
Gentra.id-Tasikmalaya — Sejarah tidak hanya menyimpan cerita tentang masa lalu. Di dalamnya terdapat jejak peradaban dan nilai-nilai yang dapat menjadi pijakan untuk membangun masa depan.
Pesan itu disampaikan Bupati Tasikmalaya, H. Cecep Nurul Yakin, saat menghadiri kegiatan Napak Tilas Prasasti Rumantak Geger Hanjuang ke-915 di Kompleks Monumen Geger Hanjuang, Kecamatan Leuwisari, Jumat (21/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk kembali mengingat salah satu peninggalan sejarah penting di Tasikmalaya, yakni Prasasti Rumantak atau Prasasti Geger Hanjuang.
Prasasti tersebut mencatat peristiwa sejarah Tasikmalaya pada 21 Agustus 1111 Masehi. Pada 2026, jejak sejarah itu telah mencapai usia 915 tahun.
Bagi Bupati Cecep, keberadaan prasasti tersebut bukan sekadar peninggalan masa lalu. Prasasti menjadi salah satu bukti bahwa wilayah Tasikmalaya telah memiliki peradaban sejak berabad-abad silam.
“Prasasti Rumantak atau yang dikenal sebagai Prasasti Geger Hanjuang merupakan salah satu peninggalan penting yang menjadi bukti bahwa wilayah Tasikmalaya telah memiliki peradaban yang maju sejak berabad-abad yang lalu,” ujar Cecep.
Di tengah perubahan zaman, keberadaan situs sejarah seperti Geger Hanjuang menghadirkan pengingat bahwa sebuah daerah tidak lahir tanpa sejarah.
Ada perjalanan panjang, ada nilai yang diwariskan, dan ada identitas yang terbentuk dari generasi ke generasi.
Karena itu, menurut Cecep, sejarah tidak semestinya berhenti sebagai sesuatu yang dikenang atau dibanggakan.
Lebih dari itu, nilai-nilai yang diwariskan para leluhur perlu diterjemahkan menjadi inspirasi dalam pembangunan Kabupaten Tasikmalaya pada masa kini dan masa mendatang.
“Kita tidak cukup hanya bangga dengan kejayaan masa lalu, kita harus mampu menjadikan nilai-nilai keteladanan para leluhur sebagai inspirasi untuk membangun Kabupaten Tasikmalaya yang lebih maju,” ucapnya.
Merawat Situs, Merawat Ingatan
Pesan lain yang ditekankan Bupati Cecep adalah pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga situs-situs sejarah yang berada di Kabupaten Tasikmalaya.
Menurutnya, merawat peninggalan sejarah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting agar jejak peradaban tersebut tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga situs sejarah sekaligus mengenalkan sejarah dan budaya Tasikmalaya kepada anak-anak.
“Mari kita rawat situs-situs sejarah yang ada di Kabupaten Tasikmalaya. Mari kita kenalkan sejarah dan budaya Tasikmalaya kepada anak-anak kita,” katanya.
Ajakan tersebut sekaligus menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam keberlanjutan warisan sejarah.
Sebab, sebuah prasasti tidak akan banyak berarti jika hanya menjadi benda yang berdiri di suatu tempat tanpa dipahami maknanya oleh generasi yang hidup hari ini.
Cecep berharap warisan leluhur dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun masa depan yang lebih baik.
“Dan mari kita jadikan warisan para leluhur sebagai sumber inspirasi untuk membangun masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
Napak tilas Prasasti Rumantak Geger Hanjuang ke-915 pun menjadi lebih dari sekadar kegiatan memperingati perjalanan panjang sebuah peninggalan sejarah.
Di tengah pembangunan yang terus bergerak, kegiatan tersebut mengingatkan bahwa Tasikmalaya memiliki akar sejarah yang panjang. Merawat akar itu berarti menjaga identitas, sekaligus memastikan generasi mendatang masih memiliki kesempatan untuk mengenali dari mana daerah ini berasal.
Dengan demikian, sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi dapat menjadi bagian dari cara Tasikmalaya membaca masa kini dan menata masa depannya.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

13.849 KTP-el Lama Dimusnahkan Disdukcapil Garut, Cegah Data Warga Disalahgunakan

Curug Panoongan Tasikmalaya, Hidden Gem di Tengah Alam Cibanteng

Luthfi Terpilih Aklamasi Pimpin Tarung Derajat Kabupaten Tasikmalaya

Polres Ciamis Uji Kesiapsiagaan Personel Lewat Simulasi Alarm Stelling

Bupati Tasikmalaya Ajak Masyarakat Rawat Sejarah dan Peradaban
