
Gentra.id-TASIKMALAYA – Deru kendaraan dan cerita perjalanan membawa ratusan pegiat komunitas overlanding ke Kabupaten Tasikmalaya. Selama tiga hari, 21–23 Agustus 2026, kawasan Bendungan Leuwikeris menjadi titik temu komunitas dalam Jambore Nasional Overlanding Indonesia 2026.
Bukan sekadar berkumpul, kegiatan tersebut sekaligus membuka ruang bagi Kabupaten Tasikmalaya untuk memperkenalkan wajah wisatanya kepada para pelancong yang terbiasa menjadikan perjalanan sebagai bagian dari pengalaman.
Bupati Tasikmalaya, Dr. H. Cecep Nurul Yakin, bersama Wakil Bupati H. Asep Sopari Al-Ayubi, hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari rangkaian kunjungan kerja Tim Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI.
Dalam kesempatan itu, Cecep menyebut Kabupaten Tasikmalaya memiliki bentang alam yang beragam. Mulai dari kawasan pegunungan, persawahan, sungai, pesisir, hutan, air terjun, hingga berbagai destinasi wisata alam, budaya, dan religi.
Bagi komunitas overlanding, keberagaman tersebut bukan sekadar pemandangan yang dilewati. Setiap jalur menyimpan cerita, sementara setiap persinggahan dapat menjadi pintu untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat dan potensi ekonomi lokal.
Salah satu ruang yang tengah dilirik adalah kawasan Bendungan Leuwikeris. Infrastruktur sumber daya air tersebut tidak hanya dipandang dari fungsi utamanya, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai ruang interaksi masyarakat sekaligus destinasi wisata.
"Kami sangat terbuka untuk membangun kolaborasi yang lebih luas dengan Komunitas Overlanding dalam memperkenalkan berbagai destinasi wisata di Kabupaten Tasikmalaya. Inilah promosi pariwisata yang tumbuh secara organik dari pengalaman," ujar Bupati Cecep.
Pernyataan itu memperlihatkan arah promosi wisata yang tidak semata mengandalkan baliho, iklan, maupun agenda seremonial. Pengalaman langsung para pelaku perjalanan justru diharapkan menjadi cerita yang dibawa pulang dan dibagikan kepada komunitas mereka.
Cecep bahkan mengajak para peserta Jambore Nasional Overlanding Indonesia 2026 tidak sekadar melintas di Kabupaten Tasikmalaya.
"Saya mengucapkan selamat menjelajahi Kabupaten Tasikmalaya. Nikmati alamnya, kenal budayanya, cicipi kulinernya, belanja produk UMKM-nya. Dan yang paling penting, bawa pulang cerita baik tentang Kabupaten Tasikmalaya," ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi penting karena komunitas overlanding memiliki karakter perjalanan yang dekat dengan eksplorasi. Mereka datang bukan hanya untuk mencapai sebuah lokasi, tetapi menikmati perjalanan, menemukan tempat baru, berinteraksi dengan masyarakat, hingga mengabadikan pengalaman.
Di titik inilah pemerintah daerah melihat peluang yang lebih besar.
Kehadiran komunitas overlanding di Kabupaten Tasikmalaya diharapkan dapat menjadi jembatan promosi pariwisata yang bergerak dari pengalaman personal menuju cerita yang lebih luas.
Seorang peserta yang menikmati perjalanan di Tasikmalaya, misalnya, bukan hanya membawa kendaraan kembali ke daerah asal. Ia juga membawa foto, video, cerita tentang jalur yang dilalui, kuliner yang dicicipi, serta kesan tentang masyarakat yang ditemui sepanjang perjalanan.
Cerita-cerita itulah yang kemudian dapat menjadi promosi wisata secara organik.
Di sisi lain, pergerakan komunitas juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Ketika wisatawan singgah, kebutuhan terhadap makanan, penginapan, bahan bakar, suvenir, hingga produk UMKM lokal ikut bergerak.
Karena itu, Bupati Cecep berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai ajang berkumpul komunitas.
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya ingin momentum tersebut berkembang menjadi kerja sama yang lebih panjang, terutama dalam memperkenalkan destinasi wisata sekaligus mendorong pergerakan ekonomi masyarakat.
Jambore Nasional Overlanding Indonesia 2026 akhirnya tidak hanya meninggalkan jejak ban kendaraan di jalur perjalanan. Ada harapan agar setiap kendaraan yang meninggalkan Leuwikeris juga membawa pulang satu hal lain: cerita tentang Tasikmalaya.
Cerita tentang alamnya, budayanya, kulinernya, produk UMKM-nya, dan keramahan masyarakatnya.
Sebab bagi sebuah daerah wisata, perjalanan seorang tamu tidak selalu berakhir ketika kendaraan meninggalkan lokasi. Kadang, perjalanan justru berlanjut melalui cerita yang dibawa pulang.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

ISBI Bandung Bersiap Bangun Kampus di Pangandaran, Pemkab Diminta Tambah Hibah Lahan

Jambore Nasional Overlanding 2026, Saat Tasikmalaya Membuka Jalan Promosi Wisata dari Balik Kemudi

Dua Pelajar Kabupaten Tasikmalaya Bawa Pulang Medali O2SN Nasional 2026

Bermodal 6 Barcode dan Blind Van, Pria Tasikmalaya 3 Tahun Kuras Pertalite untuk Dijual ke Garut

Bupati Pangandaran Citra Pitriyami Jadi Dewi Siti Samboja, Grogi di Panggung Pertama
