
Gentra.id-TASIKMALAYA – Pembangunan desa tidak hanya berbicara tentang infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, atau pelayanan publik. Di balik berbagai program pembangunan, ada kebutuhan untuk memastikan setiap warga memiliki ruang yang setara dalam menyampaikan aspirasi, terlibat dalam pengambilan keputusan, dan ikut menjaga kehidupan masyarakat tetap aman serta harmonis.
Pengalaman Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, menjadi salah satu contoh bagaimana pemberdayaan perempuan dapat diintegrasikan dengan upaya membangun perdamaian dan memperkuat ketahanan masyarakat. Praktik tersebut kini dipelajari untuk dikembangkan di sejumlah wilayah lain melalui model Desa Damai Berkelanjutan (DDB).
The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia menggelar pelatihan Training of Trainers (ToT) bertajuk Replikasi dan Adaptasi Model Desa Damai Berkelanjutan bagi Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan pada 13–14 Oktober 2026.
Kegiatan ini mempertemukan perwakilan Jaringan Women, Peace and Security (WPS) Indonesia dari Aceh, Sulawesi Tengah, dan Ambon, yang dipersiapkan menjadi wilayah pengembangan DDB. Selain itu, perwakilan sembilan desa di sekitar Cipakat turut mengikuti pembelajaran untuk mengenali dan mengembangkan praktik serupa sesuai kebutuhan masyarakat masing-masing.
Pelatihan tersebut tidak sekadar memperkenalkan konsep pembangunan desa yang inklusif. Peserta juga diajak mempelajari pengalaman langsung Desa Cipakat dalam memperkuat kelembagaan, membuka ruang partisipasi perempuan, serta membangun kolaborasi antara pemerintah desa dan masyarakat.
Ketika Perempuan Mendapat Ruang untuk Memimpin
Kepala Desa Cipakat, Dadan Ridwan, mengatakan kolaborasi dengan AMAN Indonesia telah mendorong munculnya berbagai gagasan untuk memperkuat kelembagaan desa, terutama dalam pemberdayaan perempuan.
Menurut Dadan, keterlibatan dalam program tersebut turut menumbuhkan optimisme perempuan untuk berpartisipasi dalam kelembagaan dan mengambil peran kepemimpinan di lingkungan masyarakat.
“Setelah bergabung dengan AMAN Indonesia, muncul ide-ide terobosan untuk penguatan kelembagaan, khususnya di bidang pemberdayaan perempuan. Optimisme perempuan untuk terlibat dalam kelembagaan dan tampil memimpin berbagai kegiatan di desa juga semakin tumbuh,” ujar Dadan dalam siaran pers AMAN Indonesia, Selasa (13/10/2026).
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari pembelajaran yang ditawarkan Desa Cipakat. Sebab, pembangunan yang inklusif tidak cukup hanya menyediakan program bagi kelompok rentan, tetapi juga perlu memastikan mereka memiliki kesempatan untuk menentukan arah kebijakan yang menyangkut kehidupan bersama.
Dalam konteks ini, perempuan tidak ditempatkan semata-mata sebagai penerima manfaat pembangunan. Mereka didorong menjadi bagian dari proses identifikasi persoalan, penyusunan solusi, hingga pelaksanaan berbagai inisiatif di tingkat desa.
Program Manager AMAN Indonesia, Nanda Dwinta Sari, menegaskan bahwa keterlibatan perempuan merupakan unsur penting dalam membangun perdamaian yang berkelanjutan.
“Di Desa Cipakat, kita melihat bagaimana perempuan dan kelompok rentan lainnya didengar, dilibatkan secara bermakna, dan memiliki pengaruh dalam proses pengambilan keputusan. Perempuan tidak hanya dipandang sebagai korban konflik, tetapi juga sebagai aktor yang mampu mencegah konflik dan membangun perdamaian,” jelas Nanda.
Pendekatan ini menempatkan pengalaman dan pengetahuan perempuan sebagai bagian dari kekuatan masyarakat dalam mengenali potensi konflik, merespons kekerasan, dan menjaga hubungan sosial.
Menghubungkan Perdamaian dengan Pembangunan Desa
Model Desa Damai Berkelanjutan dikembangkan dari pengalaman AMAN Indonesia dalam memperkuat kepemimpinan perempuan melalui Sekolah Perempuan Perdamaian (SPP), yang dimulai pada 2007.
Model tersebut mengintegrasikan agenda Women, Peace and Security (WPS) dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Desa.
Melalui pendekatan tersebut, perdamaian tidak dipahami sebatas ketiadaan konflik terbuka. Perdamaian juga berkaitan dengan perlindungan dari kekerasan, kesempatan ekonomi, akses terhadap pendidikan, ruang menyampaikan aspirasi, serta kemampuan masyarakat menghadapi perubahan lingkungan dan ancaman bencana.
Penerapan DDB mengacu pada sepuluh indikator. Cakupannya meliputi perlindungan perempuan dan anak, mekanisme penanganan kekerasan, penguatan ekonomi desa berbasis koperasi, pendidikan kritis bagi perempuan, dan pembentukan Forum Aspirasi Perempuan.
Indikator lainnya mencakup paguyuban lintas kelompok, festival budaya yang merawat keberagaman dan lingkungan, forum anak, digitalisasi informasi, serta kesiapsiagaan bencana dan adaptasi iklim.
Kesepuluh indikator tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan desa yang damai membutuhkan keterhubungan antara perlindungan warga, penguatan ekonomi, partisipasi publik, dan ketahanan lingkungan.
Pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Tim Tangguh DDB yang melibatkan unsur pemerintah dan masyarakat, dengan keterwakilan perempuan sebesar 50 persen.
Tim tersebut berperan mengoordinasikan pelaksanaan program, memfasilitasi kerja sama antarpemangku kepentingan, mendukung deteksi dini potensi konflik dan kekerasan, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa.
Dengan struktur tersebut, agenda perdamaian diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari tata kelola dan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dari Cipakat untuk Wilayah Lain
Pemerintah Kecamatan Singaparna turut mendukung pelaksanaan pelatihan yang menjadikan Desa Cipakat sebagai lokasi pembelajaran.
Camat Singaparna, Tono Haeruman, melalui Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial, Ranny Tien Subarkah, menyampaikan harapan agar pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan di wilayah masing-masing.
“Kami dari Pemerintah Kecamatan Singaparna menyampaikan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini. Hari ini kita belajar bersama tentang peran perempuan dan berbagai upaya membangun perdamaian. Mudah-mudahan apa yang disampaikan oleh tim AMAN Indonesia dapat dipelajari dan diimplementasikan di daerah masing-masing,” ungkap Ranny saat membuka kegiatan.
Selama dua hari, peserta mengikuti kunjungan lapangan dan dialog bersama Pemerintah Desa Cipakat, Tim Tangguh DDB, Sekolah Perempuan Perdamaian, serta Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Mereka juga mempelajari analisis kerentanan wilayah, strategi pengorganisasian masyarakat, penguatan kelembagaan, dan pengembangan kemitraan dengan pemerintah desa. Pembelajaran tersebut kemudian dilanjutkan dengan penyusunan rencana aksi replikasi untuk setiap wilayah peserta.
Rencana aksi ini menjadi tahapan penting untuk menerjemahkan pengalaman lapangan ke dalam langkah yang lebih konkret. Peserta diharapkan mampu menentukan indikator prioritas, kebutuhan pendampingan, strategi kolaborasi, serta mekanisme pemantauan pelaksanaan program di daerah masing-masing.
Meski demikian, replikasi DDB tidak diarahkan untuk menyalin seluruh praktik Desa Cipakat secara seragam. Setiap wilayah memiliki kondisi sosial, budaya, kelembagaan, dan kebutuhan masyarakat yang berbeda sehingga penerapannya perlu disesuaikan dengan konteks setempat.
Prinsip adaptasi tersebut menjadi penting agar model yang dikembangkan tidak berhenti sebagai konsep yang dibawa dari satu desa ke desa lain, melainkan tumbuh melalui keterlibatan masyarakat yang akan menjalankannya.
Melalui pelatihan ini, AMAN Indonesia berharap kapasitas jaringan masyarakat sipil semakin kuat dan kerja sama dengan pemerintah desa semakin luas. Tujuannya adalah memperbanyak ruang partisipasi yang bermakna bagi perempuan dan kelompok rentan sekaligus memperkuat kemampuan masyarakat dalam menghadapi konflik, kekerasan, dan berbagai tantangan pembangunan.
Pengalaman Cipakat pada akhirnya menjadi titik berangkat untuk pembelajaran bersama. Keberlanjutan model ini akan bergantung pada sejauh mana gagasan tersebut dapat diterjemahkan menjadi kebijakan, kelembagaan, dan praktik nyata yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di setiap desa.
Jurnalis/Penulis Gentra.id yang fokus pada analisis, berita, dan isu-isu terkini
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Intoleransi Terjadi di Purwakarta, Influencer Vera Novia Serukan Solidaritas

Belajar dari Cipakat, AMAN Indonesia Perluas Model Desa Damai Berkelanjutan

Asap Kebakaran TPA Pasir Bajing Belum Hilang, Tim Gabungan Percepat Pemadaman

DPR dan Pemerintah Sepakati Penurunan Biaya Haji 2027

Dinasti Literasi Hadir di Tasikmalaya, Sastra Tak Sekadar Dibaca tetapi Juga Dirayakan
