
Gentra.id-CIAMIS – Situ Lengkong Panjalu kembali menjadi saksi sebuah tradisi yang telah hidup melintasi zaman. Di tengah suasana yang dipenuhi masyarakat, tokoh adat, ulama, pemerintah daerah, hingga wisatawan, benda-benda pusaka peninggalan leluhur kembali diarak dalam rangkaian Upacara Adat Nyangku, Senin (7/9/2026).
Tradisi tahunan tersebut menjadi bagian dari Festival Budaya Panjalu 2026. Tahun ini, Nyangku mengangkat tema “Melalui Nyangku dan Festival Budaya Panjalu Kita Tingkatkan Pendalaman Nilai-Nilai Budaya dan Keislaman dalam Menelusuri Jejak Kebaikan Para Karuhun.”
Tema itu seolah menjadi pengingat bahwa Nyangku bukan hanya tentang benda-benda pusaka yang dibersihkan setiap tahun. Di balik ritual tersebut terdapat pesan tentang bagaimana masyarakat Panjalu menjaga hubungan dengan sejarah, menghormati leluhur, sekaligus merawat nilai-nilai keislaman yang berkembang dalam perjalanan sejarah Panjalu.
Bukan Sekadar Ritual Tahunan
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menegaskan, Nyangku tidak seharusnya berhenti sebagai seremoni budaya yang digelar setiap tahun.
Menurut Herdiat, tradisi tersebut memiliki pesan penting bagi generasi sekarang untuk mengenali perjalanan para leluhur dan mengambil nilai kebaikan yang masih relevan dalam kehidupan masa kini maupun masa mendatang.
“Untuk menelusuri dan meneladani jejak kebaikan para karuhun, kemudian dijadikan pijakan dalam kehidupan masa kini dan masa yang akan datang,” ujar Herdiat dalam kegiatan tersebut.
Bagi Pemerintah Kabupaten Ciamis, Nyangku merupakan salah satu kekuatan budaya yang dimiliki masyarakat Panjalu. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan dan gotong royong.
Herdiat mengingatkan bahwa Nyangku bukan hanya milik masyarakat Panjalu maupun Kabupaten Ciamis. Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia setelah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2017.
Karena itu, keberlangsungannya membutuhkan keterlibatan lintas generasi. Nilai yang terkandung di dalam tradisi tersebut harus terus dikenalkan kepada anak-anak muda agar tidak terputus oleh perubahan zaman.
“Tradisi ini bukan hanya milik masyarakat Panjalu dan Kabupaten Ciamis, tetapi telah menjadi bagian dari khasanah budaya bangsa yang wajib kita lestarikan dan wariskan kepada generasi yang akan datang,” tegas Herdiat.
Dari Bumi Alit Menuju Situ Lengkong
Rangkaian Nyangku 2026 berlangsung melalui sejumlah tahapan. Prosesi diawali dengan tawasul, kemudian dilanjutkan persiapan di Bumi Alit.
Dari tempat tersebut, rombongan membawa benda-benda pusaka menuju kawasan Situ Lengkong. Pusaka kemudian diseberangkan menuju Nusa Gede sebelum dibawa ke panggung utama untuk mengikuti rangkaian acara.
Di lokasi, prosesi diisi dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan, pedaran sejarah Panjalu, hingga doa bersama. Salah satu bagian yang menjadi perhatian adalah Gelar Pusaka atau Ngabersihan Pusaka, yang dilaksanakan dengan iringan lantunan shalawat.
Setelah seluruh rangkaian selesai, pusaka kembali dibawa menuju Bumi Alit melalui prosesi Ngabrakeun atau pengembalian pusaka.
Tradisi ini memiliki akar sejarah yang kuat. Nyangku dikenal sebagai ritual membersihkan benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora. Sejumlah pusaka yang dikenal dalam tradisi tersebut antara lain pedang Zulfikar, kujang Panjalu dan keris Stok Komando.
Namun, makna Nyangku tidak berhenti pada aktivitas membersihkan benda pusaka.
Pembersihan pusaka juga dimaknai sebagai simbol membersihkan diri dan menyucikan hati. Karena itu, tradisi tersebut mempertemukan unsur sejarah, kebudayaan dan nilai keagamaan dalam satu rangkaian yang terus dipelihara masyarakat Panjalu.
Ketika Budaya Menjadi Jembatan Antargenerasi
Nyangku juga memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dapat bertahan ketika masyarakat masih merasa memiliki hubungan dengan sejarahnya.
Di tengah perubahan zaman, generasi muda menghadapi lingkungan yang semakin jauh dari tradisi lokal. Budaya populer, teknologi dan media sosial menawarkan berbagai bentuk identitas baru. Dalam kondisi seperti itu, Nyangku menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan kembali akar sejarah kepada generasi penerus.
Pesan itulah yang ingin ditekankan Bupati Herdiat. Menurutnya, menjaga warisan budaya bukan sekadar mempertahankan bentuk ritual yang diwariskan leluhur, tetapi juga memastikan nilai-nilai di balik tradisi tetap hidup.
Penghormatan terhadap sejarah, kecintaan terhadap budaya daerah, kebersamaan, gotong royong serta keteladanan para karuhun menjadi nilai yang diharapkan terus diwariskan.
“Nyangku diharapkan mampu menjadi jembatan antara generasi terdahulu dan generasi masa kini,” kata Herdiat.
Pelaksanaan Nyangku 2026 juga memperlihatkan kuatnya gotong royong masyarakat. Pemerintah daerah, Yayasan Borosngora, tokoh adat, ulama, tokoh masyarakat, perangkat daerah dan warga Panjalu terlibat dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.
Ribuan warga dan wisatawan hadir dalam kegiatan tersebut. Pengamanan pun dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian berjalan aman dan tertib. Polres Ciamis menyebut sekitar 3.000 peserta mengikuti kegiatan di kawasan Situ Lengkong Panjalu.
Bagi Ciamis, Nyangku akhirnya bukan sekadar peristiwa budaya yang datang sekali dalam setahun.
Ia adalah cara masyarakat mengingat dari mana mereka berasal. Ia menjadi ruang untuk membaca kembali perjalanan leluhur, merawat identitas, sekaligus meneruskan nilai-nilai yang dianggap baik kepada generasi berikutnya.
Di Panjalu, sejarah tidak hanya disimpan dalam buku atau benda pusaka. Sejarah dihidupkan kembali melalui sebuah tradisi yang terus berjalan dari generasi ke generasi.
Dan selama masyarakat masih mau merawatnya, Nyangku akan tetap menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

63 ASN Pemkab Tasikmalaya Purna Tugas, Bupati Cecep Berikan Penghargaan

Nyangku Panjalu 2026: Merawat Warisan Karuhun, Menjaga Identitas Ciamis

Jaga Kesehatan di Tengah Ancaman Debu Vulkanik, Polres Garut Bagikan 500 Masker Gratis

Ketika Idealisme Harus Membayar Ongkos Bensin

Erupsi Gunung Anak Krakatau, Dinkes Tasikmalaya Imbau Warga Waspada ISPA
