
Gentra.id-TASIKMALAYA — Ada tempat-tempat yang tidak perlu banyak polesan untuk membuat orang ingin datang. Cukup suara air yang jatuh, pepohonan yang tumbuh rapat, bebatuan alami dan udara sejuk yang perlahan mengusir penat.
Suasana seperti itu bisa ditemukan di Curug Panoongan, sebuah destinasi wisata alam yang berada di Kampung Sukasari, Desa Cibanteng, Kecamatan Parungponteng, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Nama Curug Panoongan memang belum setenar sejumlah destinasi wisata lain di Tasikmalaya. Namun justru di situlah daya tariknya.
Kawasan ini menawarkan pengalaman wisata yang dekat dengan alam. Air yang jernih mengalir di antara bebatuan, sementara pepohonan hijau menjadi latar yang membuat suasana di sekitar curug terasa teduh.
Curug Panoongan juga bukan sekadar destinasi baru yang muncul karena tren media sosial. Potensinya telah lama diperkenalkan dan dikembangkan oleh masyarakat setempat.
Data pariwisata Jawa Barat mencatat Curug Panoongan sebagai salah satu potensi wisata alam Desa Wisata Cibanteng. Desa wisata tersebut saat ini berstatus rintisan.
Air Jernih dan Kolam Alami
Salah satu daya tarik utama Curug Panoongan adalah airnya.
Aliran air yang jatuh membentuk kolam alami di bawahnya. Bentuk cekungan bebatuan membuat kawasan tersebut terlihat seperti kolam renang alami yang berada di tengah hutan.
Didalamnya pengunjung dapat bermain air, berendam hingga berenang di kolam alami tersebut. Bebatuan di sekitar curug juga menjadi salah satu daya tarik untuk menikmati panorama atau sekadar mengabadikan perjalanan.
Namun, karakter alami Curug Panoongan juga berarti pengunjung perlu memperhatikan kondisi sekitar. Batu yang terkena aliran air dapat menjadi licin, sementara kondisi debit air bisa berubah mengikuti cuaca.
Karena itu, menikmati kesegaran curug sebaiknya tetap dilakukan dengan memperhatikan keselamatan dan kondisi alam.
Berada di Kampung Sukasari Cibanteng
Secara administratif, Curug Panoongan berada di Kampung Sukasari, Desa Cibanteng, Kecamatan Parungponteng, Kabupaten Tasikmalaya.
menggambarkan kawasan tersebut sebagai destinasi yang relatif tenang dengan suasana alam yang masih asri.
Dari kawasan pusat Kota Tasikmalaya, perjalanan diarahkan menuju Kecamatan Parungponteng dan kemudian ke Desa Cibanteng.
Bagian akhir perjalanan menuju curug dilanjutkan dengan berjalan kaki dari area akses kendaraan. Perjalanan kaki menuju lokasi curug dapat ditempuh sekitar 8-10 menit, meski kondisi akses dapat berubah sehingga wisatawan tetap disarankan mengikuti petunjuk lokal atau arahan pengelola.
Perjalanan singkat tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman.
Semakin mendekati curug, suara air biasanya mulai terdengar. Pepohonan dan suasana pedesaan menjadi pembuka sebelum wisatawan akhirnya bertemu dengan aliran air Curug Panoongan.
Punya Cerita di Balik Namanya
Curug Panoongan juga menyimpan cerita lokal mengenai asal-usul namanya.
Salah satu sumber yang memuat informasi mengenai desa wisata Cibanteng menyebut terdapat cerita tentang pertarungan dua jawara untuk memperebutkan seorang perempuan.
Konon, banyak masyarakat datang untuk melihat atau "noong" pertarungan tersebut. Dari kisah itulah kemudian nama Panoongan dikaitkan dengan tempat tersebut.
Cerita semacam ini tentu lebih tepat ditempatkan sebagai folklor atau cerita yang berkembang di masyarakat, bukan fakta sejarah yang telah diverifikasi secara akademis.
Namun, keberadaan cerita lokal tersebut membuat Curug Panoongan memiliki lapisan lain di luar keindahan alamnya.
Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat air terjun, tetapi juga bisa mengenal cerita dan ingatan masyarakat yang berkembang di sekitarnya.
Pernah Menjadi Lokasi Cliff Jumping
Curug Panoongan juga memiliki sisi lain bagi wisatawan yang menyukai aktivitas lebih menantang.
Yaitu aktivitas cliff jumping di kawasan curug tersebut. Aktivitas itu dilakukan dengan melompat dari sisi tebing menuju kolam di bawahnya.
Namun, aktivitas seperti ini tidak bisa disamakan dengan bermain air biasa.
Kondisi kedalaman kolam, debit air, permukaan batu, cuaca dan kemampuan pengunjung harus menjadi pertimbangan utama. Tanpa pengetahuan dan pengawasan yang memadai, aktivitas melompat dari tebing memiliki risiko serius.
Karena itu, wisatawan sebaiknya tidak mengikuti aktivitas ekstrem hanya karena melihatnya di media sosial.
Hidden Gem yang Mulai Dikenal
Curug Panoongan berada dalam kawasan Desa Wisata Cibanteng yang saat ini tercatat sebagai desa wisata rintisan dengan potensi alam berupa Curug Panoongan.
Pengembangan tersebut membuka peluang bagi Cibanteng untuk tidak hanya menjadikan curug sebagai tujuan kunjungan, tetapi mengintegrasikannya dengan potensi wisata lain di desa.
Situs Desa Wisata Cibanteng saat ini juga mempromosikan Curug Panoongan bersama sejumlah destinasi alam lainnya, seperti Gawir Lunjuk dan Bukit Dadaha. Curug Panoongan digambarkan sebagai air terjun alami dengan kolam jernih dan suasana teduh.
Konsep tersebut dapat membuat perjalanan wisata menjadi lebih panjang.
Wisatawan tidak hanya datang, mengambil foto, lalu pulang. Mereka bisa menikmati rangkaian pengalaman di desa, mengenal masyarakat, mencoba produk lokal dan menikmati bentang alam Cibanteng.
Saat Alam Menjadi Alasan untuk Berhenti Sejenak
Pada akhirnya, kekuatan Curug Panoongan bukan terletak pada kemewahan fasilitas.
Daya tariknya justru muncul dari sesuatu yang sederhana.
Air, batu, pepohonan, dan suara alam yang tidak dibuat-buat.
Di tengah rutinitas yang semakin bising, tempat seperti Curug Panoongan menawarkan kesempatan untuk berhenti sebentar.
Mendengar suara air yang jatuh dari bebatuan. Merasakan dinginnya aliran sungai. Duduk di bawah pepohonan. Atau sekadar berjalan menyusuri lingkungan pedesaan sebelum kembali pulang.
Bagi wisatawan yang mencari destinasi alam dengan suasana relatif tenang, Curug Panoongan dapat menjadi salah satu pilihan di Tasikmalaya.
Namun, keindahan tempat seperti ini juga membawa tanggung jawab.
Pengunjung perlu menjaga kebersihan, tidak meninggalkan sampah, tidak merusak vegetasi dan tidak melakukan aktivitas berisiko tanpa persiapan.
Sebab, jika Curug Panoongan ingin tetap menjadi hidden gem, yang harus disembunyikan bukan hanya lokasinya dari keramaian, melainkan juga harus dijaga agar keasriannya tidak hilang karena keramaian itu sendiri.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

13.849 KTP-el Lama Dimusnahkan Disdukcapil Garut, Cegah Data Warga Disalahgunakan

Curug Panoongan Tasikmalaya, Hidden Gem di Tengah Alam Cibanteng

Luthfi Terpilih Aklamasi Pimpin Tarung Derajat Kabupaten Tasikmalaya

Polres Ciamis Uji Kesiapsiagaan Personel Lewat Simulasi Alarm Stelling

Bupati Tasikmalaya Ajak Masyarakat Rawat Sejarah dan Peradaban
