Korban Gempa NTT Capai 91 Jiwa, 161.084 Warga Masih Mengungsi

24 Agu 2026, 05.45 WIB
WhatsAppSaluran
Korban Gempa NTT Capai 91 Jiwa, 161.084 Warga Masih Mengungsi
Sejumlah tenaga medis yang ada di KRI dr. Soeharso-990 sedang melakukan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak gempa NTT M7.7 di Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (22/8).CameraBNPB

Gentra.id-NTT — Duka akibat gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali memperbarui data korban hingga Minggu (23/8/2026) sore.

Berdasarkan data BNPB hingga pukul 16.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia mencapai 91 orang, bertambah empat jiwa dibandingkan data sehari sebelumnya. Selain itu, sebanyak 1.286 warga dilaporkan mengalami luka-luka.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan penambahan korban tersebar di sejumlah wilayah terdampak.

“Saat ini, hingga pukul 16.00 WIB Minggu 23 Agustus, jumlah korban meninggal sebanyak 91 jiwa atau bertambah 4 jiwa dari hari sebelumnya.” ungkap Berton

Berton menjelaskan, korban meninggal dunia tersebut tersebar di Kabupaten Manggarai sebanyak 32 orang, Manggarai Timur 31 orang, Nagekeo 14 orang, Sikka enam orang, Ngada lima orang, Ende dua orang, dan Manggarai Barat satu orang.

Data tersebut memperlihatkan bahwa dampak gempa tidak terkonsentrasi pada satu wilayah saja. Sejumlah kabupaten di Pulau Flores masih menghadapi konsekuensi bencana, baik berupa korban jiwa, luka-luka maupun kerusakan bangunan.

Lebih dari 161 Ribu Warga Mengungsi

Besarnya dampak gempa juga terlihat dari jumlah warga yang harus meninggalkan rumah mereka. BNPB mencatat jumlah pengungsi kembali meningkat menjadi 161.084 jiwa.

Berton menyebut Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, disusul Nagekeo dan Manggarai Timur.

“Saat ini data pengungsi yang ada pada kami bertambah lagi menjadi 161.084 jiwa. Adapun tiga kabupaten tertinggi adalah Kabupaten Manggarai (46.519 jiwa), Nagekeo (34.256 jiwa), dan Manggarai Timur (31.372 jiwa).” Jelas Berton

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat tidak berhenti pada penanganan korban meninggal dan luka-luka. Ratusan ribu penyintas masih membutuhkan tempat aman, makanan, air bersih, layanan kesehatan serta berbagai kebutuhan dasar lainnya.

Situasi di pengungsian juga menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan relawan karena warga belum seluruhnya dapat kembali ke rumah masing-masing.

Mayoritas Korban Berasal dari Kelompok Rentan

BNPB juga merinci karakteristik korban meninggal dunia. Dari 91 korban, sebanyak 48 orang merupakan perempuan, 40 laki-laki, sedangkan tiga korban lainnya masih dalam proses identifikasi.

Berdasarkan kelompok usia, korban terdiri dari 39 lansia, 35 orang dewasa, 12 anak dan remaja, empat batita, serta satu balita.

Yang menjadi perhatian, BNPB mencatat 51 persen korban meninggal akibat dampak langsung gempa, seperti tertimpa reruntuhan bangunan. Sementara 49 persen lainnya meninggal akibat dampak tidak langsung dari bencana.

Data tersebut menjadi gambaran bahwa risiko bencana tidak hanya muncul ketika guncangan terjadi, tetapi juga dapat berlanjut setelah gempa utama melalui berbagai dampak ikutannya.

Bantuan Logistik Terus Didistribusikan

Di tengah tingginya kebutuhan penyintas, pemerintah terus mengupayakan distribusi bantuan ke wilayah terdampak.

BNPB menyebut bantuan logistik dikirim melalui sejumlah jalur untuk mendukung penanganan masyarakat di wilayah terdampak. Hingga 23 Agustus 2026, distribusi logistik secara kumulatif dilaporkan mencapai sekitar 1.226 ton, yang disalurkan melalui 77 sorti penerbangan dan satu kapal laut.

Bantuan tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan darurat, terutama untuk memenuhi kebutuhan warga yang masih bertahan di lokasi pengungsian.

Dengan jumlah korban meninggal yang telah mencapai 91 jiwa dan lebih dari 161 ribu warga masih mengungsi, penanganan gempa NTT kini memasuki fase yang membutuhkan koordinasi panjang.

Pemerintah tidak hanya dituntut mempercepat penyaluran bantuan, tetapi juga memastikan kebutuhan kesehatan, perlindungan kelompok rentan, pemulihan tempat tinggal serta pemulihan kehidupan masyarakat terdampak dapat berjalan secara bertahap.

Situasi tersebut membuat pembaruan data BNPB menjadi penting sebagai dasar dalam menentukan langkah penanganan berikutnya, sekaligus memastikan bantuan dapat diarahkan ke wilayah yang paling membutuhkan.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.