaran KBB, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan bagi korban dan penyintas untuk membangun komunikasi, berbagi pengalaman, serta memperkuat solidaritas.

Koordinator Nasional Sobat KBB, Angelique Maria Cuaca, mengatakan penguatan kapasitas orang muda menjadi bagian penting dalam membangun jejaring dukungan bagi korban dan kelompok rentan.

“Workshop ini menjadi ruang bagi orang muda korban dan kelompok rentan pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan untuk saling belajar, berbagi pengalaman, serta membangun dukungan satu sama lain. Kami ingin mereka memiliki kapasitas untuk mengenali dampak psikologis yang dialami korban dan mampu memberikan dukungan awal secara tepat,” ujar Angelique.

Menurut Angelique, pendekatan dukungan psikososial dan Psychological First Aid diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teori. Para peserta diharapkan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh ketika kembali ke lingkungan komunitas masing-masing.

“Melalui dukungan psikososial dan Psychological First Aid, kami berharap para peserta tidak hanya memahami kondisi korban, tetapi juga mampu menjadi bagian dari jejaring solidaritas di komunitas masing-masing. Yang paling penting, korban dan penyintas tidak merasa sendirian dalam menghadapi pengalaman kekerasan maupun diskriminasi,” katanya.

Peserta: Sobat KBB Jadi Ruang Saling Menguatkan

Salah seorang peserta, Toni Harpadiansyah, menilai kegiatan Sobat KBB memiliki peran penting sebagai wadah dan jejaring solidaritas bagi korban maupun penyintas kekerasan dan diskriminasi berbasis agama dan keyakinan.

Menurut Toni, pertemuan lintas komunitas memberikan kesempatan kepada peserta untuk membangun jaringan komunikasi sekaligus saling menguatkan. Hal tersebut dinilai penting agar korban maupun penyintas tidak merasa menghadapi persoalan seorang diri.

“Acara Sobat KBB ini sangat bagus sebagai wadah atau jejaring solidaritas bagi para korban dan penyintas kekerasan serta diskriminasi berbasis agama dan keyakinan di seluruh Indonesia,” kata Toni.

Ia menambahkan, interaksi antarpeserta selama workshop membuka ruang untuk saling berbagi pengalaman dan membangun kekuatan bersama.

“Dengan mengikuti kegiatan ini kita bisa membangun jaringan komunikasi dan saling menguatkan antar sesama penyintas agar tidak merasa sendirian,” ujarnya.

Toni juga mengapresiasi konsep kegiatan yang memberikan keleluasaan kepada peserta untuk aktif menyampaikan pandangan. Menurutnya, peserta tidak sekadar mengikuti materi, tetapi juga memiliki ruang untuk menyoroti persoalan, mengkritisi kebijakan, dan mendorong perubahan.

“Acara dikemas secara menarik dan memberikan keleluasaan kepada para peserta untuk aktif menyoroti, mengkritisi, serta mendorong perubahan atas berbagai kebijakan negara yang dinilai diskriminatif,” katanya.

Ia mengaku bangga dapat bergabung dalam jejaring Sobat KBB dan berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak peserta.

“Saya sangat bangga bisa bergabung dengan Sobat KBB ini. Harapannya kegiatan Sobat KBB sering dilakukan dan para peserta juga semakin banyak,” tutur Toni.

Membangun Jejaring Solidaritas

Angelique menegaskan, keberadaan jejaring menjadi salah satu bagian penting dalam memperkuat ketahanan korban dan kelompok rentan. Dengan semakin luasnya jaringan, dukungan terhadap korban diharapkan tidak hanya muncul ketika terjadi kasus, tetapi juga dapat dibangun melalui komunikasi dan solidaritas yang berkelanjutan.

“Sobat KBB diharapkan dapat menjadi ruang solidaritas yang terus berkembang. Kami ingin jejaring ini semakin kuat, semakin banyak orang muda yang terlibat, dan semakin banyak kelompok yang memiliki kapasitas untuk saling mendukung ketika terjadi pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan,” ujar Angelique.

Workshop tersebut juga menempatkan komunitas sebagai bagian penting dalam proses pemulihan dan penguatan korban. Dukungan dari lingkungan terdekat dinilai dapat membantu korban menghadapi dampak psikologis sekaligus membangun kembali rasa aman dan kepercayaan diri.

Melalui materi PFA, peserta diperkenalkan pada kemampuan dasar untuk mengenali kebutuhan korban dan memberikan dukungan awal secara tepat. Sementara pendekatan psikososial berbasis komunitas diarahkan untuk membangun lingkungan yang saling mendukung bagi korban dan penyintas.

Kehadiran sekitar 20 perwakilan komunitas agama dan kepercayaan dari Jawa Barat menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring lintas kelompok.

Kegiatan di SMA Plus Alwahid, Salawu, tersebut pada akhirnya bukan hanya menjadi forum peningkatan kapasitas, tetapi juga ruang bertemunya berbagai pengalaman dalam memperjuangkan kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Harapannya, pengetahuan, keterampilan, dan jejaring yang terbentuk selama workshop dapat dibawa oleh peserta ke komunitas masing-masing sehingga solidaritas terhadap korban dan penyintas dapat terus tumbuh di berbagai daerah.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.