
Gentra.id-TASIKMALAYA – Pagi di SDN Panenjoan, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Senin (7/9/2026), terasa berbeda. Ruang sekolah yang biasanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar berubah menjadi ruang belajar yang lebih ramai dan interaktif.
Sebanyak 83 siswa dan 16 guru dari empat sekolah dasar di wilayah Salawu berkumpul dalam kegiatan Dosen Pulang Kampung yang digagas tim dosen dan mahasiswa IPB University.
Program bertajuk CAGEUR-AI: Kursus Dokter Kecil dan Peningkatan Literasi AI untuk Guru SD di Desa Salawu, Tasikmalaya itu berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 12.30 WIB.
SDN Panenjoan menjadi tuan rumah kegiatan. Tiga sekolah lainnya yang ikut ambil bagian yakni SDN 1 Tenjowaringin, SDN 2 Tenjowaringin, dan SDN Sindanghurip.
Sejak awal kegiatan, siswa tidak hanya duduk mendengarkan materi. Mereka diajak belajar kesehatan dan gizi melalui berbagai permainan serta aktivitas kreatif. Pengetahuan tentang kesehatan dikemas sedemikian rupa agar dekat dengan dunia anak-anak.
Ada lomba menggambar bertema kesehatan, permainan tebak tanaman herbal, simulasi menyusun menu gizi seimbang melalui konsep "Isi Piringku", hingga cerdas cermat.
Suasana belajar pun terasa lebih cair. Pengetahuan kesehatan tidak diberikan sebagai hafalan semata, tetapi diperkenalkan melalui permainan yang membuat siswa terlibat langsung.
Dari rangkaian kegiatan tersebut, siswa diarahkan untuk memiliki pengetahuan dasar mengenai kesehatan dan gizi. Bekal itu diharapkan dapat menjadi modal bagi mereka untuk menjalankan peran sebagai Dokter Kecil di sekolah masing-masing.
Di sisi lain, kegiatan yang sama membawa guru ke ruang belajar yang berbeda.
Sebanyak 16 guru dari empat sekolah mengikuti pelatihan literasi Artificial Intelligence (AI). Jika para siswa belajar mengenali kesehatan melalui permainan, para guru diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi untuk mendukung kegiatan pembelajaran.
Dalam workshop tersebut, guru mendapatkan pembekalan mengenai pemanfaatan AI untuk membuat dan mengembangkan bahan ajar.
Teknologi yang selama ini berkembang cepat di luar ruang kelas mulai diperkenalkan sebagai alat yang dapat membantu guru bekerja lebih efisien dan kreatif.
Program CAGEUR-AI memang dirancang dengan pendekatan ganda. Satu sisi menyentuh pengetahuan kesehatan siswa, sementara sisi lainnya memperkuat kapasitas digital guru.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berbicara mengenai teknologi atau kesehatan secara terpisah. Keduanya ditempatkan sebagai bagian dari kebutuhan pendidikan di tingkat sekolah dasar.
Ketua Tim Pengabdian IPB University, Dr. dr. Mira Dewi, M.Si, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian akademisi IPB University untuk kembali berkontribusi dalam memajukan daerah asal.
Melalui program Dosen Pulang Kampung, pengetahuan yang berkembang di lingkungan perguruan tinggi dibawa lebih dekat kepada masyarakat. Riset, pengetahuan kesehatan, serta perkembangan teknologi dicoba diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat dimanfaatkan langsung oleh sekolah.
Bagi SDN Panenjoan, kehadiran program tersebut menjadi pengalaman yang istimewa.
Kepala SDN Panenjoan, Kulsum Mulyaasih, S.Pd., menyambut kegiatan tersebut dengan penuh rasa syukur. Sebagai sekolah yang menjadi tuan rumah, ia menilai program seperti CAGEUR-AI memberikan pengalaman baru bagi lingkungan pendidikan di wilayahnya.
"Ini adalah karunia yang sangat besar. Baru pertama kali di daerah kita, khususnya Panenjoan, menerima program seperti ini. Makanya perlu kita syukuri," ujar Kulsum.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat tidak selalu harus hadir dalam bentuk pembangunan fisik. Pengetahuan, pendampingan, dan kesempatan untuk belajar juga menjadi bentuk kontribusi yang memiliki arti bagi sekolah.
Terlebih, perkembangan teknologi digital membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan. Guru tidak cukup hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga dituntut semakin adaptif terhadap teknologi yang dapat mendukung proses pembelajaran.
Pada saat yang sama, anak-anak juga membutuhkan pemahaman dasar mengenai kesehatan sejak usia sekolah. Pengetahuan sederhana tentang gizi, kebersihan, dan kesehatan dapat menjadi bekal penting dalam membentuk kebiasaan mereka.
CAGEUR-AI mencoba mempertemukan dua kebutuhan tersebut dalam satu kegiatan.
Siswa belajar mengenali kesehatan dengan cara yang menyenangkan. Guru belajar mengenali peluang pemanfaatan AI dalam pekerjaan mereka. Keduanya bertemu dalam satu ruang yang sama: sekolah.
Empat jam kegiatan di SDN Panenjoan akhirnya bukan sekadar agenda pengabdian masyarakat. Ia menjadi perjumpaan antara kampus dan sekolah, antara pengetahuan akademik dan kebutuhan masyarakat, serta antara pendidikan kesehatan dan perkembangan teknologi.
Harapannya, pengetahuan yang dibawa dalam kegiatan tersebut tidak berhenti ketika kegiatan berakhir.
Para siswa diharapkan dapat menerapkan pengetahuan kesehatan yang diperoleh dan menjalankan peran sebagai Dokter Kecil di lingkungan sekolah. Sementara para guru diharapkan mampu membawa pengalaman pelatihan AI ke dalam proses penyusunan bahan ajar dan pembelajaran di kelas.
Dari sebuah sekolah dasar di Salawu, pesan itu sederhana: masa depan pendidikan tidak hanya membutuhkan anak-anak yang sehat, tetapi juga guru yang terus belajar mengikuti perubahan zaman.
Dan pagi itu, keduanya mulai dipertemukan melalui CAGEUR-AI.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Gandeng STT Cipasung, HIPMI Kabupaten Tasikmalaya Salurkan 20 Beasiswa

CAGEUR-AI IPB University Bekali Siswa Salawu Jadi Dokter Kecil dan Guru Melek AI

Milangkala Gong Perdamaian ke-17, Ini Pesan Herdiat untuk Generasi Muda Ciamis

220 Becak Listrik untuk Pengayuh Lansia Tasikmalaya Akhirnya Dibagikan

Demo Mahasiswa Sempat Ricuh, 10 Tuntutan Aksi Akhirnya Disepakati
