Pendakian Gunung di Jabar Ditutup Saat Kemarau, Ini Alasannya

1 Sep 2026, 14.18 WIB
WhatsAppSaluran
Pendakian Gunung di Jabar Ditutup Saat Kemarau, Ini Alasannya
Ilustrasi mendaki GunungCameraCrispin Jones/Unsplash

Gentra.id-Bandung Jalur menuju sejumlah gunung di Jawa Barat untuk sementara harus sepi dari langkah para pendaki. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghentikan aktivitas pendakian di seluruh wilayah Jawa Barat selama musim kemarau.

Kebijakan tersebut dikeluarkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melalui Surat Edaran (SE) Gubernur Jawa Barat Nomor 116/KH.02.04.03/ASDA EKBANG tentang Larangan Pendakian Gunung/Hutan di Wilayah Jawa Barat Selama Musim Kemarau.

Keputusan itu bukan sekadar soal membatasi aktivitas wisata alam. Di baliknya ada kekhawatiran terhadap kondisi kawasan hutan dan pegunungan yang lebih mudah terbakar ketika musim kemarau berlangsung.

Dalam surat edaran tersebut, Dedi Mulyadi melarang seluruh aktivitas pendakian gunung maupun hutan di Jawa Barat, termasuk kegiatan lain yang berpotensi memicu terjadinya kebakaran.

"Melarang semua aktivitas pendakian gunung/hutan di wilayah Jawa Barat dan/atau aktivitas lainnya yang berisiko memantik terjadinya bencana kebakaran, selama musim kemarau," demikian isi surat edaran tersebut.

Bukan Sekadar Soal Pendaki

Kawasan gunung selama musim kemarau memiliki kerentanan berbeda dibandingkan musim penghujan. Vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menyala dan menyebar apabila muncul sumber api.

Karena itu, keberadaan manusia di kawasan hutan menjadi salah satu faktor yang perlu dikendalikan. Aktivitas sederhana seperti menyalakan api atau membuang puntung rokok sembarangan dapat berubah menjadi persoalan besar ketika kondisi lingkungan sedang kering.

Sebelumnya, Dedi juga telah meminta agar aktivitas pendakian di daerah yang memiliki kawasan gunung ditunda sementara. Ia menyoroti potensi sumber api yang dibawa para pendaki, terutama rokok dan aktivitas pembakaran.

Kini imbauan tersebut diperkuat melalui surat edaran yang berlaku untuk wilayah Jawa Barat.

Ditujukan ke Pengelola Hutan hingga Kepala Daerah

Surat edaran tersebut tidak hanya ditujukan kepada pengelola kawasan gunung. Pemprov Jabar meminta Kepala Divisi Regional Perhutani Jawa Barat dan Banten, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, serta para bupati dan wali kota se-Jawa Barat ikut menjalankan kebijakan tersebut.

Pemerintah daerah juga diminta memperkuat sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gunung dan hutan.

Masyarakat diingatkan agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menjadi sumber api. Edukasi tersebut menjadi bagian penting dari pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama ketika musim kemarau membuat kawasan hutan lebih rentan terbakar.

Selain sosialisasi, koordinasi antarlembaga juga diminta dilakukan secara cepat apabila muncul potensi kebakaran. Langkah mitigasi diharapkan dapat dilakukan sebelum api membesar dan sulit dikendalikan.

Gunung-Gunung Jabar Ikut Terdampak

Kebijakan ini berdampak pada aktivitas pendakian di berbagai gunung yang selama ini menjadi tujuan wisata alam di Jawa Barat.

Gunung Gede Pangrango, misalnya, mulai menerapkan penutupan aktivitas pendakian sebagai tindak lanjut kebijakan tersebut. Penutupan dilakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan dan informasi mengenai pembukaan kembali akan disampaikan kemudian.

Jawa Barat sendiri memiliki sejumlah gunung yang populer di kalangan pendaki, mulai dari Gunung Ciremai, Gunung Gede, Gunung Pangrango, Gunung Cikuray hingga Gunung Papandayan.

Bagi pendaki, penutupan tersebut tentu berarti harus menunda rencana perjalanan. Namun bagi pemerintah, langkah itu dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga kawasan hutan dari ancaman kebakaran selama kondisi kemarau masih berlangsung.

Terlebih, data yang berjasil dihimpun sebelumnya menyebut telah terjadi 143 kejadian karhutla di Jawa Barat. Kondisi tersebut menjadi salah satu latar kekhawatiran meningkatnya risiko kebakaran selama musim kemarau.

Pada akhirnya, gunung tidak hanya menjadi tempat untuk mengejar puncak dan menikmati pemandangan. Di balik jalur pendakian terdapat hutan, sumber air, habitat satwa, serta ekosistem yang harus dijaga.

Ketika musim kemarau membuat kawasan itu lebih rapuh terhadap api, menunda langkah menuju puncak untuk sementara waktu menjadi pilihan yang diambil pemerintah.

Sebab, satu percikan kecil di tengah hutan yang kering dapat menjadi awal dari kebakaran yang jauh lebih besar.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.