Community-Maxxing, Cara Gen Z Melawan Kesepian di Dunia Digital

2 Sep 2026, 09.47 WIB
WhatsAppSaluran
Community-Maxxing, Cara Gen Z Melawan Kesepian di Dunia Digital
IlustrasiCameraPexels/Cottonbro studio

Gentra.id-Ada masa ketika seseorang bisa menghabiskan berjam-jam menatap layar ponsel, berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, membaca percakapan, melihat unggahan teman, hingga tertawa bersama orang-orang yang bahkan tidak pernah ditemuinya secara langsung.

Namun ketika layar dimatikan, kamar kembali sunyi.

Notifikasi mungkin ramai. Jumlah pengikut bisa mencapai ribuan. Grup percakapan juga tidak pernah benar-benar sepi. Tetapi perasaan sendirian tetap saja bisa muncul.

Fenomena semacam itu menjadi salah satu alasan munculnya istilah community-maxxing, sebuah tren yang mendorong Gen Z untuk kembali membangun hubungan sosial secara langsung melalui komunitas dan aktivitas bersama.

Istilah ini belakangan ramai dibicarakan sebagai respons terhadap kebiasaan terlalu lama berada di dunia digital dan doomscrolling. Gagasannya sebenarnya sederhana: manusia membutuhkan manusia lain, bukan hanya layar untuk berinteraksi.

Lalu, bagaimana community-maxxing bisa menjadi cara Gen Z melawan kesepian?

1. Mulai dari Komunitas yang Sesuai dengan Minat

Tidak semua orang nyaman datang ke sebuah acara lalu langsung membuka percakapan dengan orang asing.

Bagi sebagian anak muda, situasi seperti itu justru terasa melelahkan. Karena itu, mencari komunitas berdasarkan minat bisa menjadi pintu masuk yang lebih alami.

Suka membaca? Ada klub buku. Gemar mendaki? Ada kelompok hiking.

Senang bersepeda, fotografi, memasak, merajut, bermain musik atau olahraga? Hampir selalu ada komunitas yang memiliki kegemaran serupa.

Cara ini membuat seseorang tidak perlu memaksakan diri mencari teman dari ruang yang sama sekali asing. Ada aktivitas yang menjadi jembatan percakapan.

Misalnya, dua orang yang baru bertemu mungkin tidak tahu harus membicarakan apa. Tetapi ketika keduanya sama-sama membawa buku yang sama ke klub membaca, percakapan bisa dimulai dari sana. Koneksi pun tumbuh perlahan.

Dalam konsep community-maxxing, hubungan tidak harus langsung menjadi persahabatan dekat. Pertemuan berulang justru bisa membuat seseorang mulai merasa dikenal dan diterima.

2. Sesekali Letakkan Ponsel dan Keluar Rumah

Dunia digital memang menawarkan banyak hal. Informasi datang dalam hitungan detik, hiburan tersedia sepanjang waktu, dan komunikasi menjadi jauh lebih mudah.

Masalahnya muncul ketika aktivitas di layar mengambil terlalu banyak ruang dalam kehidupan sehari-hari.

Doomscrolling, misalnya, dapat membuat seseorang terus menggulir layar meskipun sebenarnya tidak lagi menikmati apa yang dilihat.

Community-maxxing menawarkan arah yang berbeda.

Bukan berarti Gen Z harus meninggalkan media sosial. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara koneksi virtual dan pertemuan nyata. 7Tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Keluar untuk minum kopi bersama teman, mengikuti kegiatan olahraga rutin, menghadiri acara lingkungan, atau sekadar berjalan kaki sambil berbincang dengan orang sekitar bisa menjadi langkah kecil.

Yang penting bukan seberapa banyak orang yang ditemui, melainkan seberapa sering seseorang hadir dalam lingkungan sosial tersebut. Konsistensi menjadi kunci.

Orang yang awalnya hanya dikenal sebagai "wajah yang sering datang" perlahan bisa berubah menjadi teman berbincang. Dari sapaan singkat, muncul obrolan. Dari obrolan, muncul kedekatan.

3. Jadikan Hobi sebagai Alasan untuk Berkumpul

Ada hal menarik dari tren community-maxxing: aktivitas sederhana justru bisa menjadi ruang sosial yang menyenangkan.

Membaca buku, membuat kerajinan, memasak, memanggang kue, bermain musik hingga berkebun mungkin terdengar biasa.

Tetapi ketika dilakukan bersama, aktivitas tersebut berubah menjadi pengalaman sosial.

Tren grandma hobbies, misalnya, menunjukkan bagaimana sejumlah hobi yang dahulu dianggap kuno kembali menemukan tempat di kalangan anak muda.

Merajut tidak lagi sekadar aktivitas untuk mengisi waktu. Membaca bukan hanya kegiatan sendirian di kamar. Membuat kue pun bisa menjadi alasan untuk bertemu.

Polanya sederhana. Ada kegiatan yang disukai. Ada orang-orang dengan ketertarikan serupa. Lalu ada pertemuan yang dilakukan berulang.

Dari sanalah hubungan dapat tumbuh tanpa harus dipaksakan. Ini juga menjadi kabar baik bagi mereka yang merasa bukan tipe orang yang mudah bergaul.

Kamu tidak harus menjadi orang paling cerewet di ruangan untuk membangun koneksi. Cukup hadir, mengikuti kegiatan, dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengenalmu.

4. Jangan Lupa dengan Lingkungan Tempat Tinggal

Kesepian kadang terasa aneh karena seseorang bisa tinggal di tengah banyak orang, tetapi tetap merasa tidak memiliki siapa-siapa.

Padahal, orang-orang yang paling dekat secara geografis sering kali justru belum benar-benar dikenal.

Tetangga, komunitas warga, kelompok olahraga, kegiatan sosial hingga kegiatan sukarela dapat menjadi ruang untuk membangun kembali hubungan dengan lingkungan sekitar.

Di sinilah community-maxxing tidak hanya berbicara tentang mencari teman sebaya.

Interaksi sederhana seperti membantu kegiatan warga, mengikuti kerja bakti, menjadi relawan, atau menghadiri kegiatan lokal dapat menciptakan rasa bahwa seseorang merupakan bagian dari sebuah lingkungan. Bukan sekadar tinggal di sana.

Fenomena serupa juga terlihat dalam berbagai komunitas berbasis aktivitas, termasuk repair cafe yang mempertemukan orang-orang untuk memperbaiki barang sekaligus membangun interaksi sosial.

Aktivitas bersama membuat hubungan terbentuk secara natural. Seseorang tidak perlu datang dengan misi, "Hari ini saya harus mendapatkan teman baru." Cukup datang dan melakukan sesuatu bersama.

5. Beri Ruang untuk Berteman dengan Orang yang Berbeda

Ada kecenderungan manusia mencari orang yang memiliki usia, pekerjaan, hobi, atau latar belakang yang sama.

Padahal, hubungan sosial tidak selalu harus dibangun dari kesamaan.

Berbicara dengan orang yang lebih tua, misalnya, bisa membuka perspektif baru. Berinteraksi dengan anak-anak, pekerja, pelaku komunitas, atau orang dari profesi berbeda juga dapat memperluas cara seseorang melihat kehidupan.

Community-maxxing pada akhirnya bukan kompetisi untuk mengumpulkan sebanyak mungkin teman. Justru sebaliknya. Konsep ini lebih dekat dengan upaya membangun rasa memiliki.

Seseorang mungkin tidak mempunyai puluhan teman dekat. Tetapi jika ia memiliki tempat untuk datang, orang-orang yang mengenal keberadaannya, dan aktivitas yang membuatnya merasa berguna, rasa kesepian bisa perlahan berkurang.

Sejumlah pengalaman komunitas lintas generasi di Inggris juga menunjukkan bagaimana interaksi antara kelompok usia berbeda dapat menciptakan rasa pertemanan dan keterhubungan.

Bukan Berarti Harus Selalu Bersama Orang Lain

Pada akhirnya, community-maxxing bukan ajakan untuk terus-menerus berada di tengah keramaian.

Sendirian juga bukan sesuatu yang salah. Ada perbedaan antara menikmati kesendirian dan merasa terisolasi.

Waktu sendiri bisa menjadi kesempatan untuk beristirahat, berpikir, membaca, atau melakukan hal yang disukai. Namun ketika kesendirian berubah menjadi perasaan bahwa tidak ada tempat untuk pulang secara sosial, mungkin sudah waktunya mencari koneksi baru.

Caranya tidak perlu dramatis, mulailah dari satu komunitas, datang secara rutin, sapa orang yang sama, dan ikuti satu kegiatan. Kemudian ulangi.

Sebab, hubungan sosial sering kali tidak lahir dari satu percakapan panjang. Ia tumbuh dari pertemuan-pertemuan kecil yang terus berulang.

Di tengah dunia yang semakin mudah membuat orang terhubung melalui layar, community-maxxing justru mengingatkan sesuatu yang sangat sederhana: terkadang yang kita butuhkan bukan lebih banyak notifikasi, melainkan lebih banyak kehadiran manusia di sekitar kita.

Dan mungkin, untuk melawan kesepian, langkah pertama bukan membuka aplikasi baru.

Melainkan membuka pintu rumah, keluar sebentar, lalu menemukan komunitas tempat kita bisa merasa menjadi bagian darinya.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.