
Gentra.id-Bagaimana jika sastra tidak hanya dibaca dalam kesunyian, tetapi juga dihidupkan melalui diskusi, musik, teater, dan pertunjukan seni? Gagasan itulah yang coba dihadirkan Komunitas Cermin Tasikmalaya (KCT) melalui rangkaian kegiatan Dinasti Literasi, sebuah ruang perjumpaan bagi pengetahuan, karya sastra, dan kebudayaan.
Pada Senin malam ini, 12 Oktober 2026, kegiatan ini akan menghadirkan peluncuran sekaligus diskusi buku Musim Dingin di Cipasung, karya Diwan Masnawi, yang berisi kumpulan permenungan kontemporer. Bertempat di Buleud Gallery & Art Studio, Jalan Pemuda No. 1, Kota Tasikmalaya, acara dijadwalkan berlangsung mulai pukul 19.30 WIB.
Diskusi tersebut akan menghadirkan Dr. Maulana Janah, dosen sekaligus esais, serta Dr. Fauz Noor, M.Ag., dosen dan novelis. Dipandu moderator Wulan Shafira Permata, pertemuan ini menjadi kesempatan bagi pengunjung untuk menyelami gagasan dan refleksi yang dituangkan Diwan Masnawi dalam karyanya.
Namun, Dinasti Literasi tidak berhenti pada pembacaan dan pembahasan buku. Sastra juga akan dibawa keluar dari halaman melalui beragam pertunjukan, mulai dari performance art Teater 28 Universitas Siliwangi, musikalisasi esai oleh Cepi Sultoni dari LSMI HMI Cabang Tasikmalaya, hingga monolog esai oleh Rika Johara.
Perpaduan diskusi dan pertunjukan tersebut menghadirkan cara lain dalam menikmati sastra. Kata-kata tidak hanya menjadi bahan perenungan, tetapi juga menjelma suara, gerak, dan ekspresi yang dapat dinikmati bersama.
Rangkaian Dinasti Literasi sendiri berlangsung hingga 17 Oktober 2026. Selama kegiatan, pengunjung dapat menikmati pameran seni rupa, pameran buku, serta berbagai pertunjukan seni yang dibuka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.
Mengusung tema “Mewariskan Pengetahuan, Menghidupkan Kebudayaan”, kegiatan yang digelar Komunitas Cermin Tasikmalaya ini mengajak masyarakat untuk kembali menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Bagi anak muda, ruang semacam ini juga membuka kesempatan untuk bertemu dengan gagasan baru, mengenal karya lokal, dan membangun percakapan melalui seni.
Di tengah kebiasaan menikmati hiburan serba cepat, Dinasti Literasi menawarkan pengalaman yang berbeda: meluangkan waktu untuk membaca, mendengar, berdiskusi, dan memahami berbagai perspektif melalui karya.
Sebab, kebudayaan tidak hanya diwariskan melalui catatan masa lalu. Ia juga tumbuh ketika gagasan dipertemukan, karya diapresiasi, dan ruang-ruang kreatif terus dihidupkan bersama.
Dinasti Literasi menjadi salah satu ruang untuk merayakan proses tersebut—tempat pengetahuan diwariskan, sastra diperbincangkan, dan kebudayaan menemukan cara baru untuk tetap hidup di tengah masyarakat.
Jurnalis/Penulis Gentra.id yang fokus pada analisis, berita, dan isu-isu terkini
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Dinasti Literasi Hadir di Tasikmalaya, Sastra Tak Sekadar Dibaca tetapi Juga Dirayakan

Forsturiafest 2026: Pelajar Tasikmalaya Didorong Menjadi Subjek Perubahan, Bukan Sekadar Objek Masa Depan

Pesangreen dan Hijrah Ekologis Santri, Merawat Sungai hingga Membangun Ekonomi Sirkular

Tanam Kopi di Kutawaringin, GUSDURian Dorong Konservasi dan Kemandirian Warga

Ombudsman RI Dorong Perbaikan Pelayanan Publik Lewat Kekuatan Pengaruh
