
Gentra.id-Pernahkah kamu mengatakan “iya” padahal sebenarnya ingin mengatakan “tidak”?
Mungkin karena takut dianggap tidak peduli. Takut mengecewakan teman. Takut hubungan berubah. Atau sekadar merasa tidak enak jika harus menolak permintaan orang lain.
Jika terlalu sering terjadi, kebiasaan tersebut bisa menjadi tanda seseorang memiliki kecenderungan people pleasing.
People pleasing bukan sekadar kebiasaan menjadi orang baik. Dalam kondisi tertentu, seseorang bisa terlalu sibuk memenuhi kebutuhan dan harapan orang lain sampai mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri.
Fenomena ini semakin relevan bagi Gen Z yang hidup dalam lingkungan sosial yang sangat terhubung. Pesan bisa datang kapan saja, tuntutan pertemanan berlangsung melalui media sosial, sementara validasi dapat terasa seperti sesuatu yang harus terus dikejar.
Karena itu, belajar mengatakan “tidak” sebenarnya bukan tentang menjadi egois. Ini adalah bagian dari kemampuan membangun batasan diri atau personal boundaries.
People Pleasing dan Rasa Tidak Enak Mengatakan “Tidak”
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) pernah mengangkat persoalan ini melalui program OPSI: Obrolan Psikologi, hasil kerja sama Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta.
Dalam episode yang dirilis pada 4 Maret 2026 tersebut, Lusiana Yashinta Ellysa Putri, S.Psi., M.Sc., dosen Fakultas Psikologi UGM, membahas fenomena sulit mengatakan “tidak” dan kecenderungan people pleasing.
Menurut Lusiana, people pleasing merupakan pola ketika seseorang terus memprioritaskan kebutuhan orang lain demi mendapatkan persetujuan atau menjaga kenyamanan, bahkan dengan mengorbankan kebutuhan pribadi.
Ciri-cirinya dapat terlihat dari kesulitan menolak permintaan, mengambil terlalu banyak tanggung jawab meski sudah kewalahan, menekan perasaan sendiri, serta terlalu memikirkan bagaimana orang lain akan memberikan respons.
Menariknya, Lusiana menjelaskan bahwa kecenderungan tersebut tidak muncul begitu saja.
Pola pengasuhan dapat menjadi salah satu faktor. Anak yang terbiasa mendapatkan pujian atau kasih sayang secara bersyarat, misalnya ketika mendapatkan prestasi tertentu, dapat belajar menghubungkan harga dirinya dengan pengakuan dari orang lain.
Faktor budaya juga tidak bisa diabaikan.
Dalam masyarakat Indonesia, terutama lingkungan yang menjunjung keharmonisan hubungan sosial, konsep seperti ewuh pakewuh atau rasa sungkan dapat membuat seseorang semakin sulit menolak permintaan orang lain.
Gen Z dan Tekanan untuk Selalu Menyenangkan Orang Lain
Bagi Gen Z, kebutuhan untuk diterima bisa hadir dalam berbagai bentuk.
Di lingkungan pertemanan, misalnya, seseorang mungkin merasa harus selalu hadir ketika teman membutuhkan. Di dunia kerja, ada dorongan untuk menerima tugas tambahan agar dianggap profesional. Di media sosial, seseorang bisa merasa harus selalu terlihat baik, ramah, aktif, dan menyenangkan.
Masalahnya, manusia memiliki energi dan waktu yang terbatas.
Jika setiap permintaan selalu diterima, pada akhirnya ada sesuatu yang harus dikorbankan. Waktu istirahat berkurang, pekerjaan menumpuk, kehidupan pribadi terganggu, bahkan hubungan dengan diri sendiri bisa semakin jauh.
Harvard Graduate School of Education melalui proyek Making Caring Common pada 2026 menemukan bahwa 51 persen Gen Z dewasa berusia 18–29 tahun yang disurvei melaporkan kekurangan makna atau tujuan dalam hidup.
Studi tersebut juga menemukan bahwa Gen Z yang merasa dirinya dibutuhkan dan mampu memberikan dampak positif kepada orang lain memiliki kemungkinan sekitar tiga hingga empat kali lebih besar untuk merasakan makna dan tujuan hidup.
Temuan tersebut penting untuk dibaca secara proporsional.
Membantu orang lain bukanlah sesuatu yang buruk. Justru kepedulian dan kontribusi kepada orang lain dapat menjadi sumber makna hidup.
Persoalannya adalah ketika membantu orang lain berubah menjadi kebutuhan untuk selalu mendapatkan persetujuan mereka.
Di situlah kepedulian bisa berubah menjadi people pleasing.
Mengatakan “Tidak” Bukan Berarti Egois
Salah satu hambatan terbesar bagi people pleaser adalah rasa bersalah.
Ketika menolak permintaan, muncul pikiran seperti:
“Apakah aku jahat?”
“Apakah dia akan marah?”
“Jangan-jangan dia tidak mau berteman lagi.”
“Apakah aku terlalu mementingkan diri sendiri?”
Padahal, mengatakan “tidak” dengan cara yang sehat berbeda dengan bersikap kasar atau tidak peduli.
American Psychological Association (APA) mendefinisikan assertiveness sebagai gaya komunikasi adaptif ketika seseorang mampu menyampaikan perasaan dan kebutuhannya secara langsung sambil tetap menghormati orang lain.
Dengan kata lain, seseorang dapat menolak tanpa harus merendahkan orang lain.
Contohnya:
“Maaf, kali ini aku belum bisa membantu.”
“Aku sedang punya beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.”
“Terima kasih sudah mengajak, tetapi aku memilih istirahat hari ini.”
Kalimat seperti itu bukan bentuk permusuhan. Itu adalah bentuk komunikasi yang jelas.
Jangan Langsung Menjawab Setiap Permintaan
Bagi seseorang yang terbiasa menjadi people pleaser, mengatakan “tidak” secara spontan mungkin terasa sangat sulit.
Karena itu, langkah pertama tidak harus langsung berupa penolakan.
Cobalah belajar memberi jeda sebelum menjawab.
Ketika seseorang meminta bantuan, tidak ada kewajiban untuk langsung mengatakan “iya”.
Kalimat sederhana seperti, “Aku cek dulu jadwalku, ya,” atau “Boleh aku pikirkan dulu?” dapat memberikan kesempatan untuk mempertimbangkan apakah permintaan tersebut memang mampu dipenuhi.
APA juga menyoroti pentingnya memberi jeda sebelum menyetujui permintaan. Psikolog organisasi Sunita Sah menyarankan seseorang tidak langsung mengikuti dorongan untuk patuh, tetapi mengambil waktu untuk menilai apakah keputusan tersebut sesuai dengan nilai dan prioritas pribadinya.
Kebiasaan kecil tersebut dapat membantu seseorang keluar dari pola otomatis: diminta → merasa tidak enak → langsung mengatakan “iya”.
Belajar Menolak Tanpa Memberikan Seribu Alasan
People pleaser sering merasa harus memberikan penjelasan panjang ketika menolak.
Padahal, semakin panjang alasan yang diberikan, semakin besar pula kemungkinan kita merasa harus mempertahankan keputusan ketika orang lain mencoba membujuk.
Penolakan yang sehat bisa sederhana.
“Aku tidak bisa ikut kali ini.”
“Aku belum sanggup mengambil tanggung jawab tambahan.”
“Aku perlu menggunakan waktu ini untuk menyelesaikan urusanku sendiri.”
Tidak perlu marah. Tidak perlu menyalahkan. Tidak perlu membuat cerita.
Cukup jelas.
Dalam konteks komunikasi asertif, kemampuan menyampaikan kebutuhan secara langsung dan tepat merupakan keterampilan yang dapat dilatih. APA juga menjelaskan bahwa pelatihan asertivitas dapat menggunakan latihan komunikasi dan role play untuk membantu seseorang menyampaikan perasaan, pendapat, serta preferensinya secara jelas.
Tidak Semua Orang Akan Senang dengan Keputusan Kita
Ini mungkin bagian paling sulit dari proses keluar dari people pleasing.
Ketika mulai menetapkan batasan, mungkin ada orang yang kecewa.
Dan itu tidak selalu berarti kita melakukan kesalahan.
Orang lain memiliki hak untuk merasa kecewa, sebagaimana kita memiliki hak untuk menentukan batas kemampuan diri.
Hubungan yang sehat tidak seharusnya hanya bertahan ketika seseorang selalu berkata “iya”.
Jika sebuah hubungan hanya berjalan ketika kita terus mengalah, terus tersedia, dan terus memenuhi keinginan orang lain, mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya diri kita, tetapi juga kualitas hubungan tersebut.
Batasan yang sehat justru dapat membantu seseorang memahami hubungan mana yang dibangun atas dasar saling menghargai dan mana yang hanya bergantung pada kepatuhan salah satu pihak.
Merdeka dari Kebutuhan untuk Selalu Disukai
Pada akhirnya, keluar dari people pleasing bukan berarti berhenti menjadi orang baik.
Kita tetap bisa peduli. Tetap bisa membantu. Tetap bisa mendengarkan teman. Tetap bisa berkontribusi kepada lingkungan.
Namun, semua itu dilakukan tanpa kehilangan hak untuk mengatakan “tidak”.
Gen Z tidak harus selalu tersedia untuk semua orang.
Tidak semua pesan harus langsung dibalas. Tidak semua ajakan harus diterima. Tidak semua permintaan harus dipenuhi. Dan tidak semua orang harus menyukai kita.
Belajar berkata “tidak” adalah proses untuk mengenali batas kemampuan, waktu, energi, dan kebutuhan diri sendiri.
Bahkan, kemampuan tersebut dapat menjadi bentuk kemerdekaan personal.
Sebab menjadi pribadi yang baik tidak berarti harus mengorbankan diri sendiri.
Kita boleh membantu orang lain tanpa melupakan diri sendiri. Kita boleh peduli tanpa harus selalu menyenangkan semua orang. Dan kita boleh berkata “tidak” tanpa merasa bersalah.
Mungkin, di tengah dunia yang terus menuntut kita untuk tampil sempurna dan disukai banyak orang, salah satu bentuk kemerdekaan paling sederhana bagi Gen Z adalah berani berkata "tidak...
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Sulit Berkata Tidak? Gen Z Perlu Waspada Kebiasaan People Pleasing

Tragis, Warga Tasikmalaya Tewas Dibacok Tetangga di Kebun Singkong

PORSENI Siswa Madrasah Se-Jawa Barat 2026 Digelar di Kota Tasikmalaya

81 Tahun Merdeka, Kemiskinan Kabupaten Tasikmalaya Masih Jadi Pekerjaan Rumah Besar

9.242 Personel Gabungan Disiagakan Kawal 31 Aksi Demo di Jakarta
