5 Hektare Perkebunan Jati di Garut Terbakar, Diduga dari Pembakaran Sampah

10 Agu 2026, 12.55 WIB
WhatsAppSaluran
5 Hektare Perkebunan Jati di Garut Terbakar, Diduga dari Pembakaran Sampah
Petugas Damkar Kabupaten Garut sedang melakukan upaya pemadaman api di sebuah perkebunan jati di Cigadog Cikelet Garut /CameraDok. Damkar Garut

Gentra.id-GARUT – Kepulan asap pekat tiba-tiba membumbung dari kawasan perkebunan jati di Kampung Pasir Gambir, Desa Cigadog, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Minggu (9/8/2026) sore.

Api yang awalnya terlihat sekitar pukul 16.00 WIB dengan cepat menjalar di antara semak dan ilalang yang mengering. Embusan angin membuat kobaran semakin sulit dikendalikan hingga akhirnya merembet ke kawasan perkebunan jati milik warga.

Sekitar 5 hektare lahan perkebunan jati terdampak dalam peristiwa tersebut. Kondisi itu sempat membuat warga di sekitar lokasi khawatir, terlebih titik kebakaran berada tidak jauh dari permukiman.

Petugas pemadam kebakaran Kabupaten Garut bersama aparat kepolisian dan warga kemudian bergerak melakukan penanganan. Api yang bergerak mengikuti vegetasi kering harus dilokalisasi agar tidak terus meluas.

Kapolsek Cikelet Iptu Aktas mengatakan, laporan mengenai kebakaran diterima pihaknya sekitar pukul 16.00 WIB. Setelah menerima informasi, petugas piket Polsek Cikelet langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan sekaligus membantu penanganan.

Menurutnya, salah satu faktor yang membuat api cepat merambat adalah kondisi angin yang cukup kencang serta vegetasi yang dalam keadaan kering.

Diduga Berawal dari Pembakaran Sampah

Penyebab pasti kebakaran hingga kini belum diketahui. Namun, dugaan sementara mengarah pada aktivitas pembakaran sampah yang kemudian merembet melalui ilalang kering.

Kondisi tersebut menjadi persoalan serius ketika musim kemarau berlangsung. Api yang semula kecil dapat berubah menjadi kobaran besar hanya dalam waktu singkat apabila bertemu dengan rumput, semak, ranting, dan daun yang telah kehilangan banyak kandungan air.

Polisi pun mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun pembakaran lahan secara sembarangan.

Terlebih ketika angin bertiup kencang dan kondisi lahan sangat kering, bara api yang dianggap sudah padam masih berpotensi menyulut kebakaran baru.

Bukan Kebakaran Lahan Pertama di Garut

Kebakaran di Cikelet menambah daftar kejadian kebakaran lahan yang terjadi di Kabupaten Garut selama musim kemarau.

Sehari sebelumnya, Sabtu (8/8/2026), Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Garut juga menangani tujuh kejadian kebakaran lahan dan kebun dalam satu hari.

Titik kebakaran tersebar di sejumlah wilayah, mulai dari Cibuk, Cibalong, Wanaraja, Leles, Cilawu, Malangbong hingga Leuwigoong.

Jenis lahan yang terbakar cukup beragam. Ada kebun, lahan kosong, kebun bambu hingga lahan yang berada di sekitar permukiman.

Dalam penanganan tersebut, seluruh titik api berhasil dipadamkan dan tidak dilaporkan adanya korban jiwa maupun luka-luka.

Dari rangkaian kejadian itu, petugas Damkar Garut juga mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah di dekat lahan kering atau kebun bambu.

Masyarakat diminta segera melapor apabila menemukan titik api yang berpotensi membesar, terutama jika berada di sekitar jaringan listrik atau permukiman.

Garut dalam Bayang-Bayang Karhutla Jabar

Fenomena kebakaran lahan di Garut tidak berdiri sendiri.

Data kebakaran hutan dan lahan di Jawa Barat periode 1 Januari hingga 9 Agustus 2026 mencatat 79 kejadian karhutla yang tersebar di 86 titik kecamatan, dengan total area terdampak sekitar 87 hektare.

Garut sendiri tercatat mengalami tiga kejadian dalam data tersebut. Angka ini memang masih di bawah Sumedang yang mencatat 14 kejadian dan Majalengka dengan 10 kejadian. Namun, munculnya kebakaran baru di Cikelet menunjukkan bahwa ancaman api masih nyata selama kondisi kemarau berlangsung.

Sebelumnya, kawasan perkebunan di Cikelet juga pernah mengalami kebakaran. Pada 23 Juli 2026, sekitar 15 hektare lahan perkebunan kelapa sawit milik PT Condong di Kecamatan Cikelet terbakar. Saat itu penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Rentetan tersebut memperlihatkan bahwa kawasan dengan vegetasi perkebunan dan lahan terbuka menjadi salah satu titik yang perlu mendapat perhatian lebih selama musim kemarau.

Api Bisa Berawal dari Hal Sederhana

Kebakaran perkebunan jati di Cigadog kembali memperlihatkan bagaimana api dapat bermula dari aktivitas yang dianggap biasa.

Membakar sampah, membersihkan lahan dengan api atau meninggalkan bara setelah pembakaran mungkin terlihat sederhana. Namun, dalam kondisi kemarau panjang, tindakan tersebut dapat berubah menjadi sumber bencana.

Ilalang kering dan semak yang berada di sekitar perkebunan menjadi bahan bakar alami. Ketika angin bertiup, api dapat bergerak dari satu titik ke titik lainnya dengan cepat.

Karena itu, pencegahan menjadi jauh lebih penting dibandingkan menunggu api membesar.

Masyarakat yang tinggal di sekitar perkebunan, lahan kosong, kebun bambu maupun kawasan dengan vegetasi kering perlu meningkatkan kewaspadaan.

Jika menemukan api, sekecil apa pun, masyarakat juga diimbau segera melaporkannya kepada petugas pemadam kebakaran atau aparat terdekat.

Kebakaran lima hektare perkebunan jati di Cikelet menjadi pengingat bahwa pada musim kemarau, satu bara kecil dapat berubah menjadi persoalan besar.

Dan ketika angin mulai bertiup di antara rerumputan kering, waktu untuk mencegah api meluas bisa menjadi sangat singkat.

Nanang AH
Nanang AH

Wartawan senior Gentra.id yang berfokus pada analisis hukum, politik, dan kebijakan publik di Indonesia.

Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.