Milangkala Gong Perdamaian ke-17, Ini Pesan Herdiat untuk Generasi Muda Ciamis

9 Sep 2026, 17.11 WIB
WhatsAppSaluran
Milangkala Gong Perdamaian ke-17, Ini Pesan Herdiat untuk Generasi Muda Ciamis
Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya membunyikan Gong Perdamaian pada Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia yang digelar di Situs Budaya Karangkamulyan, Rabu 9/9/2026CameraDiskominfo

Gentra.id-CIAMIS, GENTRA.ID – Di kawasan Situs Bojong Galuh Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis, sebuah pesan lama kembali diketuk di tengah zaman yang terus berubah: perdamaian tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dirawat dan diwariskan.

Pesan itu mengemuka dalam peringatan Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia yang digelar Rabu, 9 September 2026. Tahun ini, peringatan tersebut mengusung tema “Merajut Harmoni, Menjaga Perdamaian”.

Bupati Ciamis Herdiat Sunarya hadir dalam kegiatan tersebut bersama unsur Forkopimda, jajaran kepolisian, Sekretaris Daerah dan pimpinan perangkat daerah, pimpinan BUMN dan BUMD, instansi vertikal, kepala desa, tokoh agama, budayawan, akademisi, seniman, tokoh masyarakat, duta perdamaian hingga pimpinan organisasi kemasyarakatan.

Dari Karangkamulyan, Herdiat mengajak generasi muda Ciamis tidak menjadi bagian dari mata rantai konflik. Menurutnya, generasi penerus harus mampu menjaga nilai-nilai perdamaian yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Tatar Galuh.

“Perdamaian bukan sesuatu yang hadir begitu saja. Untuk mewujudkannya diperlukan perjuangan, kesadaran, dan komitmen bersama,” ujar Herdiat.

Bagi Herdiat, pesan tersebut semakin penting disampaikan di tengah dunia yang masih diwarnai berbagai konflik dan ketegangan. Perbedaan pandangan maupun kepentingan, kata dia, seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghilangkan ruang dialog dan kehidupan yang harmonis.

Warisan Damai dari Tatar Galuh

Karangkamulyan bukan sekadar lokasi tempat Gong Perdamaian Dunia berdiri. Kawasan tersebut menyimpan jejak sejarah Tatar Galuh yang kemudian menjadi pijakan bagi pesan perdamaian yang disampaikan dalam peringatan tahun ini.

Herdiat mengaitkan nilai tersebut dengan Mupulung Rahi dan 10 perjanjian damai Galuh yang disebut berlangsung pada 739 Masehi. Baginya, catatan sejarah tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Galuh sejak masa lalu telah mengenal dan menjunjung tinggi pentingnya perdamaian.

“Dari sejarah itulah kita mengenal Mupulung Rahi, 10 perjanjian damai Galuh tahun 739 Masehi. Ini menunjukkan bahwa leluhur kita sangat menjunjung tinggi perdamaian,” katanya.

Warisan tersebut, menurut Herdiat, tidak semestinya berhenti sebagai cerita sejarah yang hanya dibaca dalam buku. Nilai yang terkandung di dalamnya perlu diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Terlebih di tengah masyarakat yang semakin beragam, kemampuan menerima perbedaan menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan bersama.

“Sebagai generasi penerus, sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga sekaligus memperjuangkan warisan tersebut,” ucapnya.

Karangkamulyan sebagai Ruang Edukasi

Herdiat juga berharap kawasan Karangkamulyan dapat berkembang bukan hanya sebagai tempat bersejarah maupun lokasi kegiatan tahunan. Lebih jauh, kawasan itu diharapkan menjadi ruang edukasi yang terus menghidupkan nilai persatuan, toleransi, penghormatan terhadap perbedaan dan kehidupan yang harmonis.

Dengan begitu, Gong Perdamaian Dunia tidak berhenti sebagai benda simbolik. Kehadirannya diharapkan mampu mengingatkan setiap generasi bahwa perdamaian membutuhkan kerja bersama.

“Perdamaian merupakan warisan, tetapi pada saat yang sama juga menjadi perjuangan yang harus terus dilakukan,” tegas Herdiat.

Pesan paling kuat diarahkan kepada generasi muda. Herdiat menilai pendidikan mengenai perdamaian perlu dibangun sejak usia dini. Anak-anak perlu dibiasakan menghargai perbedaan, menjunjung toleransi dan mengutamakan persatuan.

“Perdamaian tidak terjadi secara instan dan bukan sesuatu yang mudah. Karena itu, harus mulai dibangun sejak usia dini,” ujarnya.

Ia berharap para pelajar di Ciamis kelak tidak menjadi generasi yang membawa dendam atau mewarisi konflik dari masa lalu. Sebaliknya, mereka diharapkan mampu menjadi generasi yang meneruskan tradisi kehidupan damai.

“Jadilah pewaris damai, bukan pewaris konflik,” tegasnya.

Di Karangkamulyan, pesan itu akhirnya kembali menemukan tempatnya. Gong yang menjadi simbol perdamaian bukan sekadar benda yang berdiri di tengah kawasan bersejarah. Ia menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya berbicara tentang apa yang telah terjadi, tetapi juga tentang nilai apa yang harus dibawa menuju masa depan.

Dan bagi Ciamis, masa depan itu kini berada di tangan generasi mudanya.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.