1.280 Lulusan SMA, SMK, dan MA di Jabar Disiapkan Tembus Pasar Kerja Global

28 Agu 2026, 17.16 WIB
WhatsAppSaluran
1.280 Lulusan SMA, SMK, dan MA di Jabar Disiapkan Tembus Pasar Kerja Global
Sebanyak 1.280 lulusan SMA, SMK dan MA asal Jawa Barat lolos seleksi mengikuti Program SMK Go Global.CameraHumas Pemprov Jabar

Gentra.id-BANDUNG — Lulus sekolah bukan lagi sekadar soal mendapatkan ijazah. Bagi 1.280 lulusan SMA, SMK, dan MA di Jawa Barat, kelulusan kini menjadi pintu menuju tantangan yang lebih besar: memasuki dunia kerja yang persaingannya semakin terbuka, termasuk hingga pasar internasional.

Peluang itu hadir melalui Program SMK Go Global, sebuah program pelatihan yang disiapkan untuk membekali lulusan sekolah menengah dengan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja global.

Sebanyak 1.280 peserta dinyatakan lolos seleksi dan akan menjalani pelatihan di sejumlah lembaga vokasi di Jawa Barat.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menyiapkan sumber daya manusia muda Jawa Barat agar memiliki kompetensi yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri dan peluang kerja di luar negeri.

Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan, pelatihan tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis. Para peserta juga akan mendapatkan pembekalan bahasa dan penguatan mental agar lebih siap menghadapi lingkungan kerja global.

“Ini skema kolaborasi yang keren, di mana kementerian yang terkait dengan perguruan tinggi, pemerintah dan perguruan tinggi berkolaborasi untuk mempersiapkan anak-anak kita ikut di bursa kerja global melalui program SMK Global,” ujar Herman saat menghadiri Kick Off Pembukaan Program SMK Go Global di Universitas Teknologi Bandung (UTB), Kota Bandung, Rabu (26/8/2026).

Pelatihan tersebut digelar di sejumlah lembaga vokasi, di antaranya Balai Latihan Kerja Kabupaten Garut, Universitas Indonesia (UI), Migran Center Universitas Teknologi Bandung (UTB), Migran Center Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, STIKES Budi Luhur, serta Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) Bandung.

Materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja. Peserta mendapatkan pembekalan seperti operasional produksi, manufaktur, bahasa Inggris, serta keterampilan lain yang berkaitan dengan bidang pekerjaan yang akan mereka masuki.

Di UTB sendiri, sebanyak 180 lulusan SMA, SMK, dan MA mengikuti pelatihan teknis. Pesertanya berasal dari sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Barat, bahkan terdapat peserta dari Banjarnegara, Jawa Tengah.

Selain keterampilan teknis, mereka akan mendapatkan pelatihan bahasa Inggris, Korea, Jepang, operasional produksi, manufaktur hingga keperawatan.

Bukan Sekadar Pelatihan Dua Bulan

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan program tersebut tidak berhenti pada kegiatan pelatihan.

Herman menegaskan keberhasilan program harus dilihat dari manfaat yang benar-benar diterima peserta setelah pelatihan selesai. Dengan kata lain, ukuran keberhasilan bukan sekadar jumlah peserta yang mengikuti pelatihan atau terselesaikannya administrasi program.

“Harapannya bukan hanya formalitas pelatihan dua bulan, kemudian SPJ, karena ini anggarannya APBN. Tapi harus jelas output, outcome, benefit, impact,” tegas Herman.

Karena itu, peserta juga dipersiapkan agar memiliki pola pikir dan mental yang kuat. Bekerja di luar negeri, menurut Herman, membutuhkan kesiapan yang tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis.

“Pelatihannya harus super serius dan yang paling penting ada spirit dari anak-anaknya untuk maju. Pola pikirnya dibangun, mental model-nya harus diberdayakan, jangan pantang menyerah karena di sana itu berat,” katanya.

Bagi pemerintah, kesempatan bekerja di luar negeri juga diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman bagi anak-anak muda Jawa Barat. Penghasilan yang diperoleh nantinya diharapkan dapat membantu keluarga sekaligus menjadi modal ketika mereka kembali ke Indonesia.

Herman bahkan membuka kemungkinan peserta yang telah memiliki pengalaman dan tabungan cukup untuk pulang dan membangun usaha sendiri.

“Kalau di sana kariernya bagus, silakan. Kalau sudah punya tabungan, silakan kembali, jadi entrepreneur, jadi pengusaha di sini dengan modal yang memadai dan pengalaman kerja di luar negeri,” tuturnya.

Akses Menjadi Persoalan Penting

Program SMK Go Global juga memperlihatkan bahwa persoalan tenaga kerja tidak cukup diselesaikan hanya dengan membuka lapangan pekerjaan.

Menurut Herman, anak muda membutuhkan akses yang lebih luas untuk meningkatkan kemampuan, memperoleh pelatihan, mendapatkan permodalan, hingga memperoleh kesempatan penempatan kerja.

“Kalau semua orang punya akses untuk meningkatkan kapasitas, punya akses untuk mendapatkan permodalan, punya akses untuk bisa bekerja di mana pun, di dalam dan di luar negeri bahkan, saya kira anak-anak kita bisa bersaing. Yang penting aksesnya,” ujarnya.

Karena itu, Pemprov Jabar berencana memperluas pola kolaborasi tersebut. Perguruan tinggi negeri maupun swasta diharapkan ikut membuka akses pelatihan dan kesempatan kerja bagi generasi muda.

Jaringan perguruan tinggi swasta melalui Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) juga akan diperkuat.

Kolaborasi tersebut ditargetkan tidak berhenti di tingkat provinsi. Pemerintah ingin melibatkan 27 kabupaten/kota, 627 kecamatan, hingga 5.927 desa dan kelurahan.

Target besarnya adalah memastikan semakin banyak anak muda Jawa Barat memiliki akses terhadap peningkatan kompetensi dan kesempatan kerja.

“Kita akan kolaborasi dengan 27 kabupaten/kota, 627 kecamatan, 5.927 desa/kelurahan. Pokoknya kita akan kolaborasi dengan semua komponen, bahu membahu untuk memastikan Jabar 2029 itu tidak ada anak muda yang nganggur,” kata Herman.

Program ini merupakan kolaborasi Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) melalui Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran (BP3MI) Jawa Barat bersama pemerintah daerah dan perguruan tinggi.

Di tengah persaingan pasar kerja yang semakin terbuka, langkah tersebut menempatkan keterampilan sebagai modal utama generasi muda. Ijazah menjadi awal, sementara kemampuan teknis, bahasa, mental, dan akses terhadap dunia kerja menjadi bekal untuk menentukan sejauh mana mereka mampu bertahan dan berkembang.

Herman optimistis jika pola kolaborasi tersebut dilakukan secara konsisten, peningkatan kompetensi dan penempatan kerja generasi muda dapat ikut menekan angka pengangguran dan kemiskinan di Jawa Barat.

“Kalau ini konsisten dilakukan, pengangguran pasti turun, kemiskinan pasti turun,” pungkasnya.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.