Lost Spark: Ketika Gen Z Kehilangan Semangat Menjalani Hidup

8 Sep 2026, 20.33 WIB
WhatsAppSaluran
Lost Spark: Ketika Gen Z Kehilangan Semangat Menjalani Hidup
Fenomena lost spark menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa kehilangan semangat, antusiasme, atau “percikan” yang dahulu membuat berbagai aktivitas terasa menyenangkan. Fenomena ini banyak dibicarakan anak muda di tengah tekanan kehidupan digital, perbandingan sosial, dan pencarian makna hidup.CameraUnplash/Yosi Prihantoro

Gentra.id-Ada masa ketika seseorang begitu bersemangat menjalani hari. Bangun pagi terasa punya alasan, pekerjaan yang dikerjakan terasa menyenangkan, bertemu teman bisa menjadi sumber energi, bahkan hal sederhana seperti mendengarkan musik, membaca buku atau berjalan sendirian masih mampu menghadirkan rasa bahagia.

Namun, perlahan semuanya berubah. Bukan karena hidup tiba-tiba menjadi buruk, melainkan karena rasa terhadap kehidupan itu sendiri seperti memudar. Seseorang masih bekerja, kuliah, bertemu orang lain, membuka media sosial dan menjalankan rutinitas seperti biasa. Hanya saja, ada sesuatu yang terasa hilang.

Belakangan kondisi semacam ini kerap disebut “lost spark”, istilah populer untuk menggambarkan keadaan ketika seseorang merasa kehilangan percikan semangat, antusiasme atau gairah yang dahulu dimilikinya. Istilah tersebut bukan diagnosis psikologis resmi, tetapi cukup kuat menggambarkan pengalaman emosional yang semakin sering dibicarakan, terutama di kalangan anak muda.

Ketika Hidup Terasa Datar

Lost spark mungkin terdengar sederhana, tetapi pengalaman di baliknya bisa cukup kompleks. Seseorang tidak selalu merasa sedih atau menangis. Justru yang muncul terkadang adalah perasaan datar.

Dulu ingin sekali melakukan sesuatu, sekarang tidak terlalu peduli. Dulu punya banyak rencana, sekarang menjalani hari sekadarnya. Dulu ada sesuatu yang membuat mata berbinar, sekarang semuanya terasa seperti kewajiban.

Dalam psikologi, pengalaman kehilangan ketertarikan atau kesenangan terhadap sesuatu yang sebelumnya menyenangkan memiliki istilah yang lebih spesifik, yaitu anhedonia. Kondisi kehilangan minat atau kesenangan tersebut juga dapat muncul sebagai salah satu gejala dalam masalah kesehatan mental tertentu. National Institute of Mental Health (NIMH), misalnya, memasukkan kehilangan minat terhadap hal-hal yang biasanya dinikmati sebagai salah satu gejala yang perlu diperhatikan, terutama jika berlangsung dan semakin mengganggu kehidupan sehari-hari.

Karena itu, lost spark tidak seharusnya langsung disamakan dengan depresi. Seseorang bisa mengalami fase kehilangan semangat karena kelelahan, tekanan hidup, perubahan prioritas, kegagalan, kehilangan hubungan, persoalan pekerjaan atau sekadar berada dalam fase kehidupan yang penuh ketidakpastian.

Mengapa Gen Z Banyak Dibahas?

Fenomena ini menjadi menarik ketika dikaitkan dengan Gen Z. Generasi yang tumbuh bersama internet dan media sosial tersebut hidup dalam situasi yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Hari ini, seseorang tidak hanya menjalani kehidupannya sendiri. Ia juga setiap hari melihat kehidupan orang lain melalui layar ponsel.

Ada teman yang baru mendapatkan pekerjaan. Ada yang menikah. Ada yang membeli rumah. Ada yang membuka bisnis. Ada yang berlibur ke luar negeri. Ada yang berhasil menjadi kreator. Ada pula yang terlihat begitu bahagia dengan hubungan percintaannya.

Masalahnya, media sosial hampir selalu menampilkan hasil akhir, bukan seluruh proses yang berlangsung di belakangnya.

Perbandingan semacam ini dapat membuat seseorang merasa tertinggal. Ia mulai bertanya, “Kenapa hidup orang lain bergerak begitu cepat, sementara hidup saya seperti berjalan di tempat?”

Pada titik tertentu, bukan hanya rasa percaya diri yang terganggu. Rasa antusias terhadap hidup pun dapat ikut terkikis.

American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa media sosial tidak secara otomatis buruk bagi kesehatan mental. Platform digital dapat membantu koneksi sosial, berbagi informasi dan membangun komunitas. Namun, penggunaan tertentu juga dapat membawa risiko, terutama ketika mengganggu tidur, aktivitas fisik dan interaksi langsung.

Kita Terlalu Banyak Melihat, Terlalu Sedikit Mengalami

Ada paradoks dalam kehidupan digital hari ini. Kita memiliki akses terhadap begitu banyak hal, tetapi justru bisa kehilangan kemampuan untuk menikmati sesuatu secara utuh.

Satu video belum selesai, jari sudah berpindah ke video berikutnya. Satu informasi belum selesai dipahami, muncul informasi baru. Satu percakapan belum benar-benar selesai, notifikasi lain datang.

Penelitian yang diberitakan APA pada 2024 bahkan menemukan bahwa kebiasaan terus berpindah dari satu video daring ke video lainnya ketika merasa bosan justru dapat membuat seseorang semakin bosan dan kurang puas terhadap pengalaman menonton. Studi tersebut melibatkan tujuh eksperimen dengan lebih dari 1.200 peserta.

Artinya, persoalannya mungkin bukan sekadar berapa lama kita menggunakan media sosial, tetapi bagaimana kita menggunakannya.

APA juga mencatat bahwa penggunaan media sosial secara pasif, seperti terus-menerus melihat unggahan orang lain, dalam sejumlah penelitian berkaitan dengan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah dibandingkan penggunaan yang lebih aktif dan bermakna.

Di sinilah lost spark menjadi semakin relevan. Ketika otak terus dibombardir dengan informasi, hiburan dan perbandingan sosial, kehidupan nyata yang berjalan perlahan bisa terasa kurang menarik.

Padahal, sebagian besar hal bermakna dalam kehidupan memang tidak bekerja seperti algoritma.

Pertemanan membutuhkan waktu. Karier membutuhkan proses. Membaca buku membutuhkan konsentrasi. Belajar keterampilan membutuhkan kegagalan. Membangun hubungan membutuhkan komunikasi. Bahkan menemukan tujuan hidup pun sering kali membutuhkan perjalanan panjang.

Bukan Selalu Kehilangan Motivasi, Bisa Jadi Kehilangan Makna

Ada satu lapisan yang lebih dalam dari fenomena lost spark: persoalan makna hidup.

Seseorang bisa memiliki pekerjaan tetapi tidak merasa pekerjaannya berarti. Bisa memiliki banyak teman tetapi tetap merasa kesepian. Bisa memiliki banyak hiburan tetapi tetap merasa kosong.

Laporan Stress in America 2025 dari APA menunjukkan bahwa sekitar separuh orang dewasa di Amerika Serikat melaporkan pengalaman yang berkaitan dengan keterputusan emosional, seperti merasa terisolasi, tersisih atau tidak memiliki teman. Laporan tersebut menunjukkan bagaimana persoalan koneksi sosial dan rasa kesepian menjadi bagian penting dari kesejahteraan psikologis.

Temuan tersebut memang berasal dari populasi Amerika Serikat dan tidak bisa begitu saja dianggap mewakili kondisi Gen Z Indonesia.

Namun, fenomenanya memberikan gambaran bahwa koneksi sosial dan rasa memiliki memiliki hubungan penting dengan kesehatan psikologis manusia.

Maka, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya, “Bagaimana cara mengembalikan motivasi?”

Tetapi:

“Apa yang membuat hidup saya kembali terasa berarti?”

Mengembalikan Spark Tidak Harus dengan Perubahan Besar

Ironisnya, ketika kehilangan semangat, kita sering mencari perubahan besar. Ingin resign, pindah kota, traveling jauh, membeli sesuatu yang baru atau membuat kehidupan terlihat berbeda.

Padahal, mengembalikan spark terkadang justru dimulai dari hal yang sangat sederhana.

Tidur lebih teratur. Berjalan kaki. Bertemu teman tanpa sibuk memainkan ponsel. Membaca kembali buku yang pernah disukai. Menggeluti hobi tanpa memikirkan produktivitas. Mengurangi konsumsi konten yang membuat diri terus membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain.

Penelitian yang dirangkum APA menunjukkan bahwa mahasiswa yang membatasi penggunaan media sosial hingga sekitar 30 menit sehari selama dua minggu melaporkan peningkatan positive affect serta penurunan kecemasan, depresi, kesepian dan FOMO dibandingkan kelompok yang tidak mendapatkan pembatasan tersebut.

Tentu, mengurangi media sosial bukan obat untuk semua persoalan. Tetapi penelitian itu memberi satu pesan penting: hubungan kita dengan teknologi dapat diatur ulang.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak benar-benar kehilangan diri sendiri. Kita hanya terlalu lama hidup dalam kebisingan sampai lupa seperti apa suara diri sendiri.

Lost spark barangkali bukan tentang kehidupan yang kehilangan warna. Bisa jadi, kita hanya perlu berhenti sebentar dari perlombaan, menurunkan volume dunia, kemudian bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang sebenarnya masih membuat saya ingin bangun dan menjalani hari esok?

Dan mungkin, jawaban atas pertanyaan sederhana itulah yang perlahan membawa kembali percikan yang selama ini kita kira telah hilang.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.