Dari Sampah Jadi Nilai Guna, Mojang Jajaka Dorong Wisata Hijau di Tasikmalaya

8 Agu 2026, 03.40 WIB
WhatsAppSaluran
Dari Sampah Jadi Nilai Guna, Mojang Jajaka Dorong Wisata Hijau di Tasikmalaya
Gerakan lingkungan bertajuk “Nyulam Runtah Jadi Paripurna.” /CameraGentra.id

Gentra.id-Potensi pariwisata Kabupaten Tasikmalaya yang kaya dan memesona berjalan beriringan dengan tantangan menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di setiap destinasi wisata.

Menjawab tantangan tersebut, Mojang Pinilih Kabupaten Tasikmalaya, Suci Princessa Nagari, bersama Jajaka Pinilih Kabupaten Tasikmalaya, Iqbal Nurhidayat, menginisiasi gerakan lingkungan bertajuk “Nyulam Runtah Jadi Paripurna.”

Gerakan tersebut mengusung filosofi nature nurture oriented, yakni pendekatan yang menempatkan alam bukan sekadar sebagai daya tarik yang dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata, tetapi juga sebagai ekosistem yang harus dirawat, dijaga, dan dipelihara secara berkelanjutan.

Melalui pendekatan tersebut, pengelolaan sampah, penghijauan, edukasi wisatawan, hingga keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun pariwisata yang ramah lingkungan.

Menjaga Kebersihan, Meningkatkan Kenyamanan Wisatawan

Perkembangan sektor pariwisata di Kabupaten Tasikmalaya turut mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Namun, bertambahnya jumlah pengunjung juga berpotensi meningkatkan volume sampah di kawasan destinasi.

Jika tidak dikelola dengan baik, persoalan sampah dapat mengganggu estetika kawasan, merusak lingkungan, sekaligus menurunkan kenyamanan wisatawan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Suci dan Iqbal menggagas “Nyulam Runtah Jadi Paripurna”, yang secara sederhana dimaknai sebagai upaya mengolah sesuatu yang dianggap tidak bernilai menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.

“Daya tarik utama pariwisata Tasikmalaya adalah keasrian dan keindahan alamnya. Jika kawasan wisatanya kotor, wisatawan tentu tidak akan merasa nyaman,” kata Suci Princessa Nagari, Sabtu, (8/8/2026).

Menurutnya, menjaga lingkungan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi perkembangan pariwisata daerah.

“Melalui pendekatan nature nurture oriented, kami ingin membangun kesadaran bahwa merawat alam dan mengelola sampah adalah investasi jangka panjang bagi kemajuan pariwisata daerah,” katanya.

Gunung Galunggung Jadi Pilot Project

Dalam tahap awal, kawasan wisata Gunung Galunggung dipilih sebagai lokasi praktik sekaligus pilot project gerakan tersebut.

Gunung Galunggung merupakan salah satu destinasi wisata alam unggulan di Kabupaten Tasikmalaya. Kawasan ini memiliki beragam daya tarik, mulai dari kawah, pemandian air panas, hingga lanskap hutan yang menjadi bagian penting dari ekosistem kawasan.

Karena itu, gerakan “Nyulam Runtah Jadi Paripurna” diarahkan pada aksi yang dapat memberikan dampak langsung terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan di kawasan wisata.

Sejumlah aksi yang disiapkan di antaranya penyediaan kantong sampah pilah di titik-titik strategis kawasan wisata. Sarana tersebut diharapkan dapat mendorong wisatawan untuk memilah sampah sekaligus mempermudah proses pengolahan dan daur ulang.

Selain itu, gerakan ini juga mencakup penanaman 24 bibit pohon endemik setiap tiga bulan sebagai bagian dari upaya penghijauan dan pemeliharaan ekosistem secara berkala.

Aksi kebersihan juga dilakukan melalui gerakan “Operasi Semut” di kawasan wisata air panas Galunggung. Para peserta akan menyisir area yang menjadi titik berkumpulnya wisatawan dan memungut sampah yang ditemukan.

Tak hanya mengandalkan aksi bersih-bersih, program ini juga menempatkan edukasi sebagai bagian penting. Kampanye dan sosialisasi mengenai perilaku bijak mengelola sampah akan ditujukan kepada wisatawan, generasi muda, serta pelajar.

Dari Galunggung untuk Destinasi Wisata Lain

Jajaka Pinilih Kabupaten Tasikmalaya, Iqbal Nurhidayat, mengatakan pengelolaan sampah di destinasi wisata tidak seharusnya dipandang sebagai kegiatan sesaat.

Menurutnya, kebersihan dan keberlanjutan lingkungan kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas sebuah destinasi wisata.

“Kebutuhan pariwisata masa kini bukan lagi hanya soal keindahan visual, tetapi juga sejauh mana destinasi tersebut dikelola secara bersih dan ramah lingkungan,” kata Iqbal.

Ia menilai Gunung Galunggung merupakan titik awal untuk membangun model pengelolaan destinasi wisata yang lebih berkelanjutan.

“Gunung Galunggung adalah titik awal. Harapan besar kami, konsep daur ulang dan aksi nature nurture oriented ini dapat dipraktikkan di seluruh destinasi wisata di Kabupaten Tasikmalaya dan sekitarnya,” ujarnya.

Dengan gerakan tersebut, Iqbal berharap Tasikmalaya tidak hanya dikenal karena kekayaan alam dan budayanya, tetapi juga sebagai daerah yang mampu mengembangkan pariwisata berbasis keberlanjutan.

“Sehingga Tasikmalaya dikenal sebagai daerah tujuan wisata hijau yang unggul,” katanya.

Mojang Jajaka dan Masa Depan Pariwisata

Gerakan yang dipelopori Suci Princessa Nagari dan Iqbal Nurhidayat tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peran Mojang Jajaka tidak hanya berkaitan dengan promosi budaya dan pariwisata.

Lebih dari itu, duta budaya dan pariwisata juga dapat mengambil peran dalam membangun kesadaran publik serta menghadirkan aksi nyata untuk menjawab persoalan lingkungan di daerah.

Melalui perpaduan antara promosi pariwisata, edukasi lingkungan, pengelolaan sampah, dan penghijauan, “Nyulam Runtah Jadi Paripurna” diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem pariwisata Tasikmalaya yang lebih bersih, lestari, dan berkelanjutan.

R
Rizal

Wartawan senior Gentra.id yang berfokus pada analisis hukum, politik, dan kebijakan publik di Indonesia.

Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.