Empangsari Digagas Jadi Kelurahan Toleran, Langkah Awal Tasikmalaya Menuju Kota Toleran

23 Agu 2026, 12.25 WIB
WhatsAppSaluran
Empangsari Digagas Jadi Kelurahan Toleran, Langkah Awal Tasikmalaya Menuju Kota Toleran
Kelurahan Empangsari, Kota Tasikmalaya, menjadi ruang perjumpaan berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan Jalan Santai Toleransi, Sabtu (22/8/2026).CameraGentra.id/Istimewa

Gentra.id-TASIKMALAYA – Kelurahan Empangsari, Kota Tasikmalaya, menjadi ruang perjumpaan berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan Jalan Santai Toleransi, Sabtu (22/8/2026). Kegiatan tersebut bukan sekadar agenda kebersamaan, tetapi berkembang menjadi momentum penting untuk memperkuat kerukunan antarumat beragama di Kota Tasikmalaya.

Kegiatan itu diikuti masyarakat dari berbagai latar belakang dan dihadiri sejumlah tokoh lintas agama serta unsur pemerintahan. Hadir antara lain Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat Dudu Rohman, Kepala Kemenag Kota Tasikmalaya Akhmad Buhaeti, jajaran Forkopimda, DPRD, tokoh agama, serta perwakilan organisasi keagamaan dan komunitas lintas iman.

Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa isu toleransi tidak hanya menjadi tanggung jawab kelompok atau lembaga keagamaan tertentu. Kerukunan membutuhkan keterlibatan pemerintah, tokoh agama, masyarakat, hingga komunitas di tingkat kelurahan.

Dalam kegiatan tersebut, Kakanwil Kemenag Jawa Barat Dudu Rohman memberikan apresiasi terhadap kebersamaan warga Empangsari. Menurutnya, kerukunan merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat sekaligus modal untuk mengisi kemerdekaan.

“Saya bangga semua bisa datang menyaksikan bagaimana rukun itu adalah wajib bagi kita. Karena kemerdekaan tanpa kerukunan, maka kita tentunya tidak ada apa-apanya,” ujar Dudu Rohman.

Dari suasana kebersamaan itulah muncul gagasan untuk menjadikan Empangsari sebagai salah satu kelurahan toleran di Jawa Barat.

“Untuk itu, saya atas nama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat ingin mencanangkan bahwa Kelurahan Empangsari ini menjadi kelurahan toleran di Jawa Barat,” tegas Dudu.

Gagasan tersebut menjadi lebih penting karena tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Empangsari didorong menjadi contoh bagaimana keberagaman dapat dikelola melalui interaksi sosial yang terbuka, saling menghormati, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membangun jarak.

Dudu juga berharap semangat yang tumbuh di Empangsari dapat berkembang menjadi identitas positif bagi Kota Tasikmalaya dan bahkan Jawa Barat.

“Saya bangga atas acara dan kegiatan ini. Mudah-mudahan ini menjadi ikon untuk Kota Tasikmalaya khususnya dan Jawa Barat pada umumnya,” ujarnya.

Toleransi Bukan Sekadar Seremonial

Semangat tersebut sejalan dengan pandangan Romo Hario yang menekankan bahwa persatuan tidak berarti menyeragamkan perbedaan.

Gagasan “kesatuan bukan keseragaman” menjadi pesan penting dalam melihat kehidupan masyarakat yang plural. Perbedaan keyakinan, latar belakang, budaya maupun cara pandang tidak harus dihapuskan agar masyarakat dapat hidup berdampingan.

Sebaliknya, perbedaan perlu ditempatkan sebagai realitas sosial yang harus dihormati. Prinsip inilah yang kemudian membuat toleransi memiliki makna lebih luas daripada sekadar menghadiri kegiatan bersama.

Dengan perspektif tersebut, keberadaan berbagai komunitas agama dalam kegiatan Jalan Santai Toleransi di Empangsari dapat dilihat sebagai praktik nyata kehidupan bersama. Masyarakat tidak dituntut menjadi sama, tetapi belajar untuk menghargai satu sama lain.

Korelasi antara gagasan Dudu Rohman dan pesan Romo Hario menjadi cukup kuat. Dudu menekankan kerukunan sebagai kewajiban bersama, sedangkan Romo Hario menyoroti bahwa persatuan tidak boleh dimaknai sebagai penghapusan perbedaan.

Keduanya bertemu pada satu gagasan utama: masyarakat yang toleran bukan masyarakat yang kehilangan perbedaan, melainkan masyarakat yang mampu hidup bersama di tengah perbedaan.

Dari Empangsari Menuju Kota Toleran

Jika gagasan Kelurahan Empangsari sebagai kelurahan toleran benar-benar dikembangkan secara konsisten, langkah tersebut berpotensi menjadi titik awal bagi penguatan ekosistem toleransi di Kota Tasikmalaya.

Sebab, toleransi yang kuat tidak cukup dibangun melalui slogan. Ia perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari: bagaimana warga berinteraksi dengan tetangga berbeda agama, bagaimana masyarakat menyikapi kegiatan keagamaan kelompok lain, bagaimana ruang publik digunakan bersama, serta bagaimana pemerintah memastikan setiap warga memperoleh rasa aman dan dihormati.

Kegiatan Jalan Santai Toleransi memberikan gambaran awal mengenai model tersebut. Berbagai elemen masyarakat dapat hadir dalam satu ruang, berjalan bersama, berinteraksi, dan menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan sosial.

Kehadiran unsur pemerintah dan tokoh lintas agama juga menunjukkan bahwa penguatan toleransi membutuhkan kolaborasi. Dalam kegiatan tersebut, perwakilan NU, gereja, komunitas keagamaan, pemerintah daerah, DPRD, Forkopimda dan masyarakat hadir dalam satu agenda kebersamaan.

Karena itu, pencanangan Empangsari sebagai kelurahan toleran seharusnya tidak berhenti sebagai label. Justru setelah pencanangan, tantangan sebenarnya dimulai: bagaimana nilai toleransi diterjemahkan menjadi program, kebiasaan, pendidikan masyarakat, ruang dialog dan mekanisme penyelesaian persoalan sosial di tingkat lokal.

Apabila hal tersebut dapat berjalan, Empangsari bukan hanya menjadi sebuah kelurahan dengan predikat toleran. Wilayah ini dapat menjadi laboratorium sosial bagi Kota Tasikmalaya dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun.

Pada akhirnya, gagasan menjadikan Empangsari sebagai kelurahan toleran membawa pesan yang lebih luas. Kota yang toleran tidak dibangun dari keseragaman, tetapi dari kemampuan masyarakat menerima perbedaan tanpa kehilangan rasa persaudaraan.

Semangat itulah yang membuat kegiatan di Empangsari memiliki arti lebih dari sekadar jalan santai. Ia menjadi sebuah pesan bahwa perjalanan menuju Kota Tasikmalaya yang semakin toleran dapat dimulai dari lingkungan paling dekat: kelurahan, kampung, bahkan dari hubungan antartetangga.

Dudu Rohman pun menutup pesannya dengan ajakan agar masyarakat menjadikan kerukunan sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan.

“Semoga kebersamaan kita ini menjadi kebersamaan yang bisa menjadikan kita rukun. Salam rukun bagi kita semua.”

Dengan demikian, Empangsari kini memiliki peluang untuk menjadi titik awal gerakan yang lebih besar. Jika semangat tersebut mampu direplikasi ke kelurahan-kelurahan lain, gagasan tentang Kota Tasikmalaya sebagai kota toleran bukan lagi sekadar wacana, melainkan agenda sosial yang dibangun dari bawah, dari masyarakat sendiri.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.