Unsil Perkuat Pokdarwis Batukaras Lewat Wisata Ramah Muslim dan Digital Branding

17 Sep 2026, 05.31 WIB
WhatsAppSaluran
Unsil Perkuat Pokdarwis Batukaras Lewat Wisata Ramah Muslim dan Digital Branding
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Siliwangi bersama Pokdarwis dan masyarakat Desa Batukaras dalam kegiatan penguatan wisata ramah Muslim, pengembangan produk wisata, dan digital branding, Jumat, 7 Agustus 2026.CameraGentra.id/Istimewa

Gentra.id-PANGANDARAN — Pengembangan pariwisata tidak selalu dimulai dari membangun tempat baru. Di banyak destinasi, pekerjaan yang tak kalah penting justru berada pada bagaimana potensi yang sudah ada dikelola, dikemas, kemudian diperkenalkan kepada wisatawan dengan cara yang lebih menarik.

Persoalan itulah yang menjadi perhatian Universitas Siliwangi (Unsil) ketika melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jumat, 7 Agustus 2026.

Melalui tim dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Unsil, kegiatan tersebut melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Batukaras dan masyarakat setempat. Mereka tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga diajak berdiskusi mengenai potensi dan kebutuhan pengembangan pariwisata di wilayahnya.

Tema yang dibawa mencakup halal tourism literacy, tourism product development, dan digital branding. Tiga materi tersebut menjadi satu rangkaian untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola destinasi secara lebih informatif, menarik, dan ramah terhadap wisatawan.

Wisata Ramah Muslim Dimulai dari Kenyamanan

Salah satu pembahasan yang diberikan tim pengabdian adalah mengenai konsep wisata ramah Muslim. Istilah tersebut tidak ditempatkan semata-mata sebagai persoalan sertifikasi atau label halal, tetapi dikaitkan dengan kebutuhan wisatawan ketika berada di sebuah destinasi.

Informasi mengenai makanan halal, ketersediaan fasilitas ibadah, kebersihan, keamanan, kenyamanan hingga etika pelayanan menjadi bagian dari materi yang dibahas bersama peserta.

Ketua tim pengabdian Unsil, Anwar Taufik Rakhmat, mengatakan wisata ramah Muslim perlu dipahami sebagai bagian dari upaya menciptakan pengalaman perjalanan yang nyaman bagi wisatawan.

“Wisata ramah Muslim tidak hanya berbicara tentang halal atau tidak halal, tetapi juga bagaimana wisatawan mendapatkan rasa aman dan nyaman selama berada di destinasi. Karena itu, informasi mengenai makanan halal, fasilitas ibadah, kebersihan, keamanan, kenyamanan, sampai etika pelayanan perlu menjadi perhatian bersama,” kata Anwar.

Pemahaman tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi Batukaras sebagai kawasan yang memiliki beragam potensi wisata. Bagi pengelola destinasi, keberadaan potensi saja belum cukup jika wisatawan kesulitan mendapatkan informasi atau tidak mengetahui layanan yang tersedia.

Karena itu, peserta diajak melihat kembali berbagai unsur yang selama ini menopang kegiatan pariwisata di Batukaras. Potensi alam, aktivitas wisata, kuliner, homestay hingga usaha pendukung pariwisata dibicarakan sebagai bagian dari ekosistem yang dapat dikembangkan secara bersama.

Potensi Batukaras Dikemas Menjadi Pengalaman

Dari pembahasan mengenai potensi, kegiatan kemudian bergerak pada bagaimana potensi tersebut dikemas menjadi produk wisata.

Peserta berdiskusi mengenai kemungkinan menyusun aktivitas dan pengalaman wisata dalam bentuk paket yang lebih terarah. Di dalamnya termasuk penyusunan aktivitas, pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung hingga pembagian peran masyarakat dalam mendukung kegiatan tersebut.

Anwar mengatakan, kekuatan utama pengembangan wisata berbasis masyarakat terletak pada kemampuan masyarakat mengenali dan mengolah potensi yang ada di lingkungannya.

“Batukaras memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan menjadi produk wisata. Tantangannya adalah bagaimana potensi alam, aktivitas wisata, kuliner, homestay, dan usaha masyarakat itu dikemas menjadi sebuah pengalaman yang lebih terarah dan memiliki nilai bagi wisatawan,” ujarnya.

Pendekatan tersebut membuat pengembangan produk wisata tidak hanya berorientasi pada objek atau tempat yang dikunjungi. Aktivitas masyarakat, kuliner lokal, tempat menginap hingga layanan wisata dapat menjadi bagian dari pengalaman yang dirasakan pengunjung.

Pada saat yang sama, semakin banyak unsur masyarakat yang terlibat dalam sebuah produk wisata, semakin terbuka pula ruang partisipasi ekonomi bagi warga sekitar.

Ketika Batukaras Masuk ke Ruang Digital

Setelah membicarakan produk, persoalan berikutnya adalah bagaimana produk tersebut dikenal wisatawan.

Di tengah kebiasaan calon wisatawan mencari informasi melalui internet dan media sosial, kemampuan mengomunikasikan destinasi menjadi bagian penting dari pengelolaan pariwisata. Karena itu, digital branding menjadi salah satu fokus dalam kegiatan pengabdian Unsil.

Tim memberikan pendampingan mengenai penyusunan narasi destinasi, pembuatan konten, fotografi dan video sederhana, hingga pengelolaan informasi wisata melalui media sosial dan platform digital.

Peserta didorong memahami bahwa promosi digital bukan sekadar mengunggah foto. Konten juga perlu memberikan informasi yang membantu wisatawan membayangkan pengalaman yang akan mereka dapatkan ketika berkunjung.

Cerita mengenai aktivitas wisata, kuliner, homestay, fasilitas maupun karakter masyarakat lokal dapat menjadi bagian dari komunikasi destinasi.

Anwar menilai keterlibatan masyarakat dalam promosi digital juga penting karena merekalah yang berada paling dekat dengan aktivitas wisata sehari-hari.

“Masyarakat lokal harus menjadi bagian utama dalam pengembangan destinasi, termasuk dalam membangun citra Batukaras di ruang digital. Karena itu, kami mendorong Pokdarwis dan masyarakat tidak hanya mampu mengelola potensi wisatanya, tetapi juga mampu menceritakan dan mempromosikannya melalui media digital,” tutur Anwar.

Dengan demikian, digital branding ditempatkan sebagai bagian dari pemberdayaan, bukan sekadar strategi promosi.

Pokdarwis Menjadi Penghubung Potensi Masyarakat

Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari peserta. Pokdarwis Batukaras bersama masyarakat memiliki ruang untuk mendiskusikan kondisi pariwisata yang selama ini berkembang sekaligus melihat bagian-bagian yang masih membutuhkan penguatan.

Pelayanan wisata, pengemasan produk dan promosi digital menjadi sejumlah aspek yang dibicarakan. Dari proses tersebut, masyarakat dapat melihat kembali potensi yang selama ini mungkin sudah berjalan, tetapi belum seluruhnya terhubung menjadi sebuah pengalaman wisata yang utuh.

Peran Pokdarwis menjadi penting karena kelompok tersebut berada di antara potensi masyarakat dan kebutuhan pengembangan destinasi. Penguatan kapasitas pengelola diharapkan dapat membantu masyarakat mengembangkan pariwisata dengan pendekatan yang lebih terarah.

Bagi Unsil, pengabdian kepada masyarakat tidak cukup dilakukan melalui penyampaian materi satu arah. Diskusi, praktik dan pendampingan menjadi bagian dari proses agar pengetahuan yang diberikan dapat dikaitkan langsung dengan kondisi di lapangan.

Tim pengabdian yang terlibat terdiri atas Anwar Taufik Rakhmat, Dede Wahyu Firdaus, Dian Friantoro, Listia Andani, Akbar Rizqi Kurniawan, dan Feni Mustika Sari.

Melalui kegiatan tersebut, Unsil berharap kapasitas Pokdarwis dan masyarakat Desa Batukaras semakin kuat dalam mengelola potensi pariwisata secara mandiri dan berkelanjutan.

Wisata ramah Muslim, pengembangan produk dan digital branding pada akhirnya tidak berdiri sendiri. Ketiganya bertemu pada satu kebutuhan yang sama: bagaimana potensi yang dimiliki masyarakat Batukaras dapat dikelola, dikemas, dan dikomunikasikan sehingga wisatawan memperoleh pengalaman yang lebih jelas dan nyaman, sementara masyarakat lokal tetap menjadi bagian penting dari perkembangan destinasi.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.