
Gentra.id-Di tengah kehidupan masyarakat yang terus bergerak, pendidikan dan gerakan sosial sering kali berjalan di ruang yang berbeda. Pendidikan identik dengan sekolah, buku, guru, dan ruang kelas. Sementara gerakan sosial lebih sering dipahami sebagai kerja-kerja advokasi, pendampingan masyarakat, atau perjuangan atas persoalan publik.
Bagi Zainda Usmana Aulia, M.Pd., keduanya justru saling berkelindan.
Pria kelahiran Tasikmalaya, 19 Februari 1997, itu menjalani kehidupan sebagai guru, dosen, peneliti, sekaligus terlibat dalam gerakan masyarakat sipil. Ia pernah menjadi Presiden Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta pada 2018, aktif di sejumlah organisasi, dan kini terlibat dalam GUSDURian Tasikmalaya serta Koalisi Masyarakat Sipil.
Jejak pendidikannya juga memperlihatkan perjalanan yang panjang. Setelah menempuh pendidikan di TK Al-Huda, SDN 8 Singaparna, MTsN Sukamanah, dan MAN Sukamanah, Zainda melanjutkan studi S1 di Universitas Negeri Yogyakarta pada 2015–2020. Ia kemudian menempuh S2 di Universitas Pendidikan Indonesia pada 2020–2022 dan kini melanjutkan pendidikan doktoral di kampus yang sama.
Namun, perjalanan akademik itu tidak membuatnya melihat pendidikan semata sebagai urusan gelar dan ruang kelas.
“Bagi saya, pengabdian tidak hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dalam kehidupan sosial masyarakat,” kata Zainda.
Kalimat itu menjadi salah satu pintu untuk memahami perjalanan Zainda. Baginya, pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan seharusnya tidak berhenti sebagai kemampuan akademik, tetapi memiliki konsekuensi sosial: bagaimana pengetahuan itu membuat seseorang lebih peka terhadap kehidupan di sekitarnya.
Dari Ruang Kelas, Belajar Memahami Perbedaan
Pengalaman menjadi pendidik ikut membentuk cara Zainda memandang masyarakat.
Sebagai guru di SMA PGRI 43 Singaparna dan dosen di Universitas Cipasung Tasikmalaya, ia berhadapan dengan peserta didik yang memiliki karakter dan latar belakang berbeda. Dari ruang pendidikan itu, ia belajar bahwa satu persoalan tidak selalu bisa dibaca menggunakan satu sudut pandang.
“Saya belajar bahwa setiap siswa memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda. Dari situ saya memahami bahwa persoalan sosial juga tidak bisa dilihat hanya dari satu sudut pandang,” ujarnya.
Pengalaman tersebut kemudian berkelindan dengan keterlibatannya dalam berbagai aktivitas sosial. Zainda melihat kemampuan mendengarkan, memahami orang lain, dan membangun komunikasi sebagai bagian penting dari pendidikan sekaligus kehidupan bermasyarakat.
Pandangan itu pula yang membuatnya tertarik pada gagasan-gagasan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia melihat nilai kemanusiaan, penghormatan terhadap perbedaan, kebebasan beragama, serta keberpihakan kepada kelompok yang hak-haknya belum terpenuhi sebagai bagian penting dari pemikiran Gus Dur.
“Yang paling menarik dari pemikiran Gus Dur bagi saya adalah nilai kemanusiaannya, bagaimana menghargai perbedaan dan membela kelompok yang hak-haknya belum terpenuhi,” katanya.
Zainda kemudian bergabung dengan GUSDURian Tasikmalaya pada 2022. Di sana ia menemukan ruang untuk belajar, berdialog, dan terlibat dalam kerja-kerja kemanusiaan di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang dan pandangan beragam.
Toleransi Diuji Ketika Berhadapan dengan Perbedaan
Bagi Zainda, toleransi bukan konsep yang selesai ketika seseorang mampu mengatakan bahwa dirinya menghargai perbedaan. Toleransi justru menemukan maknanya ketika seseorang berhadapan langsung dengan pandangan yang tidak sesuai dengan keyakinannya sendiri.
“Toleransi bukan berarti semua orang harus memiliki pemikiran yang sama. Toleransi adalah bagaimana kita mampu mengelola perbedaan dan tetap membangun komunikasi,” ujarnya.
Pemahaman itu tidak lahir dari ruang akademik semata. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya berkaitan dengan persoalan pembatasan aktivitas Jemaat Ahmadiyah di Kabupaten Tasikmalaya.
Persoalan tersebut mempertemukannya dengan situasi yang sensitif. Di satu sisi terdapat perbedaan pandangan keagamaan dan sosial, sementara di sisi lain terdapat persoalan mengenai hak warga negara serta bagaimana masyarakat memperlakukan kelompok yang berbeda.
Dalam situasi seperti itu, Zainda menyadari bahwa kerja kemanusiaan tidak selalu berjalan dalam suasana yang mudah. Bahkan, perbedaan pandangan dapat muncul dari lingkungan yang memiliki kedekatan sosial maupun keagamaan.
Ia pernah mengalami perbedaan pandangan dengan sebagian tokoh NU dalam melihat persoalan Ahmadiyah. Namun, bagi Zainda, perbedaan tersebut tidak harus berubah menjadi permusuhan.
“Perbedaan tidak harus berakhir dengan permusuhan. Kita bisa duduk bersama, saling mendengarkan, lalu mencari titik temu yang damai,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa membela kelompok yang berada dalam posisi rentan tidak berarti harus memusuhi kelompok yang memiliki pandangan berbeda.
“Membela kelompok yang lemah bukan berarti kita harus membenci mereka yang memiliki pandangan berbeda.”
Dari pengalaman tersebut, toleransi bagi Zainda menjadi sesuatu yang praktis. Ia bukan sekadar istilah yang dibicarakan dalam seminar atau diskusi, melainkan sikap yang diuji ketika seseorang bertemu dengan perbedaan secara langsung.
“Toleransi justru diuji ketika kita berhadapan dengan pandangan yang berbeda dengan pandangan kita sendiri,” katanya.
Pendidikan yang Tidak Berhenti pada Nilai Akademik
Di tengah aktivitas sosialnya, Zainda tetap membawa identitasnya sebagai pendidik.
Ia memandang pendidikan memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan pengetahuan. Sekolah, menurutnya, juga menjadi tempat membangun karakter dan kepedulian sosial.
“Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan dan kemampuan akademik, tetapi juga tentang membentuk karakter, empati, tanggung jawab, dan kepedulian sosial,” katanya.
Karena itu, pendidikan dan gerakan sosial tidak ditempatkannya sebagai dua hal yang terpisah.
Apa yang dibicarakan dalam kelas seharusnya dapat menemukan bentuk dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, persoalan yang ditemukan di tengah masyarakat dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memahami bahwa pengetahuan tidak pernah benar-benar terpisah dari realitas.
Bagi Zainda, peserta didik juga perlu belajar bahwa perbedaan bukanlah permusuhan. Mereka perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, tidak mudah terprovokasi informasi, mampu mendengarkan pandangan berbeda, sekaligus tetap memiliki prinsip.
“Menghargai orang lain tidak berarti kehilangan identitas. Justru kedewasaan adalah ketika kita mampu memegang prinsip sekaligus menghormati hak orang lain.”
Pandangan tersebut menjadi penting di tengah kehidupan anak muda yang semakin dekat dengan arus informasi. Bagi Zainda, sikap kritis tidak cukup hanya dengan berani menyampaikan pendapat. Anak muda juga perlu memiliki kemampuan mendengar dan memahami konteks sebelum mengambil sikap.
Sekolah Alam dan Anak-Anak yang Masih Menyimpan Harapan
Di antara berbagai kegiatan yang dijalaninya bersama GUSDURian Tasikmalaya, pengalaman menjadi fasilitator Sekolah Alam GUSDURian menjadi salah satu yang paling bermakna bagi Zainda.
Di sana, ia tidak hanya melihat persoalan pendidikan sebagai teori. Ia bertemu dengan anak-anak yang mengalami hambatan dalam mengakses pendidikan, termasuk mereka yang tidak lagi bersekolah.
Pertemuan tersebut memperluas cara pandangnya tentang persoalan pendidikan.
Ada persoalan keluarga, ekonomi, lingkungan sosial, akses, hingga hilangnya harapan. Karena itu, bagi Zainda, pendidikan tidak cukup hanya berbicara tentang bagaimana seorang anak memperoleh materi pelajaran. Ada persoalan yang lebih mendasar: bagaimana membantu anak kembali percaya bahwa dirinya masih memiliki kesempatan untuk belajar dan memiliki masa depan.
Dari pengalaman itu, ia melihat perubahan tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Seorang anak yang kembali membaca, mulai berani berbicara, kembali memiliki cita-cita, atau sekadar menunjukkan keinginan untuk belajar sudah merupakan bentuk perubahan.
“Perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten,” ujarnya.
Pandangan tersebut sekaligus menjelaskan mengapa Zainda memilih tetap terlibat dalam gerakan sosial. Baginya, perubahan tidak selalu dapat diukur dengan cepat. Ada proses panjang yang membutuhkan kehadiran, kesabaran, dan kemauan untuk terus mendampingi.
Menjaga Ruang bagi Masyarakat untuk Bersuara
Selain GUSDURian, Zainda juga terlibat dalam Koalisi Masyarakat Sipil Tasikmalaya. Dalam peran tersebut, perhatian yang ia dorong berkaitan dengan keadilan, hak warga negara, partisipasi masyarakat dalam kebijakan publik, serta kelompok-kelompok yang berada dalam posisi rentan.
Ia memandang masyarakat sipil bukan sebagai pihak yang selalu berseberangan dengan pemerintah, melainkan sebagai bagian dari ekosistem demokrasi yang dapat mengawasi kebijakan sekaligus memberikan masukan dan solusi.
Menurutnya, masyarakat sipil juga tidak harus memiliki pemikiran yang seragam. Yang lebih penting adalah menemukan tujuan bersama, membangun komunikasi, membuka ruang partisipasi, dan menghargai perbedaan peran.
Pandangan itu kembali memperlihatkan benang merah dari perjalanan Zainda: pendidikan, toleransi, kemanusiaan, dan gerakan masyarakat sipil pada akhirnya bertemu pada satu hal, yakni bagaimana manusia diberi ruang untuk tumbuh sekaligus didengar.
Ia ingin masyarakat memiliki ruang yang lebih luas untuk menyampaikan suara dan terlibat dalam proses yang menyangkut kehidupannya sendiri.
Tidak Ingin Diingat karena Jabatan
Di tengah berbagai peran yang dijalani, Zainda tidak ingin dirinya dikenang terutama karena jabatan atau posisi organisasi.
Ia justru ingin meninggalkan sesuatu yang lebih sederhana: manfaat bagi orang lain.
Sebagai guru, ia ingin memberikan kontribusi kepada generasi muda. Sebagai bagian dari masyarakat sipil, ia ingin terus menjaga ruang dialog, kemanusiaan, dan kepedulian terhadap persoalan publik.
Nilai yang ingin diwariskan pun tidak rumit: kemanusiaan, keberanian melakukan sesuatu yang benar, kepedulian, dan kemampuan menghargai perbedaan.
Ia berharap anak muda tidak mudah terprovokasi, tidak tergesa-gesa menghakimi, dan bersedia mendengarkan pandangan yang berbeda. Sebab, menurutnya, gerakan perubahan tidak harus menunggu seseorang memiliki jabatan atau posisi besar.
Semua bisa dimulai dari lingkungan terdekat dan dilakukan secara konsisten.
Merawat Harapan dari Hal-Hal Kecil
Pada akhirnya, perjalanan Zainda tidak hanya berbicara tentang organisasi, pendidikan, atau advokasi. Ada satu kata yang terus muncul dalam cara ia melihat masa depan: harapan.
Pengalaman bersama anak-anak di Sekolah Alam memperkuat keyakinannya bahwa persoalan pendidikan tidak boleh membuat masyarakat menyerah. Ketika masih ada anak yang ingin belajar, masih ada orang yang membutuhkan dukungan, dan masih ada orang yang bersedia bergerak bersama, maka ruang untuk perubahan tetap terbuka.
Zainda memilih untuk tidak menjadi orang yang hanya menyaksikan persoalan dari kejauhan.
Ia memilih hadir, mendengarkan, dan mengambil bagian sesuai kemampuannya. Di ruang kelas ia mengajar. Di tengah masyarakat ia berdialog. Dalam gerakan sosial ia berusaha menjaga ruang bagi mereka yang suaranya belum cukup terdengar.
“Saya percaya harapan itu masih ada selama masih ada anak yang ingin belajar, masih ada orang yang membutuhkan dukungan, dan masih ada orang-orang yang mau bergerak bersama.”
Kalimat itu mungkin menjadi gambaran paling sederhana tentang perjalanan Zainda Usmana Aulia.
Ia tidak sedang berbicara tentang perubahan sebagai sesuatu yang selalu spektakuler. Baginya, perubahan dapat dimulai dari seorang anak yang kembali percaya diri, seseorang yang bersedia mendengarkan pandangan berbeda, atau sekelompok orang yang memilih duduk bersama daripada saling menjauh.
Dari ruang kelas hingga gerakan masyarakat sipil, Zainda sedang menempuh jalan yang sama: merawat manusia agar tetap memiliki ruang untuk belajar, berbicara, berbeda, dan berharap.
Jurnalis/Penulis Gentra.id yang fokus pada analisis, berita, dan isu-isu terkini
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Zainda Usmana Aulia: Merawat Harapan dari Ruang Kelas hingga Gerakan Masyarakat Sipil

HUT TNI dan Gen Z: Ketika Patriotisme Masuk ke Ruang Digital

HUT ke-25 Kota Tasikmalaya: Dari Logo hingga Maskot Tata dan Titi

Komisi III DPR Datangi Rumah Kapolri Suyudi, Soroti Pembenahan Polri

Dari Pengkritik ke Lingkar Kekuasaan: Pelajaran dari Rocky Gerung dan Budaya Politik Kita
