6 Gunung Api Erupsi Hampir Bersamaan, Bagaimana dengan Status Galunggung, Ini Penjelasannya

8 Sep 2026, 12.12 WIB
WhatsAppSaluran
6 Gunung Api Erupsi Hampir Bersamaan, Bagaimana dengan Status Galunggung, Ini Penjelasannya
Staf Pos Pengamatan Gunung Api Galunggung, Gradita Trihadi, memantau aktivitas Gunung Galunggung melalui perangkat pemantauan di Pos Pengamatan Gunung Api Galunggung, Padakembang Tasikmalaya, Selasa (8/9/2026). Hingga saat ini, aktivitas vulkanik Gunung Galunggung masih berada pada Level I atau Normal.CameraGentra.id/Nanang AH

Gentra.id-TASIKMALAYA – Aktivitas gunung api kembali menjadi perhatian masyarakat. Dalam waktu yang berdekatan, enam gunung api di Indonesia tercatat mengalami erupsi. Fenomena tersebut kemudian memunculkan pertanyaan: apakah erupsi yang terjadi hampir bersamaan itu saling berkaitan?

Pertanyaan serupa juga muncul di Tasikmalaya. Ketika Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas erupsi, sebagian masyarakat mulai menghubungkannya dengan Gunung Galunggung.

Apakah aktivitas Anak Krakatau bisa memengaruhi Galunggung?

Jawabannya: tidak ada bukti yang menunjukkan hubungan langsung tersebut.

Staf Pos Pengamatan Gunung Api Galunggung, Gradita Trihadi, menjelaskan setiap gunung api memiliki sistem vulkaniknya masing-masing, termasuk sistem magma yang berada di bawah permukaan.

Karena itu, peningkatan aktivitas pada satu gunung tidak otomatis menyebabkan gunung api lain ikut mengalami peningkatan aktivitas.

“Setiap gunung api memiliki sistem vulkaniknya masing-masing, termasuk sistem magma di bawah permukaan,” jelas Gradita.

Penjelasan tersebut sejalan dengan keterangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, mengatakan enam gunung api yang mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026 merupakan fenomena dinamika vulkanik masing-masing gunung.

Enam gunung tersebut adalah Gunung Ibu di Maluku Utara, Semeru di Jawa Timur, Lewotobi Laki-laki dan Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Anak Krakatau di Selat Sunda serta Sinabung di Sumatera Utara.

Menurut Rita, Indonesia memiliki sekitar 127 gunung api aktif dan berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Kondisi tersebut memungkinkan sejumlah gunung api mengalami erupsi pada waktu yang berdekatan.

“Kalau bahasa sederhananya dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri,” kata Rita, seperti dikutip dari keterangan yang disampaikan kepada wartawan di Kompleks Badan Geologi Bandung.

Rita menegaskan PVMBG tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan pada 31 Agustus.

Artinya, fenomena enam gunung api yang mengalami erupsi dalam waktu berdekatan tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh gunung api Indonesia sedang menuju kondisi yang sama.

Galunggung Masih Level I Normal

Di tengah aktivitas vulkanik sejumlah gunung api tersebut, Gunung Galunggung justru masih berada dalam kondisi normal.

Berdasarkan pemantauan Pos Pengamatan Gunung Api Galunggung, status gunung yang berada di Kabupaten Tasikmalaya tersebut masih Level I atau Normal.

Tidak terdapat perubahan aktivitas signifikan yang menunjukkan Galunggung mengalami peningkatan aktivitas akibat erupsi Anak Krakatau.

Gradita mengatakan kondisi Galunggung masih relatif normal dan tidak menunjukkan adanya pengaruh langsung dari aktivitas Anak Krakatau pada awal September 2026.

Kondisi ini penting dipahami masyarakat karena Galunggung dan Anak Krakatau merupakan dua sistem vulkanik yang berbeda.

Meski sama-sama berada di Indonesia dan terbentuk dalam lingkungan tektonik yang dipengaruhi aktivitas lempeng, bukan berarti aktivitas satu gunung secara otomatis memengaruhi gunung lainnya.

Gradita memberikan contoh Gunung Papandayan dan Galunggung yang sama-sama berada di Jawa Barat.

Apabila aktivitas Papandayan meningkat, kondisi tersebut tidak otomatis membuat Galunggung ikut meningkat. Masing-masing memiliki karakter dan sistem vulkaniknya sendiri.

Galunggung Pernah Naik Status pada Tahun 2012

Meski saat ini masih tenang, Galunggung memiliki sejarah peningkatan aktivitas yang perlu dipahami masyarakat.

Pada 2012, terjadi perubahan aktivitas di danau kawah Galunggung. Saat itu muncul gelembung-gelembung di permukaan air danau.

Menurut Gradita, fenomena tersebut merupakan indikasi adanya pelepasan gas dari sistem vulkanik.

Pelepasan gas tersebut kemudian mengangkat material lumpur dari dasar danau sehingga warna air yang sebelumnya terlihat hijau berubah menjadi lebih kecokelatan.

Fenomena tersebut berlangsung sekitar dua hingga tiga bulan.

Pada periode itu, status Gunung Galunggung sempat dinaikkan dari Level I atau Normal menjadi Level II atau Waspada.

Setelah aktivitas kembali mereda, status Galunggung diturunkan menjadi Level I atau Normal.

Sejak saat itu, Galunggung tetap berada dalam pemantauan dan hingga kini statusnya masih Normal.

Pengalaman tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perubahan status gunung api dilakukan berdasarkan hasil pemantauan terhadap indikator vulkanik, bukan karena aktivitas gunung api lain yang berada jauh dari Galunggung.

Anak Krakatau Masih Jadi Perhatian

Sementara Galunggung berada pada Level I, kondisi Gunung Anak Krakatau berbeda.

Anak Krakatau masih menjadi perhatian karena aktivitas erupsinya meningkat dalam beberapa hari terakhir.

PVMBG mencatat episode erupsi menerus Anak Krakatau berlangsung sekitar 25 jam, sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Minggu (6/9/2026) dini hari. Setelah episode tersebut berakhir, aktivitas erupsi masih dipantau dan statusnya tetap Level III atau Siaga.

PVMBG juga menilai potensi letusan susulan masih ada. Bahaya yang perlu diperhatikan meliputi lontaran batu pijar dan hujan abu lebat, sementara masyarakat diminta mematuhi rekomendasi keselamatan serta tidak mendekati kawasan dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi.

Namun aktivitas Anak Krakatau tersebut tidak berarti Galunggung mengalami peningkatan aktivitas.

Yang perlu diantisipasi Tasikmalaya justru kemungkinan dampak abu vulkanik, apabila arah pergerakannya mencapai wilayah Jawa Barat.

BPBD Tasikmalaya Belum Temukan Abu Vulkanik

Hingga Senin (7/9/2026), BPBD Kabupaten Tasikmalaya belum menemukan adanya paparan debu vulkanik Anak Krakatau di wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Abdul Azis Riswandi, meminta masyarakat tetap waspada meskipun kondisi di lapangan masih normal.

BPBD juga menyiapkan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengantisipasi perkembangan situasi dan kemungkinan perubahan arah sebaran abu vulkanik.

Langkah tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan. Pemerintah tidak ingin menunggu sampai abu benar-benar turun untuk kemudian mengambil tindakan.

Bagi masyarakat, perbedaan antara aktivitas vulkanik Galunggung dan dampak sebaran abu Anak Krakatau perlu dipahami.

Galunggung tetap Normal.

Namun masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi mengenai kualitas udara dan kemungkinan sebaran abu dari Anak Krakatau.

Dinkes Ingatkan Risiko ISPA

Kewaspadaan terhadap abu vulkanik juga berkaitan dengan kesehatan.

Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya mencatat 97.629 kasus ISPA sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Namun Dinkes menegaskan angka tersebut tidak dapat langsung dikaitkan dengan erupsi Anak Krakatau.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Tasikmalaya, Otong Kusmana, mengatakan hingga kini belum menerima laporan peningkatan kasus ISPA yang disebabkan paparan abu vulkanik Anak Krakatau.

Kasus ISPA yang selama ini ditemukan lebih berkaitan dengan kondisi lingkungan, musim kemarau, debu dan asap akibat kebakaran hutan maupun lahan.

Meski demikian, masyarakat tetap diminta menjaga kesehatan saluran pernapasan.

Dinkes mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, terutama apabila kondisi udara mulai berdebu atau terjadi paparan abu vulkanik.

Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri apabila mengalami gangguan pernapasan yang semakin berat.

Jangan Hubungkan Semua Erupsi

Rangkaian aktivitas gunung api yang terjadi hampir bersamaan memang dapat menimbulkan kekhawatiran.

Tetapi pernyataan PVMBG dan hasil pemantauan PGA Galunggung memberikan satu pesan penting: erupsi sejumlah gunung api dalam waktu berdekatan tidak otomatis berarti gunung-gunung tersebut saling memicu.

Indonesia memang berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan memiliki banyak gunung api aktif. Karena itu, aktivitas beberapa gunung dalam waktu yang hampir bersamaan merupakan sesuatu yang mungkin terjadi.

Yang menentukan apakah sebuah gunung mengalami peningkatan aktivitas adalah hasil pemantauan gunung tersebut.

Untuk Galunggung, hasil pemantauan saat ini masih menunjukkan Level I atau Normal.

Gradita mengimbau masyarakat tidak panik menghadapi informasi mengenai aktivitas gunung api yang beredar, terutama informasi yang tidak jelas sumbernya.

Masyarakat dapat mengikuti informasi resmi Badan Geologi dan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung api.

Sebab, dalam situasi seperti sekarang, masyarakat membutuhkan dua hal yang berjalan bersamaan: tenang dan waspada.

Tenang karena tidak ada bukti bahwa aktivitas Anak Krakatau memengaruhi Galunggung.

Waspada karena aktivitas vulkanik tetap harus dipantau dan potensi dampak abu dari gunung api lain tidak boleh diabaikan.

Untuk saat ini, Galunggung masih level normal.

Tetapi sistem pemantauan tetap bekerja, pemerintah tetap bersiap, dan masyarakat perlu tetap mengikuti informasi resmi.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.