
Gentra.id-KALIMANTAN — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Kalimantan. Memasuki periode rawan kebakaran, munculnya ratusan titik sumber asap menjadi sinyal bahwa persoalan karhutla belum sepenuhnya teratasi.
Kondisi ini sekaligus mengingatkan bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan bukan hanya berkaitan dengan api yang harus segera dipadamkan. Di baliknya terdapat persoalan tata kelola lingkungan, kondisi lahan gambut, ketersediaan air hingga efektivitas pencegahan yang dilakukan sebelum kebakaran meluas.
dilansir dari suara.com, Greenpeace Indonesia menyoroti situasi tersebut setelah pemantauan pada 11 hingga 16 Agustus 2026 menemukan ratusan titik sumber asap di wilayah Kalimantan.
Dalam pemantauan tersebut, terdapat 592 titik sumber asap di Kalimantan. Sebagian besar berada di kawasan yang memiliki karakteristik rentan terhadap kebakaran, terutama lahan gambut.
Kalimantan Barat menjadi daerah dengan temuan titik sumber asap paling banyak, mencapai 322 titik. Berikutnya Kalimantan Tengah dengan 181 titik dan Kalimantan Selatan sebanyak 86 titik.
Lahan Gambut Kembali Jadi Sorotan
Keberadaan titik sumber asap di kawasan gambut menjadi perhatian karena kebakaran di ekosistem tersebut memiliki karakter berbeda dibandingkan kebakaran di lahan biasa.
Ketika kondisi gambut mengering, api dapat menjalar dan membakar lapisan organik di bawah permukaan. Kondisi ini membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit dan berpotensi menimbulkan asap dalam waktu panjang.
Karena itu, menjaga kelembapan gambut dan memastikan sistem tata air tetap berfungsi menjadi bagian penting dari upaya mencegah kebakaran.
Greenpeace menilai persoalan tersebut perlu mendapatkan perhatian serius. Penanganan karhutla seharusnya tidak hanya dilakukan ketika titik api telah muncul, tetapi dimulai dari perlindungan kawasan yang memiliki risiko tinggi.
Dampak Asap Tak Berhenti di Lokasi Kebakaran
Karhutla juga membawa persoalan lain yang langsung dirasakan masyarakat, yakni memburuknya kualitas udara.
Asap kebakaran dapat bergerak mengikuti arah angin dan melintasi batas wilayah. Dampaknya bahkan dapat dirasakan hingga negara tetangga.
Dalam periode pemantauan Greenpeace, asap dari kebakaran di Kalimantan Barat disebut berdampak hingga Sarawak, Malaysia.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa karhutla memiliki dampak yang lebih luas dibandingkan luasan wilayah yang terbakar. Gangguan kualitas udara dapat memengaruhi aktivitas masyarakat, transportasi, perekonomian hingga kesehatan.
Kekhawatiran terhadap kesehatan semakin besar ketika konsentrasi partikulat di udara meningkat. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan masyarakat dengan gangguan pernapasan menjadi pihak yang perlu mendapatkan perlindungan lebih.
Modifikasi Cuaca Bukan Satu-satunya Jawaban
Berbagai langkah darurat memang dapat dilakukan ketika kebakaran terjadi. Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan potensi hujan di wilayah yang mengalami karhutla.
Namun, Greenpeace menilai langkah tersebut tidak cukup jika tidak dibarengi dengan strategi pencegahan yang lebih mendasar.
Peneliti Senior Greenpeace Indonesia, Sapta Ananda Proklamasi, menilai pemerintah memiliki banyak sumber daya yang dapat digunakan untuk mencegah kebakaran sejak awal.
Menurutnya, perhatian perlu diarahkan pada persoalan ekosistem, termasuk pengelolaan sumber daya air serta perlindungan kawasan gambut dan rawa.
Pendekatan tersebut penting karena pemadaman hanya menangani akibat, sementara penyebab dan kondisi yang memungkinkan kebakaran berulang tetap harus diselesaikan.
Ratusan Titik di Papua Selatan Ikut Disorot
Ancaman kebakaran tidak hanya ditemukan di Kalimantan. Greenpeace juga mencatat ratusan titik sumber asap di Papua Selatan.
Dalam pemantauan yang sama, terdapat 284 titik sumber asap di Papua Selatan, dengan sebagian besar berada di wilayah Merauke.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan karhutla memiliki pola yang lebih luas. Kawasan hutan, gambut dan lahan basah yang mengalami perubahan fungsi maupun gangguan tata air memiliki risiko menghadapi kebakaran apabila kondisi lingkungan semakin kering.
Situasi itu menjadi tantangan bagi pemerintah untuk memastikan pembangunan dan pengelolaan lahan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan.
Pencegahan Harus Dilakukan Sebelum Api Muncul
Karhutla yang kembali muncul menjadi momentum untuk mengevaluasi strategi penanganan yang selama ini diterapkan.
Upaya pemadaman tetap diperlukan. Namun, pencegahan seharusnya mendapat porsi yang sama pentingnya, bahkan menjadi prioritas.
Greenpeace mendorong penguatan perlindungan ekosistem gambut, pemulihan kawasan yang mengalami kerusakan serta perbaikan tata kelola air. Penegakan hukum terhadap aktivitas yang menyebabkan kerusakan lingkungan juga dinilai penting untuk mencegah kebakaran berulang.
Persoalan karhutla pada akhirnya tidak cukup diselesaikan dengan mengejar titik api. Pemerintah perlu memastikan kawasan yang rawan terbakar tetap terlindungi dan masyarakat tidak terus menghadapi siklus kebakaran serta kabut asap setiap musim kemarau.
Jika pencegahan dilakukan secara konsisten, potensi kebakaran dapat ditekan sebelum berubah menjadi bencana yang lebih besar.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Rehabilitasi Irigasi Cikunten II Dikebut, Pemerintah Bidik Produktivitas Pertanian Tasikmalaya

Enam Provinsi Jadi Prioritas Penanganan Karhutla, Pemerintah Siapkan 38 Armada Udara

Pilkades Ciamis 2026 Uji Demokrasi Digital, Edukasi Pemilih Jadi Tantangan

Gudang Barang Bekas di Banjarsari Ciamis Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp10 Juta

OJK Tasikmalaya: Judi Online Makin Mudah Diakses, Pelajar Terancam Lewat Game
