Hadapi Kemarau, Ribuan Warga Kota Banjar Gelar Salat Istisqa

12 Sep 2026, 13.01 WIB
WhatsAppSaluran
Hadapi Kemarau, Ribuan Warga Kota Banjar Gelar Salat Istisqa
Ribuan warga bersama jajaran Pemerintah Kota Banjar melaksanakan Salat Istisqa di Lapang Bhakti, Taman Kota Banjar, Kamis (10/9/2026), sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan di tengah kemarau yang masih berlangsung.CameraDiskominfo

Gentra.id-BANJAR – Langit yang belum juga menurunkan hujan membawa ribuan warga Kota Banjar berkumpul di Lapang Bhakti, Taman Kota Banjar, Kamis (10/9/2026).

Pagi itu, mereka datang dengan satu harapan yang sama: hujan segera turun dan kemarau yang telah berlangsung berbulan-bulan berakhir.

Namun, Salat Istisqa yang digelar bersama Pemerintah Kota Banjar itu bukan semata-mata tentang meminta hujan. Di tengah persoalan ketersediaan air, ada pesan lain yang ikut disampaikan: selama hujan belum datang, manusia tetap harus menjaga air yang masih tersedia.

Salat Istisqa diikuti berbagai unsur masyarakat, mulai dari pelajar, aparatur sipil negara (ASN), organisasi masyarakat Islam hingga warga. Wali Kota Banjar H. Sudarsono, Wakil Wali Kota Supriana, jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah dan sejumlah kepala perangkat daerah turut hadir.

Bagi Pemerintah Kota Banjar, kegiatan tersebut menjadi ikhtiar batiniah menghadapi kemarau yang masih berlangsung.

Ketika Kemarau Mengubah Cara Orang Melihat Air

Kemarau biasanya terasa sederhana ketika air masih mudah ditemukan.

Keran dibuka, air mengalir. Kebutuhan sehari-hari terpenuhi tanpa banyak pertanyaan.

Tetapi keadaan berubah ketika kemarau berlangsung panjang.

Air kemudian tidak lagi sekadar bagian dari rutinitas. Ia menjadi sesuatu yang harus dijaga, dihemat dan dibagikan ketika ada warga lain yang kesulitan mendapatkannya.

Pesan itulah yang disampaikan Wali Kota Banjar Sudarsono seusai pelaksanaan Salat Istisqa.

“Alhamdulillah hari ini kita bisa bersama-sama dengan seluruh warga masyarakat Kota Banjar melaksanakan Shalat Istisqa untuk meminta hujan kepada Allah SWT. Namun, di samping berdoa, mari kita bijak menggunakan air, hemat penggunaan air, dan saling peduli membantu tetangga sekitar yang kekurangan air bersih,” kata Sudarsono.

Pernyataan tersebut menempatkan persoalan kemarau bukan hanya sebagai persoalan cuaca, tetapi juga persoalan kepedulian sosial.

Sebab, kondisi setiap rumah tangga tidak selalu sama. Ada warga yang masih memiliki cadangan air cukup, sementara di tempat lain kebutuhan air bersih mulai menjadi persoalan.

Karena itu, pemerintah mengajak masyarakat tidak hanya menunggu hujan.

Ada tindakan sederhana yang dapat dilakukan dari rumah: menggunakan air seperlunya dan menghindari pemborosan.

Doa, Introspeksi dan Kepedulian

Salat Istisqa dalam tradisi Islam merupakan ikhtiar memohon turunnya hujan ketika terjadi kekeringan.

Tetapi bagi Pemkot Banjar, doa tersebut juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi.

Sudarsono mengajak masyarakat memperbanyak istighfar, bertaubat, meningkatkan amal saleh dan memperbanyak sedekah.

Pesan tersebut membuat kegiatan di Lapang Bhakti memiliki dimensi yang lebih luas.

Ada hubungan antara manusia dengan Tuhan melalui doa, tetapi ada pula hubungan manusia dengan sesamanya melalui kepedulian.

Ketika seseorang berdoa agar hujan turun, pada saat yang sama ia diingatkan untuk tidak menghambur-hamburkan air yang masih dimiliki.

Ketika meminta keberkahan, ia juga diajak melihat apakah ada tetangga di sekelilingnya yang sedang kesulitan.

Di titik itulah Salat Istisqa tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Jangan Sampai Cukup Air Sendiri, tetapi Tetangga Kekurangan

Kemarau juga menguji solidaritas warga.

Wali Kota Banjar mengingatkan agar masyarakat tidak hanya memperhatikan kebutuhan rumah masing-masing.

“Jangan sampai kita merasa cukup air di rumah sendiri, sementara tetangga kita kekurangan. Mari saling peduli dan membantu,” pesannya.

Kalimat itu sederhana, tetapi memiliki persoalan yang jauh lebih besar di belakangnya.

Krisis air tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia hadir perlahan—ketika sumber air mulai menyusut, ketika kebutuhan rumah tangga meningkat, atau ketika warga harus mencari sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam kondisi seperti itu, solidaritas lingkungan menjadi penting.

Bantuan tidak selalu harus menunggu pemerintah datang. Kepedulian dapat dimulai dari lingkungan terdekat, terutama ketika ada warga yang membutuhkan air bersih.

Menunggu Hujan Sambil Menjaga yang Tersisa

Kemarau pada akhirnya memang tidak bisa diselesaikan hanya dengan doa.

Begitu pula sebaliknya, persoalan kekeringan tidak selalu cukup dijawab dengan langkah teknis.

Salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar batiniah. Sementara ajakan menghemat air dan membantu warga yang kekurangan merupakan ikhtiar sosial yang bisa dilakukan setiap hari.

Keduanya tidak harus dipertentangkan.

Masyarakat dapat berdoa sekaligus menghemat air. Pemerintah dapat melakukan penanganan teknis sekaligus mengajak warga memperkuat kepedulian.

Sebab, selama hujan belum turun, air yang tersisa tetap harus diperlakukan sebagai sesuatu yang berharga.

Barangkali itulah pesan paling penting dari Salat Istisqa di Lapang Bhakti Kota Banjar.

Hujan memang dimohon dari langit. Tetapi sembari menunggu langit kembali basah, manusia masih memiliki pekerjaan di bumi: menjaga air, mengurangi pemborosan dan memastikan tetangga yang kekurangan tidak menghadapi kemarau sendirian.

Karena pada akhirnya, kemarau bukan hanya menguji seberapa lama manusia mampu menunggu hujan.

Ia juga menguji seberapa jauh manusia mampu berbagi ketika air mulai sulit didapat.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.