
Gentra.id-Berawal dari kegelisahan melihat Sungai Saruni menjadi tempat pembuangan sampah selama puluhan tahun, Muhammad Najmi Al Haromain membangun sebuah komunitas yang bernama Pesangreen bersama para penggerak muda di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya Jawa Barat.
Mereka tidak hanya membersihkan sungai, tetapi juga berupaya mengubah kebiasaan masyarakat, menumbuhkan kader lingkungan, dan membangun sistem pengelolaan sampah yang menghubungkan pesantren, warga, serta pelaku usaha.
Di kawasan Pondok Pesantren Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya, persoalan lingkungan tidak berhenti pada sampah yang terlihat menumpuk. Ada kebiasaan yang berlangsung selama bertahun-tahun, keterbatasan sistem pengelolaan, serta tantangan untuk membangun kesadaran bersama agar sungai tidak terus menjadi tempat pembuangan.
Bagi Muhammad Najmi Al Haromain, persoalan tersebut bukan sesuatu yang jauh dari kehidupannya. Ia tumbuh di lingkungan Pesantren Cipasung dan melihat kawasan tempatnya belajar serta beraktivitas menghadapi persoalan sampah yang telah berlangsung lama.
“Kami resah melihat Sungai Saruni menjadi tempat pembuangan sampah sejak 1994, dengan dampak terhadap tujuh kampung di sekitarnya,” kata Najmi, yang akrab disapa Kakang
Keresahan itu menjadi titik awal sebuah gerakan yang kemudian berkembang melampaui kegiatan bersih-bersih sungai. Bersama rekan-rekan penggerak, termasuk Diwan Masnawi, Najmi membentuk Pesangreen pada 22 Oktober 2023, bertepatan dengan Hari Santri.
Mereka memilih memulai dari lingkungan yang paling dekat dengan kehidupan sendiri. Pesantren menjadi tempat tumbuhnya gagasan sekaligus ruang untuk menguji apakah perubahan perilaku dapat dibangun melalui pendidikan, keteladanan, dan keterlibatan masyarakat.
“Kami bergerak dari pesantren karena di sinilah kami hidup, sekaligus karena santri dan pesantren memiliki kekuatan pendidikan serta pengaruh sosial untuk mengubah kebiasaan,” ujarnya.
Pilihan tersebut menjadi fondasi Pesangreen. Mereka ingin menjadikan pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, melainkan juga ruang untuk membangun tanggung jawab terhadap lingkungan.
Dari Keresahan Lingkungan Menjadi Gerakan Sosial
Muhammad Najmi Al Haromain lahir di Tasikmalaya pada 25 Desember 1998. Ia menempuh pendidikan sarjana di Institut Agama Islam Cipasung (IAIC), tumbuh di lingkungan pesantren, dan aktif dalam gerakan sosial serta kewirausahaan.
Perjalanan profesionalnya mempertemukan sejumlah bidang. Najmi pernah menjadi tenaga ahli DPRD Provinsi Jawa Barat pada 2019–2024, mendirikan dan memimpin Majliz Edutech Nusantara sejak 2021, serta berkecimpung sebagai konsultan strategi digital. Ia juga memiliki pengalaman dalam organisasi kepemudaan, gerakan sosial, dan lingkungan.
Riwayat organisasinya antara lain mencakup Pergerakan Relawan Kemanusiaan dan Lingkungan Indonesia, Gusdurian Tasikmalaya, KNPI Kabupaten Tasikmalaya, Forum Kewirausahaan Pemuda Jawa Barat, Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Tasikmalaya, dan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama. Ia juga tercatat aktif dalam Arus Informasi Santri Nusantara dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Kabupaten Tasikmalaya.
Latar belakang tersebut menjadi bagian dari perjalanan seorang penggerak yang mempertemukan pengalaman sosial, pendidikan, dan kewirausahaan dalam kerja lingkungan.
Namun, Pesangreen tidak lahir dari gagasan abstrak mengenai keberlanjutan. Gerakan ini berangkat dari persoalan yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Cipasung.
Berdasarkan pendataan awal yang disampaikan Najmi, kawasan tersebut menghasilkan sekitar 2,5–3 ton sampah setiap hari, dan akan bertambah menjadi 4–7 ton ketika berlangsung kegiatan besar.
Menurut Nazmi, Ponpes Cipasung digambarkan memiliki lebih dari 7.000 santri, masyarakat sekitar, dan aktivitas perdagangan lokal yang menghasilkan sampah setiap hari. Sampah berasal dari berbagai sumber, mulai dari aktivitas pesantren, rumah tangga, hingga kegiatan komersial.
Ketika sampah tidak dipilah dan tidak tersedia sistem pengangkutan serta pengolahan yang memadai, sungai dan lahan terbuka menjadi tempat pembuangan yang mudah dijangkau.
Persoalan itulah yang hendak diubah Pesangreen. Mereka berusaha menggeser cara pandang bahwa sampah merupakan sesuatu yang cukup disingkirkan dari pandangan menjadi pemahaman bahwa sampah perlu dikelola sejak dihasilkan.
Pesangreen, Pesantren, dan Pesan Menjaga Bumi
Nama Pesangreen memadukan kata pesantren dan green, yang berarti hijau dalam bahasa Inggris. Perpaduan tersebut sekaligus menjadi pesan tentang hubungan antara kehidupan keagamaan dan tanggung jawab manusia terhadap alam.
“Pesangreen merupakan permainan kata dari ‘pesantren’ dan ‘green’, sekaligus membawa pesan untuk menjaga bumi,” jelas Najmi.

Bagi para penggeraknya, nama itu bukan sekadar identitas komunitas. Ia mewakili cita-cita untuk menjadikan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari cara santri belajar, beribadah, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin kepedulian lingkungan menjadi bagian dari cara santri belajar, beribadah, dan hidup sehari-hari,” ujarnya.
Cita-cita tersebut menempatkan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Sampah, air, pangan, dan kondisi sekitar pesantren tidak dipandang sebagai persoalan terpisah dari kehidupan pendidikan, melainkan sebagai hal yang perlu dikelola secara sadar.
“Cita-citanya adalah pesantren yang bertanggung jawab terhadap sampah, air, pangan, dan lingkungan sekitarnya,” tutur Najmi.
Dalam kerangka itu, pendidikan lingkungan tidak cukup dilakukan melalui ceramah atau kampanye sesaat. Kepedulian perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan: memilah sampah, menggunakan barang secara bertanggung jawab, mengurangi konsumsi berlebihan, dan menjaga ruang hidup bersama.
Pesantren memiliki potensi untuk menjalankan pendidikan semacam itu karena kehidupan santri berlangsung dalam lingkungan kolektif. Kebijakan lembaga, kebiasaan di asrama, serta keteladanan pengelola dapat memengaruhi perilaku banyak orang sekaligus.
Pesangreen berusaha memanfaatkan potensi tersebut dengan menghubungkan nilai pendidikan, kegiatan sosial, dan praktik ekologis.
Membersihkan Sungai, Mengorganisasi Masyarakat
Langkah awal Pesangreen adalah membersihkan Sungai Saruni. Kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi pembentukan Juru Kunci atau Satgas Sampah Saruni dan layanan pengangkutan sampah.

“Kami memulai dari pembersihan Sungai Saruni, membentuk Juru Kunci/Satgas Sampah Saruni, lalu mengembangkan layanan pengangkutan sampah,” kata Najmi.
Dalam data capaian yang disampaikan komunitas, aksi awal pembersihan Saruni mengumpulkan 620 karung sampah dan melibatkan lebih dari 100 peserta.
Angka tersebut memperlihatkan besarnya keterlibatan yang berhasil dihimpun dalam kegiatan awal. Namun, membersihkan sampah yang telanjur mencemari sungai baru menyelesaikan sebagian persoalan. Jika sampah terus dibuang ke tempat yang sama, pencemaran dapat berulang.
Karena itu, Pesangreen mengembangkan pendekatan dari hulu, yaitu berupaya mengurangi persoalan sejak sampah dihasilkan. Edukasi dilakukan di sekolah, pesantren, dan masyarakat, disertai pengorganisasian pedagang yang turut menghasilkan sampah dari aktivitas perdagangan.
“Pendekatan di hulu dilakukan melalui edukasi di sekolah, pesantren, dan masyarakat, serta pengorganisasian pedagang,” ujar Najmi.
Beberapa kegiataan Pesangreen diantaranya mendorong pembentukan asosiasi pedagang, aksi bersih pada Hari Peduli Sampah Nasional, advokasi pengelolaan sampah pada musim pemilu, serta lokakarya polusi visual dan pembuatan eco-enzyme.
Kegiatan lain meliputi Jumat Green Charity Clean-Up, pembentukan klub lingkungan Kebon Rakyat untuk konservasi tanah, donasi pohon bagi anak yatim, dan lokakarya daur ulang minyak goreng jelantah.
Beragam kegiatan itu memperlihatkan bahwa gerakan Pesangreen tidak hanya berfokus pada sampah yang telah menumpuk. Mereka juga berupaya memperluas kesadaran lingkungan melalui pendidikan, aksi bersama, dan kegiatan yang menghubungkan kepedulian ekologis dengan kehidupan masyarakat.
Selama gerakannya Najmi menyebut Pesangreen telah melaksanakan 63 program yang terbagi dalam edukasi, advokasi, dan aksi.
Selain itu, komunitas Pesangreen mencatat telah melakukan 62 inisiatif pendidikan dan lingkungan serta kemitraan dengan 32 lembaga strategis.
Mengubah Kebiasaan Membutuhkan Kesabaran
Di balik puluhan daftar aktifitas kegiatan tersebut, terdapat pengalaman yang lebih personal. Najmi mengungkapkan bahwa upaya membenahi Sungai Saruni menghadapi resistensi dari sebagian masyarakat, bahkan sampai muncul ancaman pembunuhan.
“Yang paling membekas adalah menghadapi resistensi saat membenahi Saruni, bahkan sampai ada ancaman pembunuhan,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan menyediakan fasilitas atau mengadakan kegiatan bersih-bersih. Ada kebiasaan yang sudah berlangsung lama dan dianggap wajar oleh sebagian masyarakat.

Najmi menjelaskan bahwa sebagian warga memandang perubahan sebagai beban atau campur tangan terhadap kehidupan mereka. Di sisi lain, keterbatasan fasilitas dan tata kelola turut memengaruhi kemampuan masyarakat mengubah kebiasaan.
“Di situ saya belajar bahwa persoalannya sekaligus kultural dan struktural: karakter serta kebiasaan masyarakat bertemu dengan keterbatasan fasilitas dan lemahnya tata kelola,” katanya.
Pemahaman tersebut membuat pendekatan Pesangreen tidak cukup berhenti pada larangan membuang sampah. Penggerak perlu memahami keberatan warga, membangun kepercayaan, dan menyediakan alternatif yang memungkinkan perubahan dilakukan.
“Pendekatannya harus persuasif, tetapi tetap tegas. Kami perlu memahami keberatan warga, membangun kepercayaan, dan menyediakan solusi, sambil terus menegaskan tanggung jawab bersama,” ujar Najmi.
Dalam pengalaman itu, ia memberikan penghargaan khusus kepada Juru Kunci dan Satgas Saruni yang menghadapi persoalan di lapangan setiap hari.
“Karena itu, saya sangat menghargai Juru Kunci dan Satgas Saruni. Mereka menghadapi kenyataan tersebut setiap hari,” katanya.
Bagi Najmi, keberadaan para penggerak itu memperlihatkan bahwa perubahan lingkungan membutuhkan kerja yang berulang. Membersihkan sungai dapat dilakukan melalui tenaga dan kegiatan terorganisasi, tetapi mengubah kebiasaan memerlukan kesabaran, komunikasi, dan konsistensi.
Pengalaman tersebut juga menjelaskan mengapa Pesangreen berusaha membangun kelembagaan. Gerakan tidak bisa hanya bergantung pada semangat beberapa orang. Perlu ada pembagian tugas, aturan, layanan yang berjalan, dan dukungan agar pekerjaan dapat diteruskan.
Al-Badriyyah, Laboratorium Kehidupan Ramah Lingkungan
Salah satu bagian penting dari pendekatan Pesangreen adalah Al-Badriyyah Islamic Eco-Dormitory, sebuah asrama yang ditempatkan sebagai katalis perubahan budaya ekologis di lingkungan pesantren.
Gagasan eco-living di Al-Badriyyah diarahkan untuk mengintegrasikan kepedulian lingkungan ke dalam rutinitas harian. Pendekatannya meliputi kampanye anti-konsumerisme, aturan busana ramah lingkungan, kegiatan story telling/bercerita, serta pembelajaran berbasis pencapaian.

Menurut Nazmi kedisiplinan santri Al-Badriyyah turut memengaruhi kebijakan kelembagaan, termasuk penggunaan wadah makan dan botol minum yang dapat digunakan kembali di lingkungan pesantren.
Dalam konsep yang dikembangkan, asrama tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang praktik. Santri belajar menerapkan nilai keberlanjutan melalui keputusan sehari-hari, mulai dari penggunaan barang hingga cara memperlakukan lingkungan.
Pendekatan itu penting karena pengetahuan tidak selalu otomatis menghasilkan perubahan perilaku. Kebiasaan baru membutuhkan aturan yang konsisten, contoh nyata, serta lingkungan yang mendukung.
Melalui Al-Badriyyah, Pesangreen ingin memperlihatkan bahwa pendidikan ekologis dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya diajarkan sebagai teori.

Model tersebut juga membuka ruang untuk menyiapkan kader lingkungan. Dalam materi capaian komunitas, program Wiyata Buana menghasilkan 37 kader dari 50 peserta, sedangkan satu asrama di Cipasung disebut telah ditransformasi menjadi inkubator kader lingkungan.
Dengan demikian, pendidikan dan kaderisasi menjadi bagian dari strategi keberlanjutan gerakan. Perubahan diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan atau satu angkatan santri, tetapi terus diwariskan kepada orang-orang yang akan meneruskan praktik tersebut.
Dari Pengelolaan Sampah Menuju Ekonomi Sirkular
Setelah membangun pendekatan dari hulu, Pesangreen berupaya memperkuat penanganan sampah di bagian hilir melalui MBG Waste Bank, singkatan dari Manage, Build & Grow.
“Untuk memperkuat pengolahan hilir, kami mengembangkan MBG Waste Bank—Manage, Build & Grow,” kata Najmi.
Konsep tersebut berangkat dari kebutuhan membangun sistem yang mampu menangani sampah secara lebih terstruktur. Manage berfokus pada pengumpulan, pemilahan, dan penanganan sampah. Build diarahkan pada pengembangan infrastruktur serta peningkatan kapasitas pengolahan. Sementara itu, Grow menekankan pengembangan ekonomi sirkular dan peluang memperluas model yang dibangun.
Dalam presentasinya, Pesangreen menyoroti peningkatan sampah makanan dari aktivitas harian pesantren, kegiatan komersial, dan program Makan Bergizi Gratis. Kondisi tersebut dipandang menambah kebutuhan pengelolaan sampah organik.

Karena itu, MBG Waste Bank dirancang untuk menghubungkan pengumpulan dan pemilahan dengan proses pengolahan serta pemanfaatan hasilnya. Dalam rencana pengembangan, sampah berpotensi diolah menjadi larva black soldier fly (BSF), kompos BSF, pupuk cair, pelet biomassa, bahan bakar dari residu, dan pelet plastik.
Produk-produk tersebut merupakan peluang pengembangan yang disebut dalam materi presentasi, bukan berarti seluruhnya telah diproduksi secara komersial oleh Pesangreen.
Pemanfaatannya membutuhkan perencanaan teknis, fasilitas yang sesuai, tenaga kerja, pembiayaan, dan pasar. Sampah organik dan anorganik juga memerlukan jalur pengolahan yang berbeda, sehingga pemilahan dari sumber menjadi bagian penting dari sistem.
Data capaian Pesangreen menyebut seluruh sampah organik yang masuk ke TPS mereka dimanfaatkan, dengan sekitar 60 persen disalurkan melalui pengepul dan 40 persen menjadi pakan magot. Sementara itu, material anorganik yang memiliki nilai jual disalurkan melalui kerja sama dengan Bank Sampah Induk Kabupaten Tasikmalaya.
Pemanfaatan sampah organik tersebut melibatkan sekitar 6–9 pengepul. Angka ini memperlihatkan hubungan antara pengelolaan lingkungan dan kegiatan ekonomi masyarakat.
Namun, Najmi mengakui bahwa belum semua sampah dapat diolah dan sebagian masih harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir. Ia juga menyebut pemilahan di seluruh sumber belum konsisten.
“Salah satu keterbatasan yang kami hadapi adalah sampah sudah berhasil dikumpulkan, tetapi belum seluruhnya dapat diolah dan masih harus dibawa ke TPA,” katanya.
Pengakuan itu menjadi bagian penting dari cerita Pesangreen. Gerakan ini tidak hanya menyampaikan capaian, tetapi juga menghadapi persoalan kapasitas dan keberlanjutan yang harus diselesaikan agar pengelolaan sampah dapat berjalan setiap hari.
Mengukur Dampak, Mengakui Keterbatasan
Dalam presentasi Pesangreen, komunitas mengklaim telah mengalihkan lebih dari 3.900 ton sampah agar tidak mencemari Sungai Saruni selama periode 2023–2026.
Materi tersebut juga menyebut kemitraan dengan 32 lembaga strategis, dengan jangkauan lebih dari 7.000 santri dan masyarakat sekitar, serta kegiatan tersebut juga melibatkan pedagang lokal. Ada 148 UMKM yang berafiliasi dengan gerakan Pesangreen

Najmi sendiri mengakui bahwa pengukuran dampak dan keberlanjutan pembiayaan masih perlu diperkuat.
“Kami belum mencapai pemilahan yang konsisten di semua sumber dan pengolahan menyeluruh terhadap sampah yang dikumpulkan. Pencatatan dampak serta keberlanjutan pembiayaan juga perlu diperkuat,” katanya.
Ia ingin layanan pengelolaan sampah dapat berjalan rutin, pekerja memperoleh penghidupan yang layak, dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami ingin pelayanan berjalan rutin, pekerjanya memperoleh penghidupan yang layak, dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan gerakan tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan atau banyaknya sampah yang dikumpulkan. Keberlanjutan juga bergantung pada kemampuan membiayai layanan, mempertahankan tenaga kerja, memastikan proses pengolahan, dan membangun sistem pelaporan yang dapat dipercaya.
Membangun Model yang Dapat Direplikasi
Dalam tiga hingga lima tahun ke depan, Pesangreen ingin membangun model pengelolaan lingkungan berbasis pesantren yang berjalan secara utuh: pemilahan dari sumber, pengangkutan terjadwal, pengolahan, hingga pemasaran hasilnya.
“Kami ingin membangun model pengelolaan lingkungan berbasis pesantren yang benar-benar berjalan: pemilahan dari sumber, pengangkutan terjadwal, pengolahan, dan pemasaran hasilnya,” kata Najmi.

Model itu kemudian diharapkan dapat diterapkan di pesantren lain melalui pelatihan dan pendampingan. Pesangreen juga ingin memperluas gerakan ke pemulihan air, penghijauan, kemandirian energi, dan kemandirian pangan masyarakat.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Najmi menilai dukungan lintas sektor diperlukan. Pesantren perlu menjalankan kebijakan lingkungan sampai tingkat asrama. Masyarakat perlu berpartisipasi dalam pemilahan dan pembiayaan layanan. Pemerintah diharapkan mendukung fasilitas dan pendampingan teknis, perguruan tinggi membantu riset serta pengukuran dampak, sedangkan dunia usaha dapat berkontribusi melalui teknologi, investasi, dan akses pasar.

Kebutuhan itu menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan pekerjaan yang dapat ditanggung oleh komunitas penggerak saja. Gerakan masyarakat dapat memulai perubahan dan membangun partisipasi, tetapi sistem yang bertahan membutuhkan dukungan kebijakan, infrastruktur, dan pembiayaan.
Dalam konteks tersebut, MBG Waste Bank menjadi bagian dari upaya Pesangreen menghubungkan pendidikan lingkungan dengan pengelolaan material dan ekonomi sirkular. Tujuannya bukan hanya mengurangi sampah yang berakhir di sungai, tetapi juga menciptakan sistem yang mampu mengelola sampah secara teratur dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Menyelesaikan Masalah dari yang Terdekat
Dari gerakan yang dilakukan Pesangreen, telah meraih beberapa apresiasi, diantaranya, Pada 31 Januari 2025, pendiri Pesangreen Muhammad Najmi Al Haromain dan Diwan Masnawi menerima penghargaan Tokoh Penggerak Lingkungan Tasikmalaya dari jejaring Komunitas Gusdurian Tasikmalaya
Penghargaan tersebut menjadi salah satu penanda perjalanan gerakan. Namun, pekerjaan yang mereka hadapi masih panjang: membangun kebiasaan memilah, memperkuat kapasitas pengolahan, menjaga pembiayaan, dan memastikan sistem pengelolaan sampah dapat bertahan.

Bagi Najmi, pengalaman membangun Pesangreen menegaskan bahwa perubahan perlu dimulai dari persoalan yang paling dekat. Sungai Saruni menjadi titik awal, tetapi gerakan itu berkembang menjadi upaya menghubungkan pesantren, masyarakat, lembaga pendidikan, dan pelaku usaha dalam satu tanggung jawab bersama.
Pesan yang ingin ia sampaikan kepada generasi muda dirumuskan secara singkat: “Resilien dan selesaikan masalah dari yang terdekat.”
Pesan tersebut sejalan dengan perjalanan Pesangreen. Mereka tidak memulai dengan menjanjikan perubahan besar di banyak tempat, tetapi dengan merespons persoalan di lingkungan yang mereka hidupi sendiri.
Dari sana, mereka membersihkan sungai, membentuk satgas, mengembangkan layanan pengangkutan, mendidik kader, menerapkan eco-living, dan merintis sistem pengolahan sampah. Sejumlah capaian telah dicatat, sementara berbagai keterbatasan masih menunggu penyelesaian.
Pada akhirnya, masa depan Pesangreen tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak sampah yang dapat diangkat dari Sungai Saruni.
Masa depan gerakan ini juga bergantung pada kemampuan membangun sistem yang membuat sampah dikelola sejak sumbernya, memastikan pekerja memperoleh penghidupan yang layak, dan menjadikan kepedulian lingkungan sebagai kebiasaan bersama.
Sungai Saruni menjadi pengingat bahwa pemulihan lingkungan membutuhkan dua pekerjaan yang berjalan beriringan: menangani kerusakan yang sudah terjadi dan mengubah kebiasaan yang membuat kerusakan itu terus berulang.
Bagi Pesangreen, pesantren adalah tempat untuk memulai pekerjaan tersebut—bukan karena persoalan lingkungan hanya menjadi tanggung jawab santri, melainkan karena perubahan dapat tumbuh ketika pengetahuan, keteladanan, dan tindakan nyata bertemu dalam kehidupan sehari-hari.
Jurnalis/Penulis Gentra.id yang fokus pada analisis, berita, dan isu-isu terkini
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Dinasti Literasi Hadir di Tasikmalaya, Sastra Tak Sekadar Dibaca tetapi Juga Dirayakan

Forsturiafest 2026: Pelajar Tasikmalaya Didorong Menjadi Subjek Perubahan, Bukan Sekadar Objek Masa Depan

Pesangreen dan Hijrah Ekologis Santri, Merawat Sungai hingga Membangun Ekonomi Sirkular

Tanam Kopi di Kutawaringin, GUSDURian Dorong Konservasi dan Kemandirian Warga

Ombudsman RI Dorong Perbaikan Pelayanan Publik Lewat Kekuatan Pengaruh
