Kopi atau Teh Hijau Bisa Gagal Bantu Diet karena 5 Kesalahan Ini

9 Agu 2026, 06.03 WIB
WhatsAppSaluran
Kopi atau Teh Hijau Bisa Gagal Bantu Diet karena 5 Kesalahan Ini
Kopi hitam dan Teh Hijau sering dikaitkan orang ketika sedang berusaha menurunkan berat badan /CameraGentra.id/Pexels

Gentra.id-Kopi hitam dan Teh Hijau sering dikaitkan orang ketika sedang berusaha menurunkan berat badan. Keduanya mengandung kafein dan sejumlah senyawa bioaktif yang dalam penelitian dikaitkan dengan metabolisme energi.

Namun, bukan berarti minum kopi atau teh hijau otomatis membuat berat badan turun.

Justru, kebiasaan mengonsumsi kedua minuman tersebut bisa menjadi kurang efektif jika dilakukan dengan cara yang keliru. Dalam kondisi tertentu, tambahan gula, pola konsumsi berlebihan hingga waktu minum yang tidak tepat dapat mengganggu tujuan diet.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa pengendalian berat badan tidak bisa hanya mengandalkan satu jenis makanan atau minuman. Keseimbangan antara asupan energi dan energi yang digunakan tubuh, pola makan sehat serta aktivitas fisik tetap menjadi bagian penting dalam pengelolaan berat badan.

Lantas, apa saja kesalahan yang sering dilakukan?

1. Menambahkan Terlalu Banyak Gula

Kopi atau teh hijau tanpa gula pada dasarnya berbeda dengan minuman kopi kekinian yang ditambahkan gula, sirup, krimer, susu, atau berbagai topping.

Masalahnya bukan semata-mata pada kopi atau teh hijaunya, melainkan pada total kalori yang masuk bersama minuman tersebut.

Secangkir kopi hitam tanpa tambahan gula tentu berbeda dengan kopi yang menggunakan beberapa sendok gula dan tambahan krimer.

WHO merekomendasikan agar konsumsi gula bebas dibatasi kurang dari 10 persen dari total energi harian. Untuk pola makan 2.000 kalori, angka tersebut setara sekitar 50 gram atau 12 sendok teh gula per hari, dan pengurangan hingga 5 persen dinilai dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.

Karena itu, seseorang yang sedang diet perlu memperhatikan bukan hanya jenis minumannya, tetapi juga apa yang dimasukkan ke dalam gelas.

2. Menganggap Kopi atau Teh Hijau sebagai Pembakar Lemak Utama

Ini merupakan kesalahan yang cukup umum.

Kandungan kafein dan senyawa tertentu dalam teh hijau memang telah diteliti berkaitan dengan metabolisme energi. Sebuah meta-analisis terhadap 15 penelitian dengan 1.243 peserta menemukan bahwa katekin teh hijau yang dikombinasikan dengan kafein dikaitkan dengan penurunan kecil pada indeks massa tubuh, berat badan dan lingkar pinggang dibandingkan kelompok pembanding.

Tetapi hasil tersebut tidak berarti teh hijau merupakan obat pelangsing.

Efeknya relatif kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan pola hidup seseorang.

WHO menjelaskan bahwa kelebihan berat badan dan obesitas berkaitan dengan ketidakseimbangan antara energi yang dikonsumsi dan energi yang dikeluarkan. Karena itu, mengandalkan satu minuman tanpa memperbaiki pola makan dan aktivitas fisik tentu bukan strategi yang memadai.

Dengan kata lain, kopi atau teh hijau bisa menjadi bagian dari pola hidup sehat, tetapi bukan jalan pintas untuk menurunkan berat badan.

3. Minum Terlalu Banyak karena Merasa Aman

Kesalahan berikutnya adalah menganggap semakin banyak kopi atau teh hijau yang diminum, semakin besar pula manfaatnya untuk diet.

Padahal, kafein dalam jumlah berlebihan dapat menimbulkan masalah bagi sebagian orang, termasuk rasa gelisah, jantung berdebar dan gangguan tidur.

Kebutuhan dan toleransi setiap orang terhadap kafein juga berbeda. Karena itu, konsumsi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada keinginan mempercepat penurunan berat badan.

Prinsipnya sederhana: lebih banyak tidak selalu berarti lebih efektif.

4. Minum Kopi Terlalu Sore atau Malam

Kopi yang diminum sore atau malam hari dapat menjadi masalah ketika kafeinnya mengganggu tidur.

Sebuah systematic review dan meta-analysis yang melibatkan 24 penelitian menemukan bahwa konsumsi kafein rata-rata mengurangi total waktu tidur sekitar 45 menit dan menurunkan efisiensi tidur sekitar 7 persen. 

Penelitian tersebut juga memperkirakan bahwa kopi dengan kandungan sekitar 107 mg kafein sebaiknya dikonsumsi sekitar 8,8 jam sebelum waktu tidur untuk menghindari pengurangan total waktu tidur.

Penelitian lain yang dirangkum American Academy of Sleep Medicine juga menunjukkan bahwa konsumsi 400 mg kafein bahkan enam jam sebelum tidur dapat mengganggu waktu tidur.

Ini penting bagi orang yang sedang menjalani program penurunan berat badan.

Sebab, diet bukan hanya soal makanan. WHO memasukkan durasi dan kualitas tidur sebagai bagian dari gaya hidup sehat dalam pencegahan dan pengelolaan kelebihan berat badan.

Karena itu, jika kopi sore membuat seseorang tidur lebih larut atau kualitas tidurnya memburuk, kebiasaan tersebut perlu dievaluasi.

5. Merasa Sudah “Diet” karena Minum Kopi atau Teh Hijau

Ini mungkin kesalahan yang paling sering tidak disadari.

Seseorang bisa saja memilih kopi tanpa gula atau teh hijau pada pagi hari, tetapi setelah itu mengonsumsi makanan tinggi kalori, camilan manis, gorengan atau minuman berpemanis dalam jumlah berlebihan.

Akhirnya, manfaat dari pilihan minuman tersebut menjadi tidak berarti jika total asupan energi sepanjang hari tetap berlebihan.

WHO menyarankan pola makan yang beragam dan seimbang, dengan membatasi gula bebas serta makanan yang tinggi energi dan memperbanyak konsumsi buah, sayuran, kacang-kacangan serta biji-bijian utuh.

Aktivitas fisik juga tidak boleh dilupakan. WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan sedikitnya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang dalam satu minggu, atau 75 menit aktivitas intensitas tinggi, dengan kombinasi yang setara.

Jadi, Mana yang Lebih Baik?

Kopi dan teh hijau sama-sama dapat menjadi pilihan minuman dalam pola hidup sehat, terutama jika dikonsumsi tanpa tambahan gula berlebihan.

Namun, pertanyaan yang lebih penting sebenarnya bukan “kopi atau teh hijau mana yang paling ampuh?”

Pertanyaannya adalah “bagaimana minuman tersebut dikonsumsi dan seperti apa pola hidup secara keseluruhan?”

Memilih kopi hitam tetapi tetap mengonsumsi makanan tinggi kalori secara berlebihan tidak otomatis membuat diet berhasil. Begitu pula dengan minum teh hijau berkali-kali sehari tanpa memperhatikan pola makan, aktivitas fisik dan kualitas tidur.

Pada akhirnya, penurunan berat badan lebih masuk akal dipandang sebagai hasil dari kebiasaan yang dilakukan secara konsisten, bukan efek ajaib dari satu jenis minuman.

Kopi dan teh hijau boleh menjadi bagian dari rutinitas. Tetapi fondasinya tetap sama: pola makan seimbang, pengendalian asupan energi, aktivitas fisik yang cukup dan tidur berkualitas.

Catatan: Respons tubuh terhadap kafein berbeda-beda. Orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, sedang mengonsumsi obat, hamil, atau mengalami keluhan setelah mengonsumsi kafein sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Nanang AH
Nanang AH

Wartawan senior Gentra.id yang berfokus pada analisis hukum, politik, dan kebijakan publik di Indonesia.

Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.