22 Kasus Baru HIV di Kota Banjar, Tantangan Terbesar Ada di Pengobatan

1 Sep 2026, 14.58 WIB
WhatsAppSaluran
22 Kasus Baru HIV di Kota Banjar, Tantangan Terbesar Ada di Pengobatan
ilustrasi ODHIVCameraGentra.id/AI

Gentra.id-BANJAR – Angka itu mungkin terlihat kecil jika hanya dibaca sebagai statistik. Namun di balik 22 kasus baru Orang Dengan HIV (ODHIV) yang ditemukan di Kota Banjar sepanjang Januari hingga Juni 2026, ada persoalan lain yang kini menjadi perhatian pemerintah: memastikan mereka yang telah terdeteksi tidak berhenti pada hasil pemeriksaan, tetapi benar-benar terhubung dengan layanan pengobatan.

Data tersebut disampaikan Ketua Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjar yang juga Wakil Wali Kota Banjar, Supriana, saat memaparkan kondisi penanganan HIV/AIDS kepada wartawan, Senin, 31 Agustus 2026.

Dari 22 temuan tersebut, tujuh kasus terdeteksi di RSUD Banjar, lima kasus di RSBP, sedangkan kasus lainnya ditemukan melalui sejumlah puskesmas. Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, kasus paling banyak berada pada rentang 25 hingga 49 tahun atau kelompok usia produktif.

Proporsinya mencapai 77 persen dari keseluruhan kasus baru yang ditemukan selama semester pertama 2026. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan HIV/AIDS tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga menyentuh kelompok masyarakat yang berada pada usia aktif bekerja, berkeluarga, dan memiliki mobilitas tinggi.

Namun, angka temuan kasus bukan satu-satunya persoalan yang menjadi perhatian KPA Kota Banjar.

Dari 22 ODHIV yang baru terdeteksi tersebut, baru 27,3 persen yang telah memulai pengobatan antiretroviral atau ARV pada semester pertama 2026. Dengan kata lain, sebagian besar kasus baru belum terhubung dengan layanan pengobatan pada periode laporan tersebut.

Supriana menyebut kondisi itu menjadi pekerjaan rumah bersama. Pemerintah tidak hanya berupaya menemukan kasus, tetapi juga memastikan mereka mendapatkan layanan kesehatan secara berkelanjutan.

“Artinya sekitar 7 dari 10 kasus baru berisiko belum terhubung ke layanan pengobatan pada periode laporan ini,” ujar Supriana.

Pengobatan ARV menjadi bagian penting dalam penanganan ODHIV. Karena itu, pemerintah daerah mendorong masyarakat yang merasa memiliki risiko untuk tidak menunda pemeriksaan. Semakin cepat status HIV diketahui, semakin cepat pula seseorang dapat memperoleh pendampingan dan pengobatan dari tenaga kesehatan.

Di sisi lain, upaya tersebut menghadapi persoalan yang tidak kalah penting: stigma.

HIV masih kerap dipandang sebagai penyakit yang membuat seseorang harus dijauhi. Padahal, interaksi sosial sehari-hari seperti berjabat tangan atau bersosialisasi bukan merupakan cara penularan HIV.

Karena itu, Supriana meminta masyarakat tidak memberikan stigma negatif kepada ODHIV. Menurutnya, penanganan HIV/AIDS membutuhkan keberanian untuk memeriksakan diri sekaligus lingkungan sosial yang tidak membuat orang takut mencari pertolongan.

“Kami ingin mengajak mereka yang masuk kelompok berisiko untuk memeriksakan diri dan berobat melalui layanan kesehatan,” katanya.

Bagi KPA Kota Banjar, persoalan HIV bukan hanya tentang berapa banyak kasus yang ditemukan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menemukan mereka yang belum terdeteksi, membawa mereka ke fasilitas kesehatan, kemudian menjaga agar pengobatan tetap berjalan.

Pengelola Program KPA Kota Banjar, Firmansyah, mengatakan pihaknya akan memperkuat edukasi kepada kelompok berisiko. Pendekatan tersebut dinilai penting agar masyarakat memahami HIV/AIDS, mengetahui cara pencegahannya, sekaligus tidak takut melakukan pemeriksaan.

Edukasi juga akan diperluas ke lingkungan sekolah. KPA Kota Banjar berencana turun langsung memberikan pemahaman kepada para pelajar mengenai HIV/AIDS dan langkah pencegahannya.

“Dari Dinas Kesehatan sudah berupaya mengajak mereka yang tidak mau berobat agar berobat. Kami juga akan turun ke sekolah-sekolah untuk edukasi, terkait HIV,” ujar Firmansyah.

Langkah edukasi menjadi penting karena pencegahan tidak cukup hanya dilakukan ketika seseorang sudah terdiagnosis. Pengetahuan mengenai HIV perlu diberikan sejak dini agar masyarakat mampu memahami risiko, menjaga kesehatan reproduksi, dan tidak terjebak pada informasi yang keliru.

Di tengah temuan 22 kasus baru tersebut, Kota Banjar kini menghadapi dua pekerjaan sekaligus. Pertama, mencegah munculnya kasus baru melalui edukasi dan pemeriksaan. Kedua, memastikan ODHIV yang sudah terdeteksi mendapatkan pengobatan secara rutin.

Pada akhirnya, angka 22 bukan sekadar jumlah dalam laporan kesehatan. Di balik angka tersebut terdapat manusia yang membutuhkan layanan kesehatan, pendampingan, serta lingkungan sosial yang tidak menghakimi.

Karena itu, keberhasilan penanggulangan HIV/AIDS tidak hanya dapat diukur dari kemampuan menemukan kasus. Ukuran lainnya adalah seberapa banyak orang yang berisiko berani memeriksakan diri, seberapa cepat mereka mendapatkan pengobatan, dan seberapa kuat masyarakat membangun ruang yang aman bagi mereka untuk tetap menjalani hidup tanpa stigma.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.