
Gentra.id-Jakarta — Menguatkan negeri tidak cukup hanya dengan mencetak generasi yang cerdas secara intelektual dan kokoh dalam nilai-nilai keagamaan. Di tengah persoalan lingkungan yang menuntut perhatian, masa depan Indonesia juga membutuhkan generasi yang memahami pentingnya merawat tanah, menjaga air, mengurangi sampah, dan melindungi keberlanjutan ruang hidup.
Gagasan itulah yang menjadi perhatian Pesangreen Indonesia dalam menyambut Hari Santri Nasional 2026. Melalui momentum bertema Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, komunitas yang bergerak dalam isu lingkungan ini mendorong pesantren mengambil peran lebih besar dalam membangun kesadaran ekologis, baik di lingkungan pendidikan maupun di tengah masyarakat.
Direktur Pesangreen Indonesia, Arya Eka Bimantara, memandang pesantren memiliki posisi strategis untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Pesantren bukan semata tempat santri mempelajari ilmu agama dan membentuk akhlak, melainkan juga ruang pendidikan yang dapat menanamkan tanggung jawab terhadap alam sebagai bagian dari kehidupan bersama.
“Semangat Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Menguatkan negeri bukan hanya tentang menyiapkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan,” jelas Eka kepada Gentra.id, Kamis 22/10/2026
Dalam perspektif tersebut, menurutnya, gerakan lingkungan tidak seharusnya ditempatkan sebagai kegiatan tambahan yang hanya dilakukan ketika ada peringatan tertentu. Kepedulian ekologis perlu menjadi kebiasaan yang tumbuh dalam keseharian santri, menyatu dengan proses pendidikan karakter, praktik ibadah, dan pengabdian sosial.
Pesantren memiliki modal sosial yang kuat untuk membangun kebiasaan tersebut. Kehidupan kolektif, kedisiplinan, gotong royong, kemandirian, dan tradisi pengabdian merupakan nilai yang dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam menjaga lingkungan.
Dari Kebiasaan Santri Menuju Gerakan Ekologis
Bagi Pesangreen, membangun pesantren yang peduli lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan program besar atau fasilitas yang mahal. Perubahan justru dapat berangkat dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pemilahan dan pengelolaan sampah, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, penanaman pohon, pemanfaatan lahan pesantren, penghematan air dan energi, hingga edukasi lingkungan kepada warga sekitar merupakan sejumlah langkah yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing pesantren.
“Gerakan lingkungan tidak harus dimulai dengan langkah besar. Pesantren bisa memulainya dari kebiasaan sederhana, seperti mengurangi sampah, menghemat air, menanam pohon, dan menjaga kebersihan. Hal terpenting adalah konsistensi dan kemauan untuk menjadikannya budaya bersama,” ungkapnya
Namun, praktik tersebut membutuhkan konsistensi. Penghijauan tidak cukup berhenti pada kegiatan menanam pohon, sebagaimana pengelolaan sampah tidak selesai hanya dengan menyediakan tempat pembuangan. Keduanya membutuhkan pembiasaan, pembagian tanggung jawab, serta pemahaman mengenai dampak perilaku manusia terhadap lingkungan.
Di sinilah pendidikan ekologis menemukan relevansinya. Santri tidak hanya diajak mengetahui persoalan lingkungan, tetapi juga memahami penyebabnya, membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab, dan mengambil bagian dalam mencari solusi.
Pesantren pun dapat menjadi ruang pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan dengan praktik. Halaman yang ditanami pepohonan, sumber air yang dijaga, sampah yang dikelola, serta penggunaan energi yang lebih bijak dapat menjadi bagian dari pendidikan sehari-hari.
Jika dilakukan secara berkelanjutan, kebiasaan tersebut berpotensi melampaui batas lingkungan pesantren. Santri dapat membawa pengetahuan dan pengalaman ekologis ke rumah, komunitas, serta masyarakat tempat mereka kelak mengabdi.
Dengan demikian, pesantren tidak hanya melahirkan generasi yang memahami ajaran agama, tetapi juga generasi yang mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Merawat Bumi sebagai Bagian dari Pengabdian
Gagasan yang diusung Pesangreen bertumpu pada semangat Dari Pesangreen untuk Pesantren, dari Pesantren untuk Indonesia. Semangat ini menempatkan pesantren sebagai salah satu titik awal untuk memperluas gerakan lingkungan melalui pendidikan, keteladanan, dan keterlibatan masyarakat.
Bagi Arya, penguatan kapasitas santri perlu berjalan beriringan dengan pembentukan kesadaran ekologis. Keduanya penting untuk menghadapi tantangan masa depan, ketika persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kondisi alam, tetapi juga menyentuh kesehatan, ketahanan pangan, ketersediaan air, dan kualitas hidup masyarakat.
“Nilai-nilai keagamaan mengajarkan kepedulian, tanggung jawab, dan pengabdian. Nilai-nilai itu perlu diterjemahkan ke dalam perilaku nyata, termasuk dalam cara kita memperlakukan alam. Merawat lingkungan bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan bagian dari tanggung jawab moral manusia,” jelasnya
Persoalan lingkungan membutuhkan partisipasi banyak pihak. Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam merumuskan kebijakan dan menyediakan dukungan yang diperlukan. Masyarakat perlu membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab, sementara lembaga pendidikan dapat menanamkan pengetahuan dan nilai yang mendorong perubahan perilaku.
Pesantren dapat mengambil peran dalam hubungan tersebut dengan menjadikan pendidikan lingkungan sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan yang sesuai dengan kondisi setempat, pesantren dapat membantu membangun kesadaran bersama sekaligus mendorong praktik pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
Peran itu juga membuka ruang kolaborasi dengan komunitas lingkungan, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan kelompok masyarakat. Kolaborasi diperlukan agar gerakan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi program yang memiliki tujuan, pendampingan, dan keberlanjutan.
“Pesantren tidak harus berjalan sendiri dalam gerakan lingkungan. Pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, dan masyarakat perlu membangun kolaborasi agar kepedulian ekologis tidak berhenti sebagai slogan, tetapi berkembang menjadi gerakan yang berkelanjutan,” menjadi pesan penting dalam mendorong keterlibatan lintas sektor.
Bagi Pesangreen, kekuatan pesantren bukan hanya terletak pada jumlah santri atau luasnya jangkauan pendidikan keagamaan. Kekuatan tersebut juga berada pada kemampuannya membangun keteladanan dan menggerakkan perubahan dari lingkungan terdekat.
Ketika santri terbiasa menjaga kebersihan, menghemat air, merawat tanaman, dan mengelola sampah secara bertanggung jawab, mereka sedang belajar bahwa pengabdian tidak selalu diwujudkan melalui tindakan besar. Pengabdian juga hadir dalam pilihan-pilihan kecil yang dilakukan secara konsisten dan memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.
Indonesia Emas Membutuhkan Generasi yang Peduli Lingkungan
Cita-cita Indonesia Emas 2045 kerap dikaitkan dengan kualitas sumber daya manusia, kemajuan pendidikan, daya saing ekonomi, dan penguasaan ilmu pengetahuan. Namun, pembangunan manusia juga berkaitan erat dengan kemampuan menjaga lingkungan yang menopang kehidupan generasi mendatang.
Kemajuan akan kehilangan sebagian maknanya apabila tidak disertai tanggung jawab terhadap keberlanjutan alam. Kecerdasan dan keterampilan perlu berjalan bersama kesadaran bahwa tanah, air, udara, dan keanekaragaman hayati merupakan bagian penting dari kehidupan yang harus dijaga.
Arya memandang pendidikan perlu menumbuhkan kesadaran bahwa masa depan manusia tidak bisa dipisahkan dari kondisi lingkungan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Jangan sampai kita sibuk berbicara tentang masa depan generasi muda, tetapi mengabaikan lingkungan yang akan mereka warisi. Pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia meraih masa depan, tetapi juga bagaimana menjaga agar masa depan itu tetap layak dihuni,” menjadi refleksi atas pentingnya memasukkan kepedulian ekologis dalam proses pendidikan.
Santri memiliki kesempatan untuk mengambil peran dalam agenda tersebut. Bekal ilmu, nilai keagamaan, dan pengalaman hidup bermasyarakat dapat menjadi landasan untuk mengembangkan gerakan lingkungan yang berangkat dari komunitas.
Dari Tasikmalaya, Pesangreen Indonesia mendorong lahirnya generasi santri yang tidak hanya kuat dalam keilmuan dan akhlak, tetapi juga memiliki kepedulian ekologis serta keberanian mengambil bagian dalam menghadapi persoalan lingkungan.
Tantangannya adalah memastikan gagasan tersebut tidak berhenti sebagai pesan moral pada peringatan Hari Santri Nasional. Diperlukan langkah konkret agar pendidikan lingkungan dapat masuk ke dalam kebiasaan harian, program pesantren, dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Setiap pesantren tentu memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda. Karena itu, gerakan ekologis perlu dikembangkan secara kontekstual, dimulai dari persoalan yang paling dekat dan disesuaikan dengan sumber daya yang tersedia. Ukuran keberhasilannya bukan semata-mata besarnya kegiatan, melainkan konsistensi perubahan yang dapat dirasakan.
Pada akhirnya, semangat Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas dapat diterjemahkan melalui tindakan sederhana, tetapi bermakna: santri belajar dari lingkungan, pesantren bergerak menjaga lingkungan, dan masyarakat bekerja bersama merawat ruang hidup.
Bagi Pesangreen Indonesia, merawat bumi bukan sekadar aktivitas sosial. Upaya tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga keberlanjutan kehidupan.
“Santri menguatkan negeri dengan ilmu dan akhlak, tetapi juga dengan kepedulian terhadap bumi. Sebab, menjaga tanah, air, dan pepohonan hari ini berarti ikut menjaga kehidupan generasi Indonesia pada masa mendatang.” pungkasnya
Semangat Dari Pesangreen untuk Pesantren, dari Pesantren untuk Indonesia menjadi ajakan agar pesantren tidak hanya mendidik generasi yang siap menghadapi masa depan, tetapi juga ikut memastikan bahwa masa depan tersebut tetap memiliki lingkungan yang layak untuk dihuni.
Jurnalis/Penulis Gentra.id yang fokus pada analisis, berita, dan isu-isu terkini
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

HUT ke-25 Kota Tasikmalaya, PMII Soroti Pelayanan Publik hingga Krisis Sampah

Hari Santri 2026, Pesangreen Dorong Pesantren Jadi Penggerak Lingkungan Menuju Indonesia Emas

Hari Santri Nasional: Meneguhkan Keyakinan, Menyemai Kemanusiaan, Merawat Keberagaman

Semarak Hari Santri 2026, Bupati Cecep Pimpin Kirab dan Napak Tilas di Tasikmalaya

Sawitisasi Lahan Bekas Karhutla, Ancaman Hukum dan Risiko Bencana Berulang
