Kenapa Banyak Orang Betah di Toxic Relationship? Ini 7 Alasannya

9 Agu 2026, 14.07 WIB
WhatsAppSaluran
Kenapa Banyak Orang Betah di Toxic Relationship? Ini 7 Alasannya
Ilustrasi stres akibat dari hubungan yang toxic/Toxic Relationship /CameraPexels

Gentra.id-Toxic relationship atau hubungan yang tidak sehat sering kali tidak mudah dikenali, terutama ketika hubungan tersebut sudah berlangsung cukup lama. Seseorang bisa saja menyadari bahwa pasangannya sering mengontrol, merendahkan, memanipulasi, atau membuatnya merasa tidak nyaman. 

Namun, kesadaran tersebut tidak selalu otomatis membuatnya berani mengakhiri hubungan.

Pertanyaannya, mengapa seseorang tetap bertahan dalam hubungan yang sebenarnya membuat dirinya tidak bahagia?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana "karena masih cinta". Ada berbagai faktor psikologis, emosional, sosial, bahkan ekonomi yang dapat membuat seseorang kesulitan meninggalkan hubungan tidak sehat.

American Psychological Association (APA) mendefinisikan toxic relationship sebagai pola perilaku relasional yang merugikan, seperti manipulasi emosional, kontrol koersif, gaslighting, sikap tidak menghargai, kecemburuan, komunikasi yang merusak, hingga kekerasan fisik, emosional, atau finansial. Kondisi tersebut dapat menurunkan kesejahteraan dan kepuasan seseorang dalam hubungan.

Berikut tujuh alasan yang bisa menjelaskan mengapa seseorang tetap bertahan:

1. Masih Percaya Pasangan Akan Berubah

Harapan merupakan salah satu alasan yang membuat hubungan sulit ditinggalkan.

Seseorang mungkin berpikir bahwa pasangan sebenarnya memiliki sisi baik dan hanya sedang menghadapi masalah. Setelah bertengkar, pasangan kemudian meminta maaf, berjanji berubah, atau kembali bersikap romantis.

Situasi tersebut dapat membuat seseorang berpikir bahwa hubungan masih bisa diperbaiki.

Penelitian mengenai alasan seseorang bertahan dalam hubungan penuh kekerasan juga menemukan adanya faktor berupa harapan positif terhadap hubungan dan masa depan. 

Artinya, seseorang tidak selalu bertahan karena tidak melihat masalah, tetapi bisa karena masih percaya kondisi tersebut akan berubah.

Masalahnya muncul ketika janji perubahan hanya menjadi bagian dari siklus yang terus berulang.

2. Takut Sendirian Setelah Hubungan Berakhir

Bagi sebagian orang, membayangkan hidup tanpa pasangan terasa lebih menakutkan dibandingkan menghadapi hubungan yang tidak sehat.

Apalagi jika selama bertahun-tahun pasangan menjadi tempat utama untuk bercerita, menghabiskan waktu, dan mencari dukungan emosional.

Ketakutan terhadap kesepian akhirnya membuat seseorang memilih bertahan.

Riset mengenai pengalaman orang yang tetap berada dalam hubungan abusif juga menemukan adanya ketakutan terhadap kesendirian sebagai salah satu faktor psikologis yang dapat menghambat keputusan untuk pergi.

Padahal, memiliki pasangan tidak selalu berarti seseorang terbebas dari rasa kesepian. Hubungan yang penuh konflik justru bisa membuat seseorang merasa sendirian meskipun secara fisik tidak sendiri.

3. Merasa Sudah Terlalu Banyak Berkorban

Semakin lama hubungan berlangsung, semakin banyak pula investasi yang diberikan.

Bukan hanya waktu dan tenaga, tetapi juga uang, perhatian, hubungan dengan keluarga, pertemanan, hingga berbagai rencana masa depan.

Ketika hubungan mulai terasa tidak sehat, seseorang dapat berpikir bahwa meninggalkan pasangan berarti membuang semua yang sudah diperjuangkan.

Muncul pemikiran seperti, "Aku sudah bertahan selama bertahun-tahun, masa semuanya harus berakhir begitu saja?"

Kondisi ini dapat berkaitan dengan psychological entrapment, yaitu perasaan terjebak karena seseorang sudah memberikan terlalu banyak usaha dan merasa harus terus berusaha agar pengorbanannya tidak terasa sia-sia.

Penelitian terbaru mengenai psychological entrapment dalam hubungan abusif menjelaskan bahwa korban dapat mengalami keraguan terhadap diri sendiri serta semakin sulit menilai pilihan antara mempertahankan hubungan dan menyelamatkan diri.

4. Kepercayaan Diri Perlahan Hancur

Hubungan yang toxic dapat mengubah cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Jika pasangan terus mengatakan bahwa dirinya tidak cantik, tidak pintar, tidak menarik, tidak mampu, atau tidak akan mendapatkan orang lain, komentar tersebut lama-kelamaan dapat memengaruhi kepercayaan diri.

Lebih buruk lagi jika seseorang mulai mempercayai perkataan pasangannya.

Akibatnya, muncul pikiran, "Siapa lagi yang mau menerimaku kalau bukan dia?"

Padahal, rasa tidak berharga tersebut bisa jadi merupakan dampak dari perlakuan pasangan, bukan gambaran sebenarnya mengenai diri seseorang.

Penelitian tentang pengalaman korban hubungan abusif menunjukkan bahwa rendahnya harga diri, depresi, rasa terjebak, dan ketidakberdayaan dapat menjadi bagian dari pengalaman psikologis yang membuat seseorang kesulitan meninggalkan hubungan.

5. Terjebak dalam Siklus Perlakuan Buruk dan Kasih Sayang

Hubungan toxic tidak selalu buruk setiap hari.

Ada saat ketika pasangan sangat menyakitkan, tetapi kemudian berubah menjadi sangat perhatian. Setelah melakukan kesalahan, pasangan mungkin meminta maaf, memberikan hadiah, mengajak jalan, atau kembali menunjukkan kasih sayang.

Momen tersebut dapat membuat seseorang kembali merasakan hubungan seperti ketika pertama kali jatuh cinta.

Pola naik-turun seperti ini dapat membuat keterikatan emosional semakin rumit.

Konsep traumatic bonding digunakan dalam penelitian untuk menjelaskan keterikatan emosional yang dapat terbentuk dalam hubungan dengan kekerasan atau perlakuan abusif, terutama ketika perilaku buruk dan perlakuan positif muncul secara bergantian.

Karena itu, seseorang mungkin tetap mencintai atau merindukan pasangan meskipun mengetahui bahwa hubungan tersebut telah menyakitinya.

6. Takut dengan Reaksi Pasangan Jika Memilih Pergi

Tidak semua orang memiliki kebebasan yang sama untuk mengakhiri hubungan.

Dalam hubungan dengan kontrol berlebihan atau kekerasan, keputusan untuk pergi dapat menimbulkan ketakutan. Seseorang mungkin khawatir akan ancaman, kemarahan, penguntitan, penyebaran informasi pribadi, atau tindakan lain dari pasangan.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memasukkan perilaku seperti kontrol, kecemburuan berlebihan, ancaman, isolasi, penghinaan, serta upaya mengatur pakaian dan pergaulan sebagai tanda hubungan yang tidak sehat atau abusif.

Karena itu, mengatakan kepada korban, "Kalau tidak bahagia, tinggal pergi," bisa menjadi penyederhanaan masalah.

Dalam kondisi tertentu, keselamatan justru menjadi pertimbangan utama.

7. Sudah Menganggap Perlakuan Buruk sebagai Hal Biasa

Ini merupakan salah satu alasan yang sering luput diperhatikan.

Ketika seseorang terlalu lama berada dalam hubungan yang penuh kontrol, penghinaan, manipulasi, atau kekerasan emosional, ia dapat mulai menganggap perilaku tersebut sebagai bagian normal dari hubungan.

-Cemburu berlebihan dianggap bukti cinta.

-Memeriksa ponsel dianggap perhatian.

-Mengatur pergaulan dianggap bentuk kepedulian.

-Dimarahi karena terlambat membalas pesan dianggap sesuatu yang wajar.

Padahal, hubungan sehat tetap memberikan ruang bagi setiap orang untuk memiliki batas pribadi, pertemanan, aktivitas, dan keputusan masing-masing.

Penelitian tentang psychological entrapment menunjukkan bahwa seseorang yang terus mengalami perlakuan abusif dapat mencoba mengurangi tekanan dengan cara mengecilkan, membenarkan, atau menormalisasi perilaku pasangannya.

Bertahan Bukan Berarti Lemah

Penting untuk tidak buru-buru menghakimi seseorang yang masih berada dalam toxic relationship.

Keputusan untuk bertahan bisa dipengaruhi banyak hal sekaligus: cinta, harapan, rasa takut, ketergantungan ekonomi, anak, tekanan keluarga, kehilangan kepercayaan diri, hingga kekhawatiran terhadap keselamatan.

Penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa alasan seseorang bertahan dalam hubungan bermasalah tidak bisa dibagi secara sederhana menjadi "ingin bertahan" atau "tidak mampu pergi". Ada kombinasi antara manfaat yang masih dirasakan, rasa takut, hambatan, dan perasaan terjebak.

Karena itu, dukungan dari orang terdekat menjadi penting.

Jika seseorang sedang mengalami hubungan yang tidak sehat, langkah pertama bukan selalu memaksanya segera mengambil keputusan. Mendengarkan tanpa menghakimi, membantu mengenali pola hubungan, dan memastikan keselamatan dapat menjadi dukungan yang jauh lebih berarti.

Sebab, hubungan seharusnya tidak membuat seseorang terus-menerus merasa takut, tidak berharga, terisolasi, atau kehilangan kendali atas kehidupannya sendiri.

Pada akhirnya, meninggalkan hubungan toxic memang tidak selalu mudah. Tetapi memahami bahwa perlakuan buruk bukan bagian yang wajib diterima dalam hubungan bisa menjadi langkah awal untuk mendapatkan kembali kendali atas diri sendiri.

Nanang AH
Nanang AH

Wartawan senior Gentra.id yang berfokus pada analisis hukum, politik, dan kebijakan publik di Indonesia.

Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.