Unik! Tutut Jadi Primadona BUMDes Festival Jabar di Kuningan

31 Agu 2026, 08.29 WIB
WhatsAppSaluran
Unik! Tutut Jadi Primadona BUMDes Festival Jabar di Kuningan
Tutut, kuliner sederhana yang lekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan, mendapat panggung istimewa dalam BUMDes Festival Jawa Barat 2026 di kawasan wisata Waduk Darma, Kabupaten Kuningan, Minggu (30/8/2026).CameraDiskominfo

Gentra.id-KUNINGAN – Di tengah geliat kawasan wisata Waduk Darma, Kabupaten Kuningan, Minggu (30/8/2026), sesuatu yang sederhana justru mencuri perhatian. Bukan hidangan mahal atau kuliner modern, melainkan tutut, keong sawah yang sejak lama akrab dengan meja makan masyarakat pedesaan.

Namun hari itu tutut tampil dengan wajah berbeda. Ia tidak sekadar menjadi makanan tradisional, tetapi diangkat menjadi bagian dari atraksi dalam Festival Ngecrok Tutut Sajagat Sajedingna, yang menjadi salah satu magnet BUMDes Festival Jawa Barat 2026.

Festival tersebut memperlihatkan bagaimana sesuatu yang selama ini dianggap sederhana dapat memperoleh nilai baru ketika dipadukan dengan kreativitas, budaya, pariwisata, dan strategi pemasaran. Tutut yang identik dengan kehidupan pedesaan justru menjadi bagian dari panggung besar untuk memperkenalkan potensi ekonomi desa.

Suasana festival semakin semarak dengan kehadiran sekitar 50 stan BUMDes dan UMKM dari berbagai daerah, disertai kegiatan talkshow, jalan santai, pesta kuliner, serta berbagai aktivitas yang mempertemukan pengelola usaha desa dengan masyarakat dan calon jejaring usaha.

Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar melihat fenomena tutut tersebut sebagai gambaran sederhana tentang bagaimana potensi lokal semestinya dikembangkan. Menurut dia, sesuatu yang kecil, sederhana, dan unik dapat berubah menjadi kekuatan ekonomi apabila dikemas secara tepat dan memiliki pasar.

“Yang kecil, yang sederhana, yang unik ini akan menjadi istimewa,” ujar Dian.

Pesan itu sekaligus diarahkan kepada pengelola Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes. Menurutnya, desa tidak harus selalu memiliki produk mewah untuk bisa berkembang. Yang lebih penting adalah kemampuan membaca potensi, menciptakan nilai tambah, mengembangkan produk, kemudian membawanya menuju pasar yang lebih luas.

Dian mengingatkan agar BUMDes tidak berhenti pada keberadaan administratif. Sebuah badan usaha desa, kata dia, harus benar-benar menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

“Jangan hanya punya produk tetapi tidak punya pasar,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena persoalan banyak produk desa bukan semata-mata terletak pada kualitas. Tidak sedikit produk lokal yang sebenarnya memiliki potensi, tetapi berhenti di pasar yang terbatas karena belum memiliki strategi pemasaran, pengemasan, branding, hingga jaringan distribusi yang kuat.

Karena itu, pengelolaan BUMDes menurut Dian harus dilakukan secara profesional, mulai dari sumber daya manusia, tata kelola, proses produksi, pemasaran hingga pengembangan jaringan usaha. Pemerintah daerah juga memiliki peran untuk membuka akses perizinan, permodalan, peningkatan kapasitas, pasar, dan penguatan merek produk desa.

Dari Kuliner Desa Menjadi Atraksi Wisata

Di Waduk Darma, tutut mendapatkan peran yang lebih luas. Ia bukan hanya berbicara tentang makanan, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman menilai kekuatan sebuah destinasi wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Wisatawan membutuhkan alasan lain untuk datang, salah satunya atraksi yang memiliki kekhasan dan tidak mudah ditemukan di tempat lain.

Dalam konteks itu, Festival Ngecrok Tutut Sajagat Sajedingna menjadi contoh bagaimana kekayaan kuliner lokal dapat dipadukan dengan sektor pariwisata.

Waduk Darma tidak hanya menawarkan hamparan air dan lanskap alam. Kehadiran festival kuliner berbasis potensi masyarakat memberikan warna lain bagi destinasi tersebut. Wisatawan mendapatkan pengalaman yang tidak hanya bersifat visual, tetapi juga berkaitan dengan budaya dan kehidupan masyarakat lokal.

Herman juga menyoroti potensi tutut sebagai sumber pangan lokal yang mengandung protein hewani. Namun, pengembangan kuliner tersebut tetap harus memperhatikan aspek keamanan pangan serta ketentuan sertifikasi dari instansi terkait.

Bagi pengembangan pariwisata Waduk Darma, Herman menekankan pentingnya tiga unsur utama, yakni aksesibilitas, amenitas, dan atraksi. Ketiganya harus tumbuh secara beriringan agar kunjungan wisata tidak hanya meningkat sesaat, tetapi mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Dengan demikian, festival tidak berhenti sebagai keramaian sehari. Ada harapan agar geliat wisata yang tercipta ikut menggerakkan usaha masyarakat, termasuk penginapan, kuliner, produk UMKM, jasa wisata, hingga usaha lain yang berada di sekitar destinasi.

BUMDes Tak Boleh Berhenti di Papan Nama

Di balik kemeriahan festival, terdapat pesan yang lebih besar tentang masa depan ekonomi desa.

BUMDes diharapkan tidak sekadar menjadi lembaga yang dibentuk karena tuntutan administratif. Ia harus mampu menjadi kendaraan ekonomi masyarakat desa, mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai tambah, kemudian mempertemukannya dengan pasar.

Festival Jawa Barat 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai kepentingan tersebut. Pengelola BUMDes dapat bertukar pengalaman, memperluas jejaring, serta membuka peluang kerja sama dengan pemerintah, perbankan maupun dunia usaha.

Ketua panitia yang juga Direktur Jaringan BUMDes Nasional (Jarsanas), Christian Kent, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam mengembangkan ekonomi desa. Menurutnya, pembangunan desa tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.

“Bukan lagi Superman, tetapi Superteam,” ujarnya.

Pesan tersebut terasa relevan dengan apa yang terjadi di Waduk Darma. Tutut mungkin hanya seekor keong sawah yang selama ini tumbuh di lingkungan pedesaan. Tetapi ketika masyarakat mampu melihatnya sebagai potensi, mengolahnya menjadi kuliner, mengemasnya sebagai atraksi, lalu mempertemukannya dengan wisatawan dan pasar, nilainya berubah.

Dari sesuatu yang sederhana lahir sebuah cerita tentang ekonomi desa.

Di tengah suasana festival, tutut seolah menjadi pengingat bahwa potensi besar tidak selalu datang dalam bentuk yang mewah. Kadang ia tumbuh di sawah, berada di sekitar rumah warga, atau hadir dalam makanan yang selama bertahun-tahun dianggap biasa.

Yang membedakan hanyalah cara melihat dan mengelolanya.

BUMDes Festival Jawa Barat 2026 di Waduk Darma akhirnya bukan hanya tentang tutut. Ia menjadi panggung untuk menunjukkan bahwa desa memiliki banyak cerita dan kekuatan ekonomi yang bisa dikembangkan, selama kreativitas, tata kelola, pasar, dan kolaborasi berjalan bersama.

Dan hari itu, di tepian Waduk Darma, seekor tutut berhasil naik kelas—dari makanan sederhana masyarakat desa menjadi magnet sebuah festival tingkat Jawa Barat.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.