
Gentra.id-TASIKMALAYA — Tempurung kelapa kerap dipandang sebagai sisa pemanfaatan buah kelapa. Namun, melalui kreativitas dan pengolahan yang tepat, bahan tersebut berpeluang menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi sekaligus membuka alternatif usaha bagi masyarakat.
Potensi inilah yang didorong Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui Workshop Pemanfaatan Tempurung Kelapa Menjadi Aksesoris Kreatif dan Bernilai Jual yang digelar bersama Koperasi Produsen Jiwa Mitra Nusantara (JMN) dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Siliwangi (Unsil), Kamis (15/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Gedung M. Nu’man Somantri, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsil tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi komoditas perkebunan melalui pengembangan produk turunan berbasis potensi lokal.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansah, yang memberikan arahan secara virtual melalui Zoom, menegaskan bahwa pengembangan sektor perkebunan perlu melampaui pola produksi dan penjualan bahan mentah.
Menurutnya, pengolahan hasil samping perkebunan menjadi produk bernilai tambah dapat membuka peluang ekonomi baru bagi petani, pengrajin, koperasi, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Pengembangan perkebunan kita tidak boleh berhenti pada penjualan bahan mentah atau komoditas primer semata. Kita perlu mendorong pemanfaatan hasil samping perkebunan, seperti tempurung kelapa, agar dapat diolah menjadi produk bernilai tambah,” ujar Helmi dalam keterangan tertulisnya
Ia menjelaskan, pengembangan produk turunan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan barang, tetapi juga menyangkut kreativitas desain, keterampilan teknis, kualitas produksi, dan strategi pemasaran. Aspek-aspek tersebut menentukan apakah suatu produk memiliki peluang untuk berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.
Karena itu, BPDP mendorong penguatan kapasitas masyarakat perkebunan melalui fasilitasi kemitraan, pemberdayaan UMKM, peningkatan keterampilan, serta penguatan kelembagaan usaha.
“Pelatihan perlu menjadi pintu masuk bagi pengembangan usaha, yang kemudian dilanjutkan dengan pendampingan produksi, penguatan kelembagaan, serta perluasan akses pasar,” jelasnya.
Hilirisasi Membuka Peluang Ekonomi Baru
Pengolahan tempurung kelapa menjadi aksesori kreatif memperlihatkan bagaimana bahan baku lokal dapat dikembangkan melalui inovasi. Bahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal berpotensi memiliki nilai jual lebih tinggi ketika diolah menjadi produk dengan desain menarik dan kualitas yang terjaga.
Menurut Helmi, proses hilirisasi dapat memperluas keterlibatan masyarakat dalam rantai ekonomi, mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan, desain, pengemasan, hingga pemasaran.
Dengan demikian, peluang pendapatan tidak hanya berada pada pihak yang menyediakan bahan baku, tetapi juga masyarakat yang terlibat dalam proses produksi dan distribusi.
“Nilai tambah komoditas perkebunan tidak boleh berhenti pada produksi bahan mentah. Kita perlu mendorong masyarakat agar terlibat dalam proses pengolahan sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas,” ungkapnya.
Meski demikian, peluang tersebut membutuhkan pengembangan produk yang terarah. Kreativitas saja tidak cukup apabila tidak disertai perhitungan biaya produksi, penetapan harga jual, konsistensi kualitas, serta pemahaman terhadap kebutuhan konsumen.
Helmi menilai, penguatan kemampuan teknis harus berjalan beriringan dengan pengetahuan mengenai pengelolaan usaha. Dengan begitu, produk yang dihasilkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki kelayakan bisnis.
Tasikmalaya dinilai memiliki modal untuk mengembangkan kerajinan berbahan tempurung kelapa karena daerah ini memiliki rekam jejak dalam produksi kriya dan pengembangan produk kreatif.
Potensi tersebut dapat menjadi pijakan untuk menciptakan aksesori dengan karakter desain khas yang mampu bersaing di pasar lebih luas. Namun, upaya itu memerlukan peningkatan mutu, pengemasan, penguatan merek, serta kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi permintaan konsumen.
“Kami melihat Tasikmalaya memiliki potensi kriya yang dapat terus dikembangkan. Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin mendorong petani dan pengrajin untuk bertransformasi dari sekadar penyedia bahan baku menjadi produsen yang mampu menghasilkan produk kreatif dengan kualitas yang baik dan daya saing pasar,” tutur Helmi.
Ia juga melihat peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor. Kendati demikian, perluasan pasar tersebut membutuhkan persiapan usaha yang matang, terutama dalam menjaga kualitas produk dan memastikan kapasitas produksi mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Tantangan Keberlanjutan Setelah Pelatihan
Salah satu aspek penting dalam pemberdayaan UMKM adalah memastikan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan setelah kegiatan berakhir. Tanpa pendampingan dan akses pemasaran yang memadai, pelatihan berisiko berhenti pada peningkatan pengetahuan tanpa berlanjut menjadi kegiatan ekonomi produktif.
Karena itu, BPDP mendorong kolaborasi dengan perguruan tinggi, koperasi, pemerintah daerah, dan pelaku usaha untuk memperkuat keberlanjutan program.
Dalam kolaborasi tersebut, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui inovasi desain dan pengembangan produk. Sementara itu, koperasi berpotensi memperkuat konsolidasi pelaku usaha, pengadaan bahan baku, serta jejaring pemasaran.
Keterlibatan pelaku pasar juga dibutuhkan agar produk yang dihasilkan tidak sekadar selesai diproduksi, tetapi memiliki saluran distribusi dan dapat menjangkau konsumen yang sesuai.
“Kita ingin hasil workshop ini memiliki kelanjutan yang konkret. Peserta tidak hanya membawa pulang pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan produk, menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, dan membaca peluang pasar,” tegas Helmi.
Ia menekankan, keberhasilan program pemberdayaan tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan atau banyaknya produk yang dibuat selama kegiatan. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan peserta membangun usaha, menjaga kesinambungan produksi, memperluas pemasaran, dan memperoleh manfaat ekonomi secara nyata.
Perspektif tersebut menempatkan pelatihan sebagai bagian awal dari proses pengembangan usaha. Tahap berikutnya perlu mencakup pendampingan, penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas produk, serta pembukaan akses pasar yang relevan dengan kapasitas pelaku UMKM.
“Pada akhirnya, keberhasilan hilirisasi bukan hanya diukur dari berapa banyak produk yang dihasilkan, melainkan juga dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu menciptakan usaha yang berkelanjutan, membuka kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat posisi UMKM dalam rantai ekonomi,” pungkasnya.
Melalui workshop ini, BPDP bersama Koperasi Produsen JMN dan LPPM Universitas Siliwangi mendorong pengembangan tempurung kelapa sebagai salah satu alternatif diversifikasi usaha berbasis perkebunan.
Ke depan, tantangannya adalah memastikan potensi tersebut benar-benar berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif. Dengan dukungan keterampilan, inovasi, pendampingan, dan akses pasar, tempurung kelapa berpeluang menjadi bahan baku produk kreatif yang memberikan nilai tambah sekaligus memperluas kesempatan usaha bagi masyarakat Tasikmalaya.
Jurnalis/Penulis Gentra.id yang fokus pada analisis, berita, dan isu-isu terkini
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Workshop BPDP dan Unsil Dorong Nilai Tambah Tempurung Kelapa

Riset Gentra Data: Publik Respons Positif Kinerja Kapolres Tasikmalaya

Kasus OTT BNPB di Tengah Karhutla, DPR Soroti Integritas Pejabat

PC PMII Kabupaten Tasikmalaya Periode 2026-2027 Resmi Dilantik, Agis Maghfur Tekankan Penguatan Kaderisasi

Dinasti Literasi: Menikmati Haiku, Merayakan Sastra Bersama Acep Zamzam Noor
